About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Kamis, 24 Maret 2011

Carrefour tale



Jadi ini kejadiannya tepat kemarin, setelah saya memutuskan untuk nggak langsung pulang ke rumah pulang dari kantor, tapi mampir dulu ke Carrefour ambassador. Nggak tau sih mau ngapain sebenernya, soalnya kalo belanja gitu-gitu baru beberapa hari yang lalu juga di tempat yang sama. Lebih karena pengen aja. Saya emang suka belanja di ranch market macem Carrefour atau Hypermart atau yah took lain semacam itu. Apa ya, seneng aja gitu dorong-dorong trolley diantara lorong terus masuk-masukin barang-barang ke trolley dari mulai barang yang emang dibutuhin sampe barang yang entah-kapan-bakal-dipakenya-tapi-nggak-tahan-untuk-ga-diambil.

Okeh cukup prolognya. Singkat kata singkat cerita (halah), di Carrefour itu saya berenti di tempat buah, tepatnya anggur. Jadi di situ udah banyak kotak-kotak steryofoam berisi anggur yang dibungkus plastic-wrap. Ukurannya macem-macem, ada yang nyampe sekilo ada juga yang nggak. Kalo nggak salah sih sekilo lagi 35 ribu-an gitu anggurnya yang jenis red globe (penting ngga sih ini dibahas? Ya anggap aja info lah ya).



Lalu mata saya menangkap tampilan buah yang lebih menarik : pir ijo di dekat-dekat situ juga. Pas diliat wow sekilo 19 ribu sahajah sodara sodara! Milih-milih pir lah saya. Tapi abis diliat pir-nya kayaknya nggak oke deh. dipikir-pikir kayaknya enakan anggur sih, jadi balik lagi deh ke booth anggur. Labil memang. Makanya saya seneng belanja ke Carrefour sendiri, abis nggak ada yang protes kalo ngiter berapa puteran juga. Yang capek kaki sendiri toh.

Di saat asyik masyuk khusyuk nunduk-nunduk milih anggur yang kira-kira seger-nggak penyet dan gak terlalu berat, datanglah serombongan mbak-mbak berbaju merah dan berkerudung putih, layaknya bendera Polandia tinggal dikerek di tiang bendera. Mereka ikutan milih-milih anggur itu deket-deket saya.
Abis itu dating lagi sesosok makhluk tinggi besar hitam berkumis berwibawa dan berpoloshirt warna krem menghampiri anggur-anggur yang sama. Dari penampakannya beliau sepertinya bukan jin. Hanya saja saya prediksikan sebagai orang India atau Malaysia turunan India. Untungnya Si Om itu nggak bau (biasanya orang Indihe ya you know lah). Males saya juga. Hehe

Tau-tau si Om itu ngomong sesuatu ke salah satu mbak berbaju bendera Polandia. Karena ngerasa bukan saya yang diajak ngomong, ya saya sih lanjutin aja milih-milih anggur. Yang ketangkep telinga Cuma ‘try’. Entah pengen nyicip ni anggur entah apa. Nggak terlalu merhatiin. Si mbak-mbak berbaju bendera Cuma dadah-dadah nggak ngomong apa-apa. Saya asumsikan si mbak pengen bilang “No.”

Abis itu si Om ngomong lagi, tapi entah ngomong apa karena (lagi-lagi) saya nggak merhatiin toh bukan saya yg diajak ngobrol. Dia Inggrisnya agak nggak jelas juga sih. Ya tau sendiri orang india logatnya gitu. Kalo anak SITH yang notabene waktu TPB pernah sekelas sama anak India-Malaysia pasti kebayang maksudnya logat Inggris-India kayak apa (selain kenyataan bahwa Indihe itu biasanya blunder, kalo ngomong ‘iya’ tapi kepalanya geleng-geleng. Acha acha. Nggak konsisten)

Dia terus ngomong sambil jarinya ngumpul berbentuk kuncup, dan kepalanya goyang-goyang. Kebayang? Yah, sejenis gerakan tina toon lah. Nggak sih, nggak separah itu. Tapi cukup ekspresif.
Sampai akhirnya si rombongan mbak berbaju bendera Polandia pergi sambil bilang ‘ah nggak ngerti.’ Bahkan mereka nggak ngambil sekotak anggur pun! Dasar nggak bertanggung jawab, udah mencet-mencet anggur nggak beli! Lah kok saya yang sewot?!

Tinggal lah saya dan si Om Indihe di sekitaran anggur. Berbekal kesotoyan, saya bilang aja, “Sorry, Sir. You can’t taste this grape. It’s already packed.”
“You know, I need spice, like cinnamon, pepper…”

Oh ternyata si Om nyari bumbu toh!
“I guess it must be someplace near the meat or vegetables section. But I’m not sure. Why don’t you ask shopkeepers around here. They’re everywhere.”

Si Om jawab putus asa, “They can’t speak English.”

Karena kasian, yaudah saya bilang deh, “Okay then. Wait a sec, I’ll ask him for you.” sambil nunjuk salah satu mas-mas Carrefour yang lagi bawa popmie.

Saya samperin lah si mas Carrefour itu. “Mas, mas tempat bumbu-bumbu yang udah jadi gitu di mana ya?”
Si mas Carrefour nunjukin tempatnya.

Selesai dapet info, balik lagi lah saya ke arah Si Om. Perasaan waktu saya ninggalin si om beberapa detik yang lalu, di situ Cuma ada seonggok Om-Om India tinggi besar item kumisan deh, kok sekarang jadi nambah satu lelaki india lagi, yang Alhamdulillah sih jauh lebih enak dipandang. Eh, jauh banget malah. Masih muda pula. Kirain ada Dev Patel nyasar ke ambassador. Kalo iya mo saya ajakin joget Jai Ho. Halah.

Si Om liat saya balik, sumringah gitu. “Hey! I met my son. Thank you.” Terus mereka pergi ke arah yang bener (sesuai yang dikasih tau si mas Carrefour ke saya), padahal saya belom kasih tau si Om.

Oh, kayaknya si Om tadi sejenis anak ilang deh. Cuma kebalik. Dia orang tua ilang. Mungkin tadi dia sama anaknya (si dev patel) yang kerja atau kuliah di Indonesia ini, terus misah, dan si Om berinisiatif nyari bumbu, tapi nggak ada orang yang bisa ditanya. Ya oloh Om kesian amat.

Misah di situ, eh tau-tau saya ketemu lagi sama si om dan anaknya. Si Om itu heboh nunjukkin belanjaan bumbunya, “Look at here. I’m looking for this, and this, and all of this.” Sambil ngeluarin bungkusan cengkeh, ketumbar, kayumanis, sama apaaa gitu entah (ketauan ga tau bumbu gini saya. hahehe)

“Good then, Mister, finally you find what you’re looking for.”
“Thank you for helping me.”
“Nevermind. Happy shopping!”
“See you!”

Dipikir-pikir kalimat ‘happy shopping’ yang saya sebut itu kok jatohnya jadi kayak online shop gitu ya. Tinggal pake ‘sist’ atau ‘bro’ ajah hahaaha..

Jadi inti cerita ini apa sodara-sodara?
Moral of this story is : jangan dulu antipati sama Om-om tinggi besar item berkumis, karena----karena eh karena----siapa tau anaknya ganteng.
Halah.



-udah lama nggak nyampah-

Kamis, 03 Februari 2011

insomnia



Aku tak bisa tidur malam ini. Kau tahu? Sindromnya berupa mata menutup semenit, lalu terbuka kembali sampai berjam-jam kemudian. Nyalang.
Sampai bisikan itu dating, menjalar dari rongga dada ke telinga, “Tulislah, sebelum kau tak mampu menampungnya.”

Maka kali ini aku menuruti bisik yang sebut saja sebagai bisikan hatiku sendiri itu. Mungkin benar apa yang dikatakannya, bahwa aku tak akan mampu menampung gelegak yang berarak ini sendiri. Setidaknya kertas dan goresan pena mungkin mau mengerti.

Sebut saja ini gejala yang baisa ketika orang terjatuhi cinta. Terlalu pagi untuk mengganti kata ‘kamu’ dengan apa yang kusebutkan terdahulu. Namun apa yang membuatku tak bisa terpejam menembus kelam adalah bayangmu yang sesekali mampir membuat mataku minta terbuka, entah kenapa. Padahal bukankah seharusnya dalam gulita mimpi, kamu akan lebih mudah untuk menghampiri? Mungkin justru kuharap sebaliknya : kamu bukanlah mimpi seperti jerami yang tertiup selepas bersentuh dengan ani-ani. Kamu menjelma nyata, dan jelas-jelas memberi sensasi yang teraba.

Lihat! Bahkan aku belum bercerita tentang bagaimana caramu tertawa, tapi paragraf yang kubuat sudah lebih dari dua. Belum lagi caramu bicara yang sangat apa adanya. Meski begitu entah kepercayaan dari mana yang mendorongku untuk yakin kamu tak seberantakan kelihatannya. Di balik kepala yang tertutup gumpalan helai rambut lucu itu, kamu pintar dan cerdas—hal yang bisa membuatku terpekik ‘You’re so damn hot!” meski dalam hati—.

Maka pintaku pada Tuhan malam ini, jika Dia tancapkan panah-panah berduri pada rongga dadaku sebelah kiri, tolong jangan biarkan panah itu tak terkoneksi pada rongga di tubuhmu tempat bersemayamnya hati.

Minggu, 23 Januari 2011

Sepotong Kue Tanpa Adonan Terigu. Hanya Kata dan Setumpuk Doa


Selamat malam, ibu..
Kali ini aku tak akan menanyakan kabarmu, karena aku benar-benar tahu ibu baik-baik saja. Bahkan aku bisa pastikan sedang apa Ibu sekarang. Tentu saja, karena kita hanya terpisah puluhan anak tangga dalam satu atap yang sama meski dalam ruangan yang berbeda. Aku ditemani televisi yang meraung berisi acara mencari bakat-bakat membosankan, sementara Ibu, pasti sedang memandangi layar 14 inchi kesayanganmu dan mengetik ini-itu yang entah apalah itu. Bisa saja itu potongan hasil interview, atau jurnal-jurnal, atau laman milis teman kuliah? Entah.
 
Taukah ibu, saat ini aku seperti sedang merapal mantra. Tidak, tidak berhubungan dengan perdukunan atau apapun semacam sulap dan magic ala Dedi corbuzier—lelaki aneh hobi pake eyeliner itu—. Bukan. Bukan itu. Aku hanya sedang mengundang barang seribu-dua ribu kata dari susunan dua puluh enam aksara untuk bisa menulis surat ini untukmu.
Untuk apa? Ah, ya sedang mau saja.
 
Oke baiklah aku mengaku. Ini untuk ulang tahunmu. Masih ingat setahun lalu aku buat surat juga untuk Ibu? Kalau boleh kuberi tahu, kali ini membuat surat semacam itu sudah sangat sulit untukku. Entah karena otakku yang membeku atau jari ini tak terlalu lincah lagi menerjemahkan apa yang ingin kusemburkan tepat dari sumur yang paling dalam—hatiku, untukmu—. Tidak tahu.
 
Jadi malam ini, sengaja kubuka balkon lebar-lebar, terduduk (sok) manis di atas bangku dan memelototi bintang yang hanya satu-dua kutemukan. Maksudnya merangsang otak dan jari agar singkron membusakan kata-kata. Sayang sekali bu, kutunggu semenit-dua menit-tiga menit-sampai sepuluh menit selanjutnya, hasilnya tetap nihil juga. Jadi aku kembali ke dalam dan memilih nongkrong saja memandangi layar putih microsoft word di depanku. Ya seperti begini ini.
 
Inspirasi memang susah diundang, pun susah diusir ketika datang dengan tidak sopannya. Maka kali ini mari berterima kasih foto lama yang menggantung di dinding dekat pintu balkon rumah kita. Ada fotomu bersamaku di usiaku yang belum mencapai angka dua. Betapa melihat itu, tiba-tiba dadaku terpenuhi haru. Bahwa seharusnya aku bersyukur pada Sang Pencipta, karena sampai saat ini ibu masih bersamaku, menghirup udara dari lapisan atmosfer yang sama (meski kadang terpisah beberapa kilometer jauhnya antara Bandung-Jakarta), menyesap teh di pagi hari, membaca koran dan mengomentari film-film tak bermutu di televisi, dan segudang hal lain yang kadang luput aku syukuri. Terima kasih bahwa Tuhan masih memberi izin ibu menjadi saksi bumi mengelilingi mentari untuk ke empat puluh delapan kali.
 
Yang kupahami selama ini adalah bahwa waktu itu tidak berjalan. Ia berlari, dan tak mengenal kata kembali. Maka tugas kita adalah maju dan tak menengok lagi. Hanya saja kali ini aku ingin sedikit merefleksikan ibu dalam mata anakmu yang baru dua puluh dua kali menemanimu berulang tahun di bumi.
 
Ibu,
Dari mata ibulah aku tahu indahnya konstelasi. Seindah itu nyala semangat yang ibu simpan dan tularkan pada semesta raya, pada aku yang kadang semangatnya terjun bebas dengan sempurna lebih dari kecepatan air terjun niagara. Tidak berlebih jika kusebut nyala mentari terpancar dari matamu setiap hari.
 
Ibu, batariku..
Terima kasih untuk setiap untai doa yang bahkan aku tak tahu sebanyak apa.
Dan di hari ini, tepat saat ibu memperingati hari saat Tuhan mengizinkan tubuhmu merasakan sentuhan udara planet ini, biarkan aku yang mendoa, agar ibu selalu sehat, bahagia, dan diberkahi setiap detiknya. Seperti halnya unsur hara, maka ibu, aku, kita, dan semua makhluk-Nya sedang meniti satu garis yang akhirnya berujung juga. Semoga apa-apa yang ibu inginkan di dunia, serta kehidupan setelahnya dapat terwujud dengan sempurna.
 
Jika boleh aku meminta, jangan dulu henti mengiringku berlari. Jangan dulu lelah menemaniku menanjaki hari yang terjal dan tak berpelangi, jangan dulu bosan menemaniku merintis tumpukan mimpi diantara gerimis dan tangis.
Dan untuk setiap harap yang ibu titipkan di genggamanku tapi belum Tuhan amin-I, kumohon bersabarlah. Sekuat doa yang ibu kirimkan untukku di setiap akhir sujud-sujud panjangmu, sekuat itu pula aku akan mencoba berusaha menyajikan apa yang ibu pinta ke hadapan mata.
 
Bintang terhebat di pusat jagadku...
selamat bertemu lagi dengan mentari ke- tujuh belas ribu lima ratus tiga puluh dua! Tetaplah tersenyum untuk menyapa ribuan mentari lainnya, bersamaku.
 
 
With love, and tons of kisses
 
Teteh.
 
 

Selasa, 21 Desember 2010

Unfinished jigsaw


Jakarta, 20.47

Denting-denting cangkir yang beradu dengan sendok pengaduk sudah tak lagi terdengar. Tawa-tawa dalam berbagai tingkatan volume sudah tak lagi tertangkap telinga. Di kedai kopi sederhana di ujung jalan yang cukup sepi itu kini hanya tersisa puluhan gelas kotor yang menumpuk seakan mengantri minta dicuci. Seorang pelayan yang bertugas berjaga sampai kedai itu tutup masih sibuk merapikan meja-meja sebelum akhirnya menghampiri wastafel dan menghela nafas melihat tumpukan pekerjaan yang menanti di depan matanya.

Jauh di seberang kedai kopi itu, di depan sebuah toko 24 jam berlogo huruf ‘K’ berwarna merah menyala berdiri seorang pemuda tanggung berjaket tipis dengan bagian kapucon yang disangkutkan ke kepala. Ia tak sendiri, tapi bersama seorang perempuan berambut pendek setengkuk yang juga berjaket—hanya saja tidak dilengkapi kapucon--. Mereka lalu beranjak masuk ke dalam toko kecil itu. Penjaga toko 24 jam menyambut mereka dengan kalimat ‘selamat datang’ yang sudah terprogram seperti layaknya robot yang distel oleh Sang pemilik untuk berbunyi sesuai perintah.

Si lelaki berkapucon mengambil gelas kertas di samping coffee maker machine di pojok ruangan toko.
“Kamu mau minum apa?”
“Mmm…” si perempuan tampak menimbang-nimbang. Matanya menelusuri daftar pilihan minuman yang tertempel di samping tombol-tombol yang siap ditekan di mesin minuman itu.
“Milo panas?” si lelaki bertanya.
“Espresso.”

Si lelaki mengangguk, lalu menekan tombol sesuai pilihan yang baru saja dibuat perempuan di sampingnya itu. Cairan hitam pekat meluncur deras ke dalam gelas kertas yang ditempatkan tepat di saluran pengalir dalam kotak pembuat minuman. Hitam yang legam, seperti warna hitamnya iris mata perempuan di sampingnya, yang bisa membuatnya seperti tersedot dalam lubang hitam tanpa bosan berlama-lama terlarut dalam legam sihir matanya. Hitam yang disertai asap panas, sepanas gelegak yang ditahan-tahan lelaki itu dalam hati selama ini.

Padahal perempuan itu bukan penyihir. Bukan juga wajan berminyak bergolak ataupun panci berair mendidih. Bukan. Ia hanya perempuan yang kebetulan dinamai Arimbi oleh orang tuanya, yang kebetulan dengan cara yang ia sendiri tak mengerti, sanggup membuat lelaki berkapucon bernama Dherma itu tergila setengah mati, meski secara sembunyi-sembunyi.

Dherma menyodorkan gelas berisi espresso yang belum ditambah gula ke tangan Arimbi. Sementara Arimbi menambahkan gula dan mengaduk isi gelasnya, sebelah tangan Dherma mengambil gelas kertas lain dari tumpukan, lalu menekan tombol yang sama : espresso.

“Aku yang bayar, Mbi.” Di depan kasir, Dherma menahan tangan Arimbi yang merogoh tasnya, seperti mencari dompet.
“Beneran nih nggak pa-pa?”
“Kopi doang sih masih mampu.” Dherma nyengir, tanpa sengaja memamerkan taring gingsulnya.

“Terima kasih banyak. Semoga kembali lagi ke sini.” Ucap pelayan toko seusai memberikan uang kembalian pada Dherma, lagi-lagi dengan kalimat yang seperti terprogram.

Dherma dan Arimbi menggenggam gelasnya masing-masing dan berjalan keluar. Mereka menghampiri sebuah kursi panjang di dekat dinding parkiran toko. Arimbi menangkupkan kedua tangannya ke sekeliling badan gelas, seperti ingin menyerap panasnya, mengalahkan angin malam yang hari ini bertiup lebih menggigit dari biasanya.
“Jadi—apa kabar?” Dherma bertanya.
“Aneh deh. Nggak ada pertanyaan yang lebih kreatif? Kamu tau bener jawabannya apa.” Arimbi menggeleng-geleng sambil tertawa kecil. Sesekali ia meniup minumannya dari lubang kecil penutup gelas kertas dalam genggamannya.
Dherma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ya abis mau nanya apa lagi.”
“Kelamaan nggak ketemu ya kita? Berapa lama sih? Dua taun ada ya?”

Dherma mengangguk tanpa menjawab. Padahal ia hafal betul bahwa mereka sudah tiga tahun empat bulan dua belas hari tidak bertemu. Sedetail itu Dherma mengingat? Iya. Sedetail Dherma mengingat dengan betul jajaran alis yang membingkai mata Arimbi, sedetail Dherma mengingat baju yang dikenakan Arimbi ketika terakhir mereka bertemu : kemeja kotak kecil bernuansa biru laut.

“Sibuk apa kamu sekarang?” Arimbi memulai ‘wawancara’.

Lalu mereka mulai bicara tentang apa saja, tentang ini-itu dan hal lain sebagainya. Mungkin tidak dari A sampai Z, tapi tetap saja membuat Dherma kembali mengingat urusannya dengan Arimbi yang belum pernah terselesaikan sejak dulu. Sejak dirinya terus menolak kenyataan yang diantarkan kepalanya bahwa hatinya telah tercuri Arimbi. Sejak dirinya terus tak mengakui dan menafikan kenyataan bahwa sebenarnya Arimbi bisa saja dia miliki, andai saja dia tak terlalu pengecut untuk mengambil satu langkah yang sebenarnya tak susah. Sampai akhirnya Arimbi pergi saat harus kuliah di kota lain, sementara keberanian itu tak juga terbit bibir dari Dherma.

Dan itu sudah tiga tahun lalu. Kalau nasi tentu sudah basi. Kalau wine mungkin sudah terfermentasi lebih mantap lagi.
Sekarang mereka bertemu lagi dalam suasana yang tentu sudah tak sama. Hanya satu mungkin yang tak sama : degup dada Dherma yang masih berketuk dengan lebih cepat secara berirama saat ada di sekitar Arimbi. Yang mungkin saja Arimbi tak tahu. Atau pura-pura tak tahu. Ah, entahlah.

Pertemuan ini yang membuat Dherma seperti menemukan keeping-keping jigsaw yang telah ia hancurkan sendiri beberapa tahun lalu. Layaknya balita menatap mainan kesukaan mereka, Dherma pun seolah merasakan hal yang sama : muncul niatnya merapikan potongan-potongan jigsaw itu ke bentuk seharusnya. Tentu saja dengan konsekuensi meninggalkan mainan baru yang sedang disusunnya. Maka saat di tengah obrolanya dengan Arimbi sebuah panggilan telepon masuk, Dherma melihat ke layar handphone-nya ragu-ragu.

Farah is calling…


Ia lalu menekan “reject”.

“Kok ga diangkat?” Arimbi menunjuk handphone di tangan Dherma dengan dagu.
Dherma memasukkan handphone ke kantong celananya, setelah sebelumnya menyetel mode suara ke ‘silent’.
“Nomer nggak kenal. Nggak penting. Mmm—Sampe mana kita ngobrol tadi. Mbi?”

Lalu Dherma kembali tersedot dalam pusaran yang sama : legam mata Arimbi. Sementara jauh dari tempat Arimbi dan Dherma kini berada, Farah menatap layar handphone penuh tanda tanya.

Sabtu, 18 Desember 2010

Postingan Sehari Setelah 1 Muharam

Kemarin adalah Tahun Baru Islam yang super menyenangkan buat saya. Saya janjian sama Neno,nama sebenarnya--mantan teman sekantor yang sekarang udah resign dan bahkan udah dapet tempat kerja baru--. Tanpa ada rencana mau ngapain, kita janjian di Pejaten Village sekitar siangan, setelah si Neno nyalon potong rambut. Udah tuh. Makan, ngobrol-ngobrol segala macem. Berhubung si Neno puasa, dia ga makan, saya doang yang makan. Jaahahahhah. Jadi biar ga mubazir nge-mall-nya saya sama Neno memutuskan untuk nonton sajah. Nonton apa? Narnia 3D, sodara-sodara. Iya, yang nontonnya pake kacamata itu loh *kalimat super norak

Udah dapet tiket (beli jam 3an buat yg jam 5), kita berdua jalan-jalan lah di penvill daripada busuk nunggu di XXI. eh taunya pas turun escalator, saya ketemu temen lama, yang dulu sekelompok waktu OSKM (OSPEK)! Dwi namanya. Dia anak geologi. Saya dan Dwi ini dibilang deket-deket banget juga nggak sih sebenernya, tapi cukup deket waktu jaman OSKM karena kemana-mana bareng. Kebeneran dulu saya di Kanyakan, si Dwi di Dago Pojok. Bahkan dulu saya pernah minjem kemeja flannel nya Dwi. Yaudah, ngobrol sebentaaarr banget (Cuma sejenis apa kabar-kerja dimana-sama siapa-mau ngapain) dsb, abis itu bubar kan sama si Dwi, karena ternyata dia sama temen-temennya yang lain (anak ITB juga, tapi saya ga ketemu temen-temennya sih) mau nonton cenah, tapi Harry Potter.

Udah tuh…
Sampai nonton, ga ada hal amazing lain. Selesai nonton (jam tujuh lewat-an) saya kan pengen pipis. Jalan lah ke arah toilet bioskop. Pasti penuh dong, itu WC bioskop. Tau-tau di lorong sebelum pintu toilet saya ketemu ANANDAYU which is my best best friend dari Bandung! Ga jadi lah pipisnya

Ya ampuuuun gilaaaaa! Saya sama ayu peluk-pelukan kaya teletubbies. Yakin deh semua orang sempet melirik ke kami karena ya tau sendiri mulutnya gabisa dikontrol kalo ketemu.
“ayuuuu!”
“Icuuuuttt!”
Serasa XXI milik pribadi jojorowokan (jejeritan). Yah adegannya mirip TKW pulang ke Indonesia ketemu sama emaknya. Yang mana yang TKW yang mana yang emaknya ga usah ditanya, ga penting.
Lama banget ga ketemu ayu. Beberapa kondangan di Bandung saya ga bisa dateng soalnya. Yang ada training lah, yang emang gabisa pulang ke Bandung lah. Pokoknya susaaaah buat ketemu. nggak susah banget-banget juga sih kalo dunia maya diitung ‘ketemu’. Wong bbm-an ampir tiap hari di group. Tapi kan sensasi nya beda kalo ketemu langsung. Bisa peyuk peyuk *unyu mode*, pegang-pegang, raba-raba –eh kesannya kok mesum—ya gitu lah…Cerita-cerita gimana aja sekarang, aplikasi ke ADS dia sama Ines sama Wawa gimana (yg ternyata failed juga). Terus kmaren si Ayu sama Ines kan sempet nanya-nanya jalan ke Jatinangor itu caranya gimana abis keluar tol ke saya. Ternyata mereka ikut seminar apaaa gitu di jetinenjer. Abis itu kita ngomongin pengen liburan.

Iya bangeeeet pengen bangeeeet! Kangen banget sama batu karas!
Ayu ngajak taun baruan, tapi belom tau ke mana. Cuma memang kita gabisa formasi lengkap lagi karena anak-anak udah pada nyebar. Si Ayu, Ines, Au di Bandung, Yuda di Bogor, Wawa di Bintaro, Fuady+Lia di Bekasi, Malendra+Saya+Zikri di Jakarta, Olin di Tangerang, Si Rafi di Hamburg (kumaha carana ti Hamburg balik ke sini buat taun baruan? Ga mungkin kaleee mending juga di Jerman main salju). Ya emang sih nyebarnya ga jauh-jauh amat kecuali Rafi, tapi tetep aja, semua jadwal idupnya udah beda. Kerjaan beda, lokasi beda. Terus lagian kata si ayu, kemungkinan Au gabisa diajak taun baruan, soalnya Radian—pacarnya Au, dokter yang berbulan-bulan kemaren bertugas di Papua—udah balik ke Bandung. Si Au pasti sama Radian, taun baruan dijamin nge-charge. Zzzzz,,,

Abis itu si Ayu ngajakin ke ujung genteng aja sebelum taun baru, which is liburan Natal. Semoga jadi…semoga jadi. Lama sekalski nggak mantai. Palingan yg nyetir si Yuda kali. Kecuali Malendra, Fuady sama Zikri ikut. Ga mungkin cewe2 yang disuruh nyetir soalnya medan-nya susah cenah (cenah da saya belom pernah ke ujung genteng. Kesian deh)

Neno terpaksa dikacangin, walaupun akhirnya saya kenalin juga ke Ayu. Kebetulan Neno itu temen kampusnya Rangga, pacar dari Wawa—salah satu genggong saya juga—sempit eh dunia?

ayu ternyata ke Penvil ini sama kembarannya (iye, dia kembar), Asti, yang skarang kerja di Cikarang. Terus sama sodara-sodaranya juga karena kebetulan salah satu sepupunya yang dari Jerman balik ke Indo, dan langsung ngajak main aja gitu. Si Ayu yang statusnya lagi free (yaiyalah wong hari libur) ya pasti langsung hajar main ke Jakarta. Dan berkat tangan Tuhan, saya dan dia dipertemukan dengan cara yang tidak terduga, di lorong menuju toilet (keterangan tempat kok merusak suasana ya). Kami berpisah pas ayu harus masuk ke studio. Kita nonton film yang sama Cuma jam nya yang beda. Saya jam 5, si ayu jam 7. Saya keluar, jeda sebentar, dia masuk. Ya gitu lah…
Bahagiaaaa deh rasanya. . coincidence 

Tapi bangun-bangun, sekarang ini, saat ini, saya mendadak sedih. Bukan apa-apa, tapi justru karena saya ngerasa udah kehilangan banyak hal yang dulu bisa bikin saya sangat menikmati hidup. Sahabat-sahabat, kehidupan kampus, pahit-manisnya 4 taun di kampus (walo kalo dipikir-pikir banyakan manisnya), berikut ga punya pacar. Ngok.
Oke iya lebay dan kedengeran kurang bersyukur memang. Saya bukan korban banjir, bukan korban tsunami, bukan korban gempa, gunung meletus, atau bencana alam lain. Saya juga masih punya kehidupan yang nggak bisa dibilang buruk-buruk amat. Saya punya pekerjaan, punya keluarga utuh harmonis, ga kekurangan uang atau apa. But still, I’m suffering in this loneliness. Jangan tanya soal kantor. Buat saya kantor emang Cuma buat kerja, ga diaduk sama sosialisasi di luar. Yah, pertemannan memang perkara cocok-cocokan. Di kantor sih nggak ada yang sebegitu klik-nya buat diajak temenan beneran (kecuali Si Neno yang kmaren saya ketemu itu. Itu pun udah resign kan dia). Di kantor ada juga memang member sosialita yang uwiw gayanya sejutaaaa (semilyar kali). Isinya Mahmud-mahmud (mamah muda) pleus seus-seus yang hobinya ajep-ajep, buang uang, dan pamer. In contrast, yang cupu super juga ada. Yang seumuran juga banyak sih, tapi tetep : ga klik. We are not on the same wavelength. Oh shit.
I’m missing my old times. #ingsreuk

Udah ah, kalo terus-terusan ditulis, bisa mewek beneran. Dunia nyata emang pait. See ya my blog! #ambil anduk #mandi
Catatan di suatu pagi dalam sebuah kamar, di rumah nenek, Jakarta Selatan.

Kamis, 09 Desember 2010

Mata Angin

“Jadi yang mana, Mbak?”
Pelayan toko eskrim yang berdiri di belakang etalase refrigerator kaca itu berkacak pinggang, menatapku dengan alis yang sebelah mengangkat. Dasar pelayan tak sopan! Berani-beraninya bersikap begitu di depan pelanggan.

“Bentar. Bentar.”

Mulutnya berdecak mendengar jawabanku barusan.
“Mbak, saya udah nanya sekitar enam kali. Mbak mau eskrim yang mana. Rasa apa, berapa scope, atau paket yang mana.” Nada bicaranya sudah mulai naik satu tingkat lebih tinggi dari terakhir kali dia bertanya.

“Terus? Ada aturannya mesti enam kali ditanya dan saya harus bilang saya mau milih apa?”

Sepertinya pelayan yang satu itu kehilangan kesabarannya. Dia meninggalkan tempat itu sementara rekan kerjanya langsung mengambil alih tugasnya, memasang senyum yang dipaksakan. Kali ini seorang wanita.

“Silakan, Mbak. Dipilih.”
“Ng…yang mana ya? Ng…” Lagi-lagi aku bingung melihat jajaran kotak-kotak berisi eskrim aneka rasa di depanku.

Di gerai eskrim dalam salah satu mall terkemuka ini, kebetulan sejak tadi hanya ada aku yang setia mematung sampai kini, sementara sisanya duduk manis di kursi-kursi bermeja bundar.

“Mbak, saya mau pesan!” Tiba-tiba di sampingku berdiri seorang lelaki kurus berbaju polo putih. Sepertinya dia seumuran denganku, di kisaran dua puluh awal. Ah, tapi mungkin dia baru belasan akhir. Atau jangan-jangan masih brondong? Saat ini banyak wajah-wajah yang menipu memang, tak sesuai umur. Ah tidak penting! Toh aku tak tahu siapa dia. Tentu saja kami tidak saling mengenal, karena barusan itu ia bicara dengan pelayan toko eskrim, bukan denganku.

Wanita pelayan toko es krim yang bernama Arini—tercantum di bet nama di seragam kerjanya—mengangguk sopan ke arahku, “Mbak silakan lanjutkan memilih, saya melayani mas ini dulu ya!”

“Oke.” Jawabku singkat.

Lalu mereka bertransaksi. Aku tak memperhatikan apa yang dipesan mas-polo-putih itu. Arini masuk ke balik pintu di belakangnya, bagian dapur toko. Sepertinya lelaki di sampingku ini memesan cukup banyak karena tak lama kemudian Arini kembali dengan membawa beberapa kotak yang siap diisi eskrim-eskrim.

“Bingung ya, mbak?” suara laki-laki itu terdengar.
Aku menoleh, takut-takut pertanyaan itu bukan buatku. Ternyata dia benar-benar bertanya padaku, bukan pada Arini si pelayan toko.

“Eh. Iya.”
“Kenapa nggak verry berry strawberry?” ia menunjuk gundukan eskrim pink
“Terlalu manis.”
“Kenapa nggak Chocolate?”
“Terlalu pait.”
“Kenapa nggak oreo cookies and cream?” ia menunjuk lagi gundukan eskrim putih bertabur biscuit coklat diantaranya.
“Rasanya nggak karu-karuan.”
“Maunya yang gimana?”

Sempat aku berpikir sejenak, sampai akhirnya menjawab, “Nggak tau.”
“Hah? Serius nggak tau yang kamu mau?”
Aku mengangguk.

“Gak suka terlalu manis, nggak suka terlalu pait, nggak suka yang aneh-aneh, dan nggak tau pengennya yang gimana.”

“Kalo dicampur semua?”
“Kamu pikir saya mixer?! Campur-campur. Rasanya pasti nggak enak!”
“Loh, belum dicoba udah underestimate.” Dia lalu beralih menunjuk ke arah refrigerator kaca. “Mbak, tolong buat campur ini-ini-sama ini.” Setelah itu menunjukku, “Buat mbak ini.”

“eh sembarangan. Enggak mbak! Saya nggak mau dicampur-campur begitu.”
“Saya yang bayar.” Mas-polo-putih itu menambahkan.
“Kamu pikir saya nggak mampu bayar?! Pokonya saya nggak mau!”

Pelayan toko bernama Arini itu menoleh sekali ke arahku lalu ke lelaki itu. Kepalanya menggeleng mengikuti arah pembicaraan, seperti orang sedang menonton bulu tangkis.
“Jadi gimana ini? Pesenan mas sudah saya bungkus, ini kembaliannya. Mbak jadinya pesen apa?” Arini akhirnya bicara. Ia menyodorkan pesanan mas-polo-shirt dan uang kembalian,

“Pilihan memang diciptakan untuk dipilih. Dan semua ada enak dan enggaknya. Tergantung selera. Nggak ada yang punya takaran yang sama dalam hal itu, begitu juga standarnya, pasti beda. Pait, manis, nggak karu-karuan, atau apapun kalau sudah dipilih ya dinikmati saja, toh?” Lelaki itu bicara panjang lebar sambil mengambil bungkusan dan memasukkan uang sisa ke dalam saku jeans-nya.

“…”
“Kamu pilih mint chocolate chips aja. Kepala kamu kebanyakan mikir. Butuh yang dingin-dingin. Trust me.”

Sok tau!

Ia lalu melengos, tapi sebelum pintu toko dibuka, ia sempat menoleh dan aku tertangkap sedang terus memandanginya dengan tatap sebal.
“In case kamu mau tau nama saya…” dia mendekat, menjulurkan tangannya.

Mau tak mau aku menjabat tangan itu, hanya demi alas an kesopanan.

“Mata Angin.”
“Apa?”
“Nama saya Mata Angin.”

Pantesan aneh, namanya aja aneh!

“Aneh ya?”
“Enggak sih biasa aja.”
“Bohong. Mata kamu nggak mesti melotot kalo nggak nganggep nama saya aneh. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Anehan kamu sih…milih es krim aja lama, gimana milih jalan hidup?”

Lalu lelaki yang mengaku bernama Mata Angin itu berbalik, membuka pintu toko lalu keluar. Benar-benar meninggalkan toko itu tanpa sekali pun menoleh lagi.

Siapa sih? Tiba-tiba muncul. Pake ceramah! Namanya aneh lagi! Sok kenal.heuh..

“Jadi pesen apa, mbak?” suara Arini memecah kekesalanku pada Si Mata Angin.

Kamu kebanyakan mikir. Terngiang lagi kata-kata Mata Angin. Aku merasa tertampar.

“Mbak?”
“Oke. Oke. Mint chocolate, satu.”

Entah perasaanku saja atau bukan, tapi sempat kulihat Arini menghela nafas. Mungkin dia lega akhirnya akan lepas dari customer labil sepertiku.

Terserah lah. Yang jelas hari ini aku sukses dibuat penasaran oleh sosok bernama Mata Angin.

Mata Angin, dari arah mana kamu datang? Ke arah mana kamu pergi?

Bahkan kompas pun tak bisa menjawab.

Rabu, 01 Desember 2010

Toilet tale


Kejadian hari ini di toilet kantor. Bermula saat saya pengen pipis dan tentu saja menuju toilet. Sebagai gambaran, toilet di gedung kantor saya tepatnya lantai saya itu adalah toilet yang bisa digunakan tidak hanya oleh staff sini, tapi juga oleh pengunjung yang bukan orang gedung sini, tapi sudah punya kartu id VISITOR buat melewati scanner gates. Nah, toilet perempuan di lantai ini entah kenapa WC-nya cuma satu. Jadi begitu masuk toilet, kita akan nemuin jajaran wastaferl, dan satu bilik WC sahajah.

Nah, waktu saya masuk toilet, di depan jajaran wastafel kebetulan di dalem lagi ada Nelly, salah satu temen kantor yang juga lagi ngantri.

Saya : Udah ke toiletnya, Nel?
Nelly: belom..
Lalu kami ngobrol ke sana-sini ngomongin orang. bababahahahha
Lama-lama kok dipikir-pikir lama amat yah orang yang di dalem bilik WC. Abis itu si Nelly nyeletuk, "duh, sakit perut nih gue"

Spontan saya histeris, panik, jungkir-balik dan gelisah *oh, lebay. enggak. enggak gitu kejadiannya. saya cuma bilang, 'yah Nel, jangan boker di sini plis..abis lo pake kan WCnya gue pake. Di lantai tiga aja gih..."
Lalu keajaiban terjadi.
hidung kami menangkap aroma-aroma jengkol, pete, dan sejenis itulah menyeruak entah dari mana.

Nelly : kok bau yah?
Saya : eh, iya iya...bau warteg gini ya...

Abis itu terdengar suara flush kenceng dari dalem WC.
Saya dan Nelly berpandang-pandangan. Saya memandang Nelly, Nelly memandang Saya. Alis berkerut, mulut merengut, hidung ditutup.

Nelly bersabda, "Lo duluan deh ke WCnya."

Sementara itu nggak lama, seorang ibu-ibu keluar dari WC terkutuk itu. Si ibu itu nyamperin wastafel dan bilang, "iya yah, bau yah! Tadi tuh pasti orang sebelumnya yang pake!"
setelah cuci tangan, si ibu keluar dari WC.

Nelly sama saya masih pandang-pandangan. Dikasih lagu india dikit pasti joget nih kita berdua.
Nelly : Boong abis tuh..alibi tu ibu-ibu...tadi gue masuk belum bau. Sana gih lo duluan.

Dengan berat hati saya masuk ke WC itu. tapi urung pipis karena males mendaratkan pantat di WC bekas boker orang. Saat itu memang niat saya ada dua : pipis dan benerin tali...ya tali itu lah...copot sebelah soalnya.
Kenapa bisa copot jangan tanya. Saya juga ga ngerti. Longgar kali.. (ah yeee brarti kurusan :p)

yaudah lah...
intinya, moral ceritanya adalah...buanglah air pada tempatnya. TANPA BIKIN ORANG MENDERITA.

Rabu, 17 November 2010

tiba-tiba




haaaaaahhhh... #menghela nafas panjang

setelah sekian lama males posting, karena ga ada waktu dan ga ada ide juga mo nulis apaan *alibi, padahal mah males*, well akhirnya hari ini saya putuskan menodai blog ini lagi dengan huruf-huruf.
bukan puisi, bukan cerpen, cuma bahasan ringan aja, berhubung saat ini di kantor lagi sepi kerjaan. Magabut, guys...makan gaji buta. Jadi, demi prioduktivitas waktu, mendingan ngeblog sajo..

Berhubung ini ampir akhir tahun, jadi mari kita bahas tentang tahun ini (2010).

Saya bukan tipe orang yang punya target di saat pergantian tahun terjadi, seperti pada umumnya orang-orang. Banyak kan yang pas akhir tahun menjelang taun baru bikin list panjang-panjang hal-hal apa aja yang mesti dicapai di tahun depan. Semacem wish-lists. Sayang seribu sayang, saya mah ga suka bikin begituan.
Bahkan kalo boleh jujur seumur hidup saya baru beberapa kali 'merayakan' yang namanya 'new year's eve'. Selebihnya banyakan dilewati di depan tivi yang menyuguhkan acara heboh panggung-panggung ibukota, yang isinya band-band yang entah dibayar berapa (mahal kali). Itu juga seringnya bukan saya yang nonton tivi, tapi kebalik : saya ditonton tivi, karena ketiduran pas counting-down.
Emang buat saya ga begitu spesial sih ganti tahun. Ga tau deh kenapa. You can call me nerdy becoz of my-thought, but anyway, that's mine not yours.

Oke. balik lagi ke fokus tadi : bahas tahun 2010. Jadi ya, setelah dipikir-pikir taun ini (2010) adalah taun yang bisa dikasih judul 'tiba-tiba' di hidup saya. Banyak ketiba-tiba-an yang terjadi, bahkan tanpa bisa saya prediksi di tahun sebelumnya. Peta hidup juga agak berubah (kalo ga mau dibilang amburadul ga sesuai rencana). Those are :

>> Tiba-tiba saya jadi pegawai bank.
Meeeennn...nggak pernah sedikitpun terlintas di benak saya sebelumnya seumur hidup saya (lebay) bahwa someday saya bakal mencicipi rasanya jadi pegawai bank. Nggak nyambung banget sama latar belakang pendidikan. Kerjaan dateng begitu aja seusai saya lulus kuliah, itu pun berkat iseng masukin CV waktu ada jobfair di kampus (bahkan saat itu belom ngantongin ijazah).
Well, posisi nya memang ga mengikat, dan justru karena itulah dulu ini kerjaan saya ambil. Kenapa? karena waktu awal tahun 2010 itu saya masih dalam tahap nunggu kepastian beasiswa Jepang. Rencananya gini : saya kerja dulu sebagai pengisi waktu, abis itu pas pengumuman beasiswa keterima, saya resign dari kerjaan ini dan fokus kembali ke studi master saya.

Well, seperti kata pepatah : manusia hanya merencanakan, Tuhan yang menentukan.
Rencana saya amblesss ancurrr seketika waktu ternyata pengumumannya menunjukkan saya ga lulus buat beasiswa Jepang itu. Patah hati? pasti. Tapi ya sudahlah...masih banyak lembaga lain yang bisa saya jadikan target buat jadi sponsor studi saya. Saya masih berusaha. Orang tua juga masih terus mendukung buat nyari beasiswa lainnya supaya bisa cepet lanjutin sekolah. Saya masukin ke beberapa, dan sepertinya Tuhan belum mengizinkan saya lagi karena bahkan saat saya masuk nominasi 100-besar Panasonic Scholarship, saya nggak tau! pemberitahuan lewat emailnya ternyata masuk folder SPAM, dan saya baru nyadar setelah deadline pengumpulan berkas ke negara tujuan terlewati.
Patah hati lagi? Pasti. Super duper lebih double. Temen-temen saya yang juga beberapa masuk ke dalam nominasi nggak ada satupun yang memberi kabar. Oke iya saya ngerti ini persaingan. Dan mereka nggak salah. Saya yang kurang tanggap, kurang gesit. Oke. hidup adalah perkara persaingan. Tapi saya percaya, semua orang ditakdirkan untuk jadi 'pemenang' karena pada dasarnya kita adalah makhluk yang terbentuk dari bibit yang terpilih : sperma tangguh yang bisa menyingkirkan jutaan sperma lain dan telur yang matang. *mulai melenceng*

Baiklah, sebelum semakin melanglangbuana pembicaraannya, lebih baik saya loncat ke ketiba-tibaan lainnya :

>> Tiba-tiba saya ngirim naskah novel saya yang pernah laku di pasaran dunia per-note-an facebook. Bulan Juni ngirim, taunya setelah 4 bulan menunggu, yang saya dapet bukan berita bahagia. Yang ada malah bete. Naskah saya ditolak. huhuhuhuhuhu... bete super. Padahal saya ngerasa tulisan saya udah cocok sama si penerbit, karena pada dasarnya saya penggemar berat buku-buku terbitan mereka, jadi rasanya car nulis dan gaya saya udah se-tone sama mereka. Tapi, seperti kata pemred mereka : mencari penerbit seperti mencari jodoh. Mesti cocok segalanya.
Oke, saya baca 'surat cinta' dari penerbit itu dengan hati yang lapang (dilapang-lapangin sih sebenernya). Itu pun gak langsung saya baca setelah paket penolakan itu diterima, tapi saya baca setelah sekitar seminggu setelahnya, kira-kira setelah saya bisa menerima kenyataan *tsaaahhh*

>>Tiba-tiba saya ikutan tes cpns ini-itu.
Dulu, ga ada sedikitttt puun kebayang bakal mau jadi PNS. ya walaupun sampe sekarang juga belom ada yg nyangkut a.k.a jebol tetep aja dari dulu itungannya nggak pernah kebayang bakal ikut berjibaku dengan ribuan orang buat ngedapetin kursi pns. Ini semacem trial-and-error sih, soalnya taun lalu kan belom bisa ikutan. hahaha...jadi nothing to lose sebenernya. iseng-iseng berhadiah. kalo dapet ya dapet, kalo nggak yowis. (Lagian kaga ada duitnya ye PNS :p)


>>Tiba-tiba saya kepikiran hal-hal yang taun kemaren belom kepikiran, semacem urusan jodoh. *hoaaaaaaaaa nulisnya aja malu* Jodoh di sini definisinya bukan sekedar pacar yah...maksudnya, mm lebih ke pasangan untuk masa depan *tssaaahhh bahasa gueee*
Iya, itu. Status 'tanpa pasangan prospektif 'yang awalnya ga menyiksa ini, kok sekarang jadi serangan balik buat diri sendiri. Waktu lebaran misalnya, keluarga udah menunjukkan gelagat nanya-nanya 'mana calonnya'. ebuseng...umur saya baru dua dua tanteeeee...
untung dari pihak keluarga ibu maupun ayah masih ada sepupu yang umurnya di atas saya yang juga belum menikah (DAN cewek). berarti untuk saat ini saya 'aman' dulu deh.
Kayaknya posisi 'aman dari teror pertanyaan' itu akan cuma bertahan sampe taun depan karena si eteh (kaka sepupu yang masih jadi 'tameng' itu akan nikah taun depan) o-m-g.


ya sudahlah..being 20 something is never be so easy.

too many options, too many crossroads...
too many questions, too many concealed thought.

diantara ketiba-tibaan itu pasti terselip hikmah yang kalo dpikir-pikir mungkin bakal berguna juga buat pendewasaan diri saya *tsaaahhh...ampuuun bahasanya*
Udah dulu ah. nanti disambung lagi. mungkin.

ciao!