About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Tampilkan postingan dengan label sastra a'la saya aja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra a'la saya aja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Maret 2012

(un)faithful

“Halo?” Perempuan bertampang kusut itu menjawab panggilan di telepon genggam yang sudah berdering sekitar 5 kali, setelah sebelumnya menyeka ingus yang mengalir deras.

“Yaelah, masih aja?” suara perempuan satunya di seberang sambungan telepon sana terdengar berkomentar tanpa basa-basi.

“Apanya yang masih?”

“Mewek-mewek telenovela.”

“Ini flu.”

“Berani tarohan nggak, kalo bohong masuk neraka paling jahanam dari segala jenis neraka?”

“Gak cukup ya idup gue mirip neraka sampe masih harus disumpahin? Baik banget deh lo.” Perempuan berwajah kusut yang sebenarnya berparas cantik itu memutar bola matanya, skeptic, lalu melempar tubuhnya sendiri ke atas spring bed bersprei biru langit.

“Ya nggak gitu, maksud gue. Ya udah sih, nggak usah dinangisin terus. Buang-buang energi.”

“Daripada gila.”

“You are.”

“Ya gimana nggak gila gue, Nes, bayangin aja…ketipu tau nggak sih ini judulnya?! Lo tau kan gimana gue cinta mati sama Willy…”

Lalu mengalirlah cerita dari bibir tipis perempuan berwajah kusut bernama Rissa itu setengah emosi, pada telinga sahabat wanitanya di ujung telepon sana, Vanessa. Cerita yang berulang-ulang dikeluhkan Rissa dalam narasi yang berbeda sekitar seminggu ini membuat Vanessa hampir hafal urutan ceritanya. Ia bahkan sempat mengambil gelas di dapur dan mengisinya dengan air dari galon, baru kemudian menempelkan lagi gagang telepon ke kupingnya, sementara Rissa masih dengan menggebu-gebu bicara tanpa henti seolah ada kuping Vanessa mendengar semuanya, padahal tidak.

“Nes, denger gue gak sih? Kok diem aja?”

“Denger kok, denger. Ya abis mau komentar apa lagi coba? Kan udah dibilang, udah deh, move on.”

“Move on gampang. Yang susah Let Go!”

“Mulai deh, berfilosofi.” Kini giliran Vanessa memutar bola matanya, mengempaskan tubuhnya, kali ini ke sofa mini di samping ranjangnya.

“Ya gue juga nggak mau begini sebenernya. Si brengsek itu emang bener-bener kurang ajar. Bisa-bisanya nyolong hati gue sejauh ini. Demi perempuan lain yang sampe sekarang belom gue tau siapa. Shit.”

“Yakin banget sih kalian bubar gara-gara perempuan lain. Ada buktinya?”

“Pasti, Nes. Intuisi gue yang bilang. Dan itu jarang salah. Satu diantara seratus lah palingan salahnya. Kali ini gue rasa bener. Kalo sampe, gue nemu tu cewek…”

“Mau diapain? Digampar? Dijambak? Lah…yang brengsek kan bukan perempuan itu, Sa. Tapi laki lo. Lagian, pertanyaan selanjutnya : emang lo udah bener-bener usaha mempertahankan Willy? Coba lo tanya diri lo sendiri : sudahkah lo jadi tempat berlabuh yang tepat buat Willy sampe dia nggak perlu cari pelabuhan lain?”

“Lo kok jadi belain Willy?! Jadi belain perempuan itu?” Nada bicara Rissa meninggi.

“Perempuan yang belom tentu ada.” Vanessa mengoreksi, lalu melanjutkan, “Listen to me, dear Rissa. You deserved better. I guarantee.”

“Lo bilang gitu karena lo gak tau rasanya, Nes. Gue pikir Willy orangnya. Yang terakhir.” Rissa memelankan suaranya, sudah terlalu lelah dengan matanya yang memberat.

“Yang ternyata bukan. Oh well, inget deh Sa, orang datang di hidup kita nggak melulu sebagai anugerah, tapi sesekali juga Cuma sebagai pelajaran. In this case, Willy is the second one.”

“Lo beruntung ya, Nes… punya Danar.”

“Yes, I do. Tapi kita nggak pernah tau dengan siapa kita akan berakhir. Jodoh, itu masih misteri.”

Bel apartemen Vanessa tiba-tiba berbunyi. Ia melirik jam di samping kasurnya. Jam 11 malam. Perlahan ia membuka pintu, lalu mendapati seseorang berdiri di depan sana. Matanya membulat, buru-buru mendaratkan telunjuknya ke bibir sang tamu, pertanda larangan bersuara.

“Sa, mendingan lo sekarang istirahat ya…jangan nangis-nangis lagi. Besok kerja kan?”

“Dunno. Gue gak enak badan.”

“Ya udah. I’ll call you later ya!”

“Thanks ya, beibo.”

“Nevermind. Nitey nite, darla…”

KLIK.

Vanessa membalikkan badannya dengan disambut pelukan hangat tamu yang sudah masuk dan mengunci pintu.

“Kangen kamuuu, sweetheart…”

“So do I, sugar…” Willy mendaratkan sebuah kecupan pelan di bahu Vanessa.

Sementara itu, Rissa memandang layar smartphone nya setengah merasa bersalah.

Danar : Cha, mau aku bawain KFC ke sana? Kamu belum makan dari siang, sayang…

Kamis, 03 Februari 2011

insomnia



Aku tak bisa tidur malam ini. Kau tahu? Sindromnya berupa mata menutup semenit, lalu terbuka kembali sampai berjam-jam kemudian. Nyalang.
Sampai bisikan itu dating, menjalar dari rongga dada ke telinga, “Tulislah, sebelum kau tak mampu menampungnya.”

Maka kali ini aku menuruti bisik yang sebut saja sebagai bisikan hatiku sendiri itu. Mungkin benar apa yang dikatakannya, bahwa aku tak akan mampu menampung gelegak yang berarak ini sendiri. Setidaknya kertas dan goresan pena mungkin mau mengerti.

Sebut saja ini gejala yang baisa ketika orang terjatuhi cinta. Terlalu pagi untuk mengganti kata ‘kamu’ dengan apa yang kusebutkan terdahulu. Namun apa yang membuatku tak bisa terpejam menembus kelam adalah bayangmu yang sesekali mampir membuat mataku minta terbuka, entah kenapa. Padahal bukankah seharusnya dalam gulita mimpi, kamu akan lebih mudah untuk menghampiri? Mungkin justru kuharap sebaliknya : kamu bukanlah mimpi seperti jerami yang tertiup selepas bersentuh dengan ani-ani. Kamu menjelma nyata, dan jelas-jelas memberi sensasi yang teraba.

Lihat! Bahkan aku belum bercerita tentang bagaimana caramu tertawa, tapi paragraf yang kubuat sudah lebih dari dua. Belum lagi caramu bicara yang sangat apa adanya. Meski begitu entah kepercayaan dari mana yang mendorongku untuk yakin kamu tak seberantakan kelihatannya. Di balik kepala yang tertutup gumpalan helai rambut lucu itu, kamu pintar dan cerdas—hal yang bisa membuatku terpekik ‘You’re so damn hot!” meski dalam hati—.

Maka pintaku pada Tuhan malam ini, jika Dia tancapkan panah-panah berduri pada rongga dadaku sebelah kiri, tolong jangan biarkan panah itu tak terkoneksi pada rongga di tubuhmu tempat bersemayamnya hati.

Selasa, 21 Desember 2010

Unfinished jigsaw


Jakarta, 20.47

Denting-denting cangkir yang beradu dengan sendok pengaduk sudah tak lagi terdengar. Tawa-tawa dalam berbagai tingkatan volume sudah tak lagi tertangkap telinga. Di kedai kopi sederhana di ujung jalan yang cukup sepi itu kini hanya tersisa puluhan gelas kotor yang menumpuk seakan mengantri minta dicuci. Seorang pelayan yang bertugas berjaga sampai kedai itu tutup masih sibuk merapikan meja-meja sebelum akhirnya menghampiri wastafel dan menghela nafas melihat tumpukan pekerjaan yang menanti di depan matanya.

Jauh di seberang kedai kopi itu, di depan sebuah toko 24 jam berlogo huruf ‘K’ berwarna merah menyala berdiri seorang pemuda tanggung berjaket tipis dengan bagian kapucon yang disangkutkan ke kepala. Ia tak sendiri, tapi bersama seorang perempuan berambut pendek setengkuk yang juga berjaket—hanya saja tidak dilengkapi kapucon--. Mereka lalu beranjak masuk ke dalam toko kecil itu. Penjaga toko 24 jam menyambut mereka dengan kalimat ‘selamat datang’ yang sudah terprogram seperti layaknya robot yang distel oleh Sang pemilik untuk berbunyi sesuai perintah.

Si lelaki berkapucon mengambil gelas kertas di samping coffee maker machine di pojok ruangan toko.
“Kamu mau minum apa?”
“Mmm…” si perempuan tampak menimbang-nimbang. Matanya menelusuri daftar pilihan minuman yang tertempel di samping tombol-tombol yang siap ditekan di mesin minuman itu.
“Milo panas?” si lelaki bertanya.
“Espresso.”

Si lelaki mengangguk, lalu menekan tombol sesuai pilihan yang baru saja dibuat perempuan di sampingnya itu. Cairan hitam pekat meluncur deras ke dalam gelas kertas yang ditempatkan tepat di saluran pengalir dalam kotak pembuat minuman. Hitam yang legam, seperti warna hitamnya iris mata perempuan di sampingnya, yang bisa membuatnya seperti tersedot dalam lubang hitam tanpa bosan berlama-lama terlarut dalam legam sihir matanya. Hitam yang disertai asap panas, sepanas gelegak yang ditahan-tahan lelaki itu dalam hati selama ini.

Padahal perempuan itu bukan penyihir. Bukan juga wajan berminyak bergolak ataupun panci berair mendidih. Bukan. Ia hanya perempuan yang kebetulan dinamai Arimbi oleh orang tuanya, yang kebetulan dengan cara yang ia sendiri tak mengerti, sanggup membuat lelaki berkapucon bernama Dherma itu tergila setengah mati, meski secara sembunyi-sembunyi.

Dherma menyodorkan gelas berisi espresso yang belum ditambah gula ke tangan Arimbi. Sementara Arimbi menambahkan gula dan mengaduk isi gelasnya, sebelah tangan Dherma mengambil gelas kertas lain dari tumpukan, lalu menekan tombol yang sama : espresso.

“Aku yang bayar, Mbi.” Di depan kasir, Dherma menahan tangan Arimbi yang merogoh tasnya, seperti mencari dompet.
“Beneran nih nggak pa-pa?”
“Kopi doang sih masih mampu.” Dherma nyengir, tanpa sengaja memamerkan taring gingsulnya.

“Terima kasih banyak. Semoga kembali lagi ke sini.” Ucap pelayan toko seusai memberikan uang kembalian pada Dherma, lagi-lagi dengan kalimat yang seperti terprogram.

Dherma dan Arimbi menggenggam gelasnya masing-masing dan berjalan keluar. Mereka menghampiri sebuah kursi panjang di dekat dinding parkiran toko. Arimbi menangkupkan kedua tangannya ke sekeliling badan gelas, seperti ingin menyerap panasnya, mengalahkan angin malam yang hari ini bertiup lebih menggigit dari biasanya.
“Jadi—apa kabar?” Dherma bertanya.
“Aneh deh. Nggak ada pertanyaan yang lebih kreatif? Kamu tau bener jawabannya apa.” Arimbi menggeleng-geleng sambil tertawa kecil. Sesekali ia meniup minumannya dari lubang kecil penutup gelas kertas dalam genggamannya.
Dherma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ya abis mau nanya apa lagi.”
“Kelamaan nggak ketemu ya kita? Berapa lama sih? Dua taun ada ya?”

Dherma mengangguk tanpa menjawab. Padahal ia hafal betul bahwa mereka sudah tiga tahun empat bulan dua belas hari tidak bertemu. Sedetail itu Dherma mengingat? Iya. Sedetail Dherma mengingat dengan betul jajaran alis yang membingkai mata Arimbi, sedetail Dherma mengingat baju yang dikenakan Arimbi ketika terakhir mereka bertemu : kemeja kotak kecil bernuansa biru laut.

“Sibuk apa kamu sekarang?” Arimbi memulai ‘wawancara’.

Lalu mereka mulai bicara tentang apa saja, tentang ini-itu dan hal lain sebagainya. Mungkin tidak dari A sampai Z, tapi tetap saja membuat Dherma kembali mengingat urusannya dengan Arimbi yang belum pernah terselesaikan sejak dulu. Sejak dirinya terus menolak kenyataan yang diantarkan kepalanya bahwa hatinya telah tercuri Arimbi. Sejak dirinya terus tak mengakui dan menafikan kenyataan bahwa sebenarnya Arimbi bisa saja dia miliki, andai saja dia tak terlalu pengecut untuk mengambil satu langkah yang sebenarnya tak susah. Sampai akhirnya Arimbi pergi saat harus kuliah di kota lain, sementara keberanian itu tak juga terbit bibir dari Dherma.

Dan itu sudah tiga tahun lalu. Kalau nasi tentu sudah basi. Kalau wine mungkin sudah terfermentasi lebih mantap lagi.
Sekarang mereka bertemu lagi dalam suasana yang tentu sudah tak sama. Hanya satu mungkin yang tak sama : degup dada Dherma yang masih berketuk dengan lebih cepat secara berirama saat ada di sekitar Arimbi. Yang mungkin saja Arimbi tak tahu. Atau pura-pura tak tahu. Ah, entahlah.

Pertemuan ini yang membuat Dherma seperti menemukan keeping-keping jigsaw yang telah ia hancurkan sendiri beberapa tahun lalu. Layaknya balita menatap mainan kesukaan mereka, Dherma pun seolah merasakan hal yang sama : muncul niatnya merapikan potongan-potongan jigsaw itu ke bentuk seharusnya. Tentu saja dengan konsekuensi meninggalkan mainan baru yang sedang disusunnya. Maka saat di tengah obrolanya dengan Arimbi sebuah panggilan telepon masuk, Dherma melihat ke layar handphone-nya ragu-ragu.

Farah is calling…


Ia lalu menekan “reject”.

“Kok ga diangkat?” Arimbi menunjuk handphone di tangan Dherma dengan dagu.
Dherma memasukkan handphone ke kantong celananya, setelah sebelumnya menyetel mode suara ke ‘silent’.
“Nomer nggak kenal. Nggak penting. Mmm—Sampe mana kita ngobrol tadi. Mbi?”

Lalu Dherma kembali tersedot dalam pusaran yang sama : legam mata Arimbi. Sementara jauh dari tempat Arimbi dan Dherma kini berada, Farah menatap layar handphone penuh tanda tanya.

Rabu, 22 September 2010

Old times reminder



Pernahkah kamu mengunjungi tempat yang dulu rasanya sangat lekat di kepala, hati, dan bahkan matamu setelah bertahun-tahun meninggalkannya?
Baiklah, kuralat. Tidak perlu bertahun-tahun, tapi anggap saja cukup lama untuk membuatmu merasa terasing ketika kembali menjejakkan kakimu di sana, dan menghirup aroma udara di sekitarnya.
Pernah?

Maka anggap saja kali ini aku sedang bernostalgia, berdiri pada sebuah bangunan yang tidak bisa dibilang tua karena seperti baru beberapa waktu lalu direnovasi, tapi tetap kuyakini sebagai gedung tua karena pada dasarnya ia telah berumur lebih dari angka lilin kue ulang tahunku yang berjumlah dua puluh dua.

Anggap saja kali ini aku sedang mendatangi sekolah dasar kita yang dulu pernah menyaksikan perjalanan enam tahun beratus anak-anak usia lima sampai belasan. Tempat kita dulu diperkenalkan pertama kali pada bangun datar, bangun ruang, majas-majas, puisi, prosa, karawitan, hokum alam, Newton, Disney, wayang golek, cerdas-cermat dan lain sebagainya.

Seperti yang sudah tadi kubilang di awal, rasanya begitu asing, dan berbeda.

Maka kini aku sedang merasakan itu semua saat akhirnya setelah beberapa tahun melanglangbuana pada dunia yang berbeda, akhirnya kita kembali bertatap muka. Kamu dengan aku. Aku dengan kamu.


“Apa kabar?”
Itu kalimat pertama yang kamu lontarkan saat mata kita beradu terlalu lama untuk dibiarkan menggantung tanpa kata.

Seperti halnya orang asing yang ditanya pertanyaan standar begitu, jawabanku pun pendek saja, “Baik.”

“Lama ya, nggak ketemu?”

Sejujurnya aku ingin mendorong kepalamu keras-keras saat mendengar lanjutan kalimat basa-basi yang kamu ciptakan baru saja,tapi apa mau dikata, bahkan sepertinya aku harus mendorong kepalaku sendiri dulu, karena lagi-lagi menjawab seperti orang kekurangan kosakata, “Iya.”

“Mmm…”
“Hmm…”

Lalu kita saling melempar senyum. Senyum, bukan tawa. Ada canggung yang kentara, hening yang memberi jeda. Jarak kita berdiri pun menjabarkan segalanya : bahwa kita sudah terlalu jauh dipisahkan waktu, hingga bahkan pori-pori kulit kita sudah tidak saling mengenal satu sama lain. Padahal dulu…
ah ya sudahlah.

Entah apa yang membuatku tak bergerak untuk mengakhiri pertemuan tidak bermutu ini. Sayangnya satu yang harus diakui, ternyata jauh di hati kecilku, aku menginginkan pertemuan ini. Bahkan lebih dari itu, aku mengharapkan yang terjadi lebih dari sekedar pertemuan dua orang asing, tapi pertemua dua orang yang saling merindu.

Terlalu.
Aku kebanyakan meracau.


Kamu sudah berubah. Mungkin aku pun begitu di matamu. Ada gurat dewasa yang jelas terpahat dari wajah-wajah kita yang semakin matang. Tidak ada lagi seragam yang membungkus tubuh, tidak ada lagi buku yang dipeluk di dada. Kita telah dibesarkan oleh waktu.

Maka saat kamu meminta kontakku kembali sambil berkata, “Baiklah, kita kenalan lagi saja.", kutanya balik,
"Seperti orang asing?"

Lalu kamu mengangguk mantap.
"Halo, gue Fahri."

Kamu berhasil menarik bibirku naik tersenyum kecil.
Baiklah, stranger...aku mau tau siapa kamu yang baru.

Rabu, 16 Juni 2010

Hujan



Sebagian orang menyukai hujan. Katanya hujan itu romantis, membuat rileks, menyejukkan, menenangkan atau apalah itu segudang alasan lain yang mengarah pada hal-hal manis-manis gulali. Hujan itu jodohnya coklat panas, sweater, musicplayer, buku, kaca yang berembun, dan pikiran yang melanglangbuana, penuh inspirasi dan romansa.

Ck! sok filosofis!

Aku tak suka hujan. Hujan itu merepotkan, membatasi ruang dan menurunkan akselerasi pergerakan. Lihat saja, setiap hujan jalanan menjadi becek, orang-orang malas keluar, yang tak berpayung lebih memilih diam menunggu, motor-motor menepi, mobil-mobil menurunkan kecepatan, pengemudi terpaksa harus menyetir dengan konsentrasi tinggi. Menyusahkan saja.

Seperti sekarang, hujan di luar sana.
Benang-benang air mengucur deras seperti memang awan-awan menangisi sesuatu. Tidak bersama petir memang, makanya Aku bisa santai-santai saja duduk di dekat kaca kamar, memandang ke luar, walaupun sebenarnya tak ada yang bisa dipandangi selain jalanan komplek yang basah dan daun-daun dari pohon milik tetangga yang bergoyang dipermainkan angin.

Pelan-pelan Aku meniup permukaan susu coklat panas yang mengepul dari cangkir hitam di tanganku. Gumpalan asap itu membuyar berpisah saat angin yang kutiupkan menyentuh mereka. Tepat saat tenggorokanku sedang dimanjakan hangatnya susu coklat, sebuah pesan masuk terdengar dari handphone. Segera kubuka dan kubaca isinya,

From : SiBotski
Lg sbuk g Neng? Main yuk! suntuk sumpah!

Itu dari sahabatku. Sahabat yang diam-diam setelah bertahun-tahun bersamanya ternyata 'naik kelas' di hatiku. Tentu saja dia tak tahu (dan tak akan kubiarkan tahu).

Aku balas secepatnya.

To : SiBotski
Main kmn? Ujan tau! Klo km jmput krumah sih hayu, kalo g, MALLEEESSSS kluar rumah.

Balasan darinya datang tak sampai satu menit kemudian
From : SiBotski
15 mnit lg nyampe. udh d jalan da. heu :p


Buru-buru aku mencari sweater terbaikku, berharap tak terlihat terlalu jelek saat dia datang. Konyol memang Aku ini. Memangnya dia peduli Aku terlihat oke atau tidak?!
Dia datang benar-benar 15 menit kemudian, dengan payung biru yang sebenarnya punyaku. Entah sejak kapan payung itu 'diculik' dan ada di tangannya. Biarlah, setidaknya payungku itu melindunginya dari hujan.

Mukanya kusut, tak bersemangat. Ada sorot sedih di matanya. Dia melemparkan diri di atas kursi kayu di beranda sambil berkata, "Kita di sini aja ya, pengen ngobrol doang sih sebenernya. Mau main ke luar juga ngapain, pasti macet."

"Ya udah, bebas. Minum dulu." Aku sodorkan teh manis yang sudah kusiapkan untuknya. Perlahan, dia meminum teh hangat itu sambil sesekali meniup-niup. Keningnya berkerut dalam. Melihat gelagatnya, Aku yakin ada yang tidak beres. Pasti tak lama lagi dia akan memuntahkan curhatan panjang.

"Mungkin saya emang bukan yang terbaik buat Tia..."

Tuh kan, kalimat pembukanya aja udah bawa-bawa nama pacarnya.


Aku mempersiapkan mata, telinga dan terutama hati untuk mendengar celotehan panjang tentang cintanya. Memberi nasehat-nasehat dan saran pada sahabat yang sedang pusing dengan tektekbengek cinta sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah jika ternyata hatimu teriris ketika mendengar dia bersedih, mengetahui kenyataan bahwa dia bukan sekedar sahabat di matamu, sekaligus menelan pil pahit bahwa di kepala sahabatmu itu hanya ada orang lain, bukan kamu. Combo pain.

Yang bisa kulakukan hanya berpura-pura seperti sahabat biasa lainnya : memberi saran yang sejuk dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa dia dan pacarnya akan bisa melewati masalah ini. Intinya seolah berkata 'badai pasti berlalu', sementara badai di hati sendiri semakin parah.

Di saat seperti ini, hujan menambah kepahitan.

Beberapa jam kemudian, dia sudah bisa sedikit tertawa riang, sementara hujan masih menjerang. Tiba saatnya berpamitan.
"Makasi banget ya, mate! Nggak tau harus ke mana kalo nggak ada kamu." dia memelukku hangat, seperti kakak memeluk adiknya.

Aku bersikeras ingin mengantarnya sampai ke tempat dia memarkir kendaraan, beberapa meter dari rumahku. Kebetulan saat ini jalanan di depan rumah sedang penuh dengan kendaraan yang parkir sembarangan. Mungkin tamu tetanggaku, entahlah, tak tahu.

Jadi begitulah, kami berpayung berdua, dan sampai di depan Si Silver.
"Cepet pulang sana. Nanti sakit. Payungnya bawa aja. Lagian punya kamu kan?"
"Terus nanti kamu nggak pake payung?"
"Ada kok di bagasi, baru dibeliin Tia minggu kemaren."

Tia lagi, tia lagi.


Aku berusaha tersenyum, seperti biasa, beracting. Dia pun melambai, pergi melaju.



Tubuhku berguncang pelan. Semakin lama semakin kencang. Ada rasa sedih yang bercampur dengan marah tiba-tiba datang.
Payung biru dalam genggamanku itu kulempar ke pinggiran jalan, sementara Aku berjalan hujan-hujanan.

Sekarang Aku tahu fungsi hujan : menyembunyikan air mata yang membanjir akibat perih karena tersingkir.
Setidaknya jika ada yang bertanya 'kamu nangis ya?' bisa kujawab, 'ini air hujan, bukan dari mata.'


That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me

--That Should Be Me, Justin Bieber--

photo source :
http://farm4.static.flickr.com/3174/2868415406_59f1a22e18.jpg
supdudesupguy.blogspot.com

Sabtu, 07 November 2009

Cukup Tau

saya merasa tak pernah ikut lomba, tapi sebuah amplop dengan kop bertuliskan : HASIL PENILAIAN baru saja tiba diantar tukang Pos membuat saya terkejut. Pak pos yang mengantarkan pun tak tahu siapa pengirimnya.
Saat saya tanya, dia hanya menjawab dengan malas-malasan, "Sudahlah, mas...nggak usah banyak tanya. Tanda tangani saja tanda terimanya, lalu buka amplop itu di rumah Anda. Saya banyak kerjaan."

Dan saya menuruti bapak Pos yang tak bersahabat itu. Ah, mungkin dia terlalu lelah, bukan tak mau peduli pada urusan saya. Mungkin dia justru ingin memberikan kebebasan pada saya, dan tak mengintervensi pikiran saya dengan pikiran dia tentang surat yang baru saja tiba itu.
Intinya, Pak Pos bukan tak punya hati, hanya saja membebaskan saya berspekulasi.


Dengan tak sabar saya buka amplop itu tanpa menggiringnya ke dalam rumah.
di dalamnya tertera jelas sebuah kalimat dengan huruf yang dicetak kapital dan tebal :


HASIL PENILAIAN :
ANDA EGOIS, APATIS DAN OPORTUNIS.



tak ada tanda tangan di ujung surat, tak ada kop berisi alamat di kepala surat.
Hanya satu kalimat pendek dengan deretan kata yang membuat mata saya tak berhenti berair setidaknya selama jarum panjang detik beredar kembali ke tempatnya.


Setelah tersusut semua air yang mengalir, saya kembali menapak bumi.
Berpikir dengan kepala dan hati yang terbuka seperti burung yang mengepak sayap di atas sana.
Lalu tersenyum, sekali lagi membaca surat yang sudah basah di sana-sini.

Siapapun anda, saya berterima kasih, karena sudah memberikan penilaian pribadi tentang saya secara pribadi. Tidak menanam benih benci anda di kebun tetangga saya, sehingga tak perlu tetangga saya tahu-menahu.
Cukup anda dan saya yang tahu.
Saya suka gaya anda!

Selasa, 25 Agustus 2009

pro-anta

Bahwa protagonis itu manis, suka menangis dan mengais-ais aku yakin kau sudah paham.
Bahwa antagonis itu sinis,bengis,atau sadis,aku yakin kau sudah mengerti.

Hanya saja kuingatkan
Bahwa keduanya tergantung dari mana kau bergelantung.
Memandang mereka dari balik kaca,atau mata yang bertelanjang tanpa distorsia.
Dan tentu saja intelegensia dalam mengunyah fakta-fakta.

Jadi,pertanyaanku : memang kau benar-benar tahu?
Atau sekedar sok tahu, jadi agak mengganggu seperti tukang tahu?

Manakutahu!

musiman

Kalaulah maaf yang mendadak trendi kini
Hanya sekedar bahasa yang besok lusa membasi kembali
Bukankah lebih mulia,
Duduk manis saja sambil minum teh bergula?

Selasa, 28 Juli 2009

Senyata Setia Tya

Tya memegang gulungan kertas itu di tangannya. Diremasnya kuat-kuat, diempaskannya ke lantai penuh emosi. Dadanya naik turun, akibat nafas tersengal menahan amarah.

Diliriknya lagi kertas yang sudah tak jelas bentuknya itu. Tya memungutnya lagi, dibukanya perlahan. Tak ada yang berubah dari isi gulungan acak-acakan itu. Masih seperti tadi, saat pertama kali Tya membacanya.

Ini benar-benar nyata, bahwa yang ada di genggamannya kini adalah undangan. Undangan pernikahan Andra.

Dipandanginya setiap kata di kertas ringsek itu sampai tepat berhenti di nama ‘Hasnani Sunaji’. Bibirnya naik setengah, sinis, disertai padnangan melecehkan.
Nama macam apa yang bersanding dengan nama Andra di kertas itu?! Sungguh tidak pantas. Apa Andra sudah turun selera sampai sampai memilih istri bernama aneh begini?!
Tya merasa terhina.
Bagaimana bisa Andra mengganti posisi Tya sebagai orang nomor satu di hidupnya selama ini dengan seorang wanita bernama Hasnani?

Tya sadar memang selama ini dirinya dan Andra tidak pernah bisa seperti pasangan lainnya. Hubungan meeka terbatas tembok yang terlalu tinggi untuk dilompati, terlalu panjang untuk dikitari dan terlalu kuat untuk dirobohkan.

Dulu, Tya dan Andra mulai saling mengenal semasa kuliah. Tak ada yang istimewa awalnya, karena pada dasarnya mereka makhluk pada kasta yang berbeda. Tya bagai kaum Brahmana, sedangkan Andra hanya seorang Sudra. Tya memiliki perspektif burung, yang melihat segalanya jauh dari atas sana, sedangkan Andra berprespektif katak, yang untuk memandang horizon saja dia harus mendongak.

Namun di sini lah tangan takdir berbicara. Di akhir-akhir masa kuliah mereka, rasa itu terledakkan. Tak terelakkan bagi mereka, tetapi tetap tak akan pernah disuarakan pada dunia.

Tya dan Andra sepakat mengunci cerita ini hanya untuk mereka berdua saja. Tak perlu sehelai daun pun di luar sana tahu. Bahkan telinga mereka sendiri pun tak diizinkan menguping tiap degup yang ditukar kala mereka bercuri pandang. Tidak boleh ada yang tahu. Ini murni hanya untuk dinikmati oleh seorang Andra dan seorang Tya. Tidak kurang, tidak lebih.

Mereka menutup ini dengan rapat. Begitu rapi seperti kemeja yang baru terkena sengat setrika. Hubungan yang tak tersentuh. Bahkan drama ini terus berlanjut selepas keduanya menyandang toga.

Semua terasa mudah setelah lepas dari komunitas lama. Sampai suatu hari, 3 tahun lalu Andra memutuskan untuk mengakhiri segala yang pernah ia bagi bersama Tya. Menyudahi setiap detik penuh intrik yang pernah dilewatinya dengan susah payah agar gengsi Tya tetap terjaga, bertengger di atas sana, kokoh angkuh tidak tergoyah.

Sudah cukup baginya menjadi alas kaki Tya. Tya yang mengaku cinta mati padanya jika semua pintu telah terkunci rapat dan semua jendela telah tertutup tirai. Tya yang memberikan seluruh kehangatan yang dimilikinya hanya jika telah yakin bahwa tak ada seekor burung pun mengintai mereka berdua dalam radius 1 meter.

“Kita sudah selesai.”
Itu kalimat terakhir Andra dalam perdebatan sengit antara Andra dan Tya, malam itu 3 tahun yang lalu, sebelum akhirnya Andra membalikkan badan tanpa menoleh lagi sekali pun.

Kala itu Tya terpuruk. Padahal dia sudah berani melempar harga dirinya jauh jauh di kaki Andra, berusaha menahannya agar tidak berbalik pergi. Tya bersedia mengumumkan pada dunia tentang mereka. Jika perlu Tya bisa membawa Andra pergi sejauh-jauhnya, ke luar negeri, untuk memulai hidup yang baru tanpa siapa pun tahu siapa mereka sebelumnya.
Uang hanya perkara tahi lalat untuk Tya.
Tapi keputusan Andra sudah bulat : mereka harus berpisah. Titik.

Sejak itu Andra benar-benar hilang tertiup angin. Tahun pertama tanpa Andra, bagi Tya adalah neraka. Pencariannya berujung nihil. Andra menjelma seperti makhluk purba : nomaden. Hingga jejaknya menjadi barang langka.

Tahun kedua Tya putus asa dan mencoba mengubur Andra dari setiap sel otaknya. Tya mendetox semua racun sumbangan dari Andra yang terlanjur mengaliri nadinya.
Tya membuka lembaran baru dengan yang lain, meskipun separuh jiwanya mengakui detak itu masih milik Andra.

Di tahun ketiga ini, ternyata Tya mendapatkan pencerahan tentang keberadaan Andra. Sayang, ini bukan seperti harapannya. Yang menemuinya adalah segulung unduangan pernikahan dari Andra. Gulungan yang kini ada dalam genggaman kerasnya. Kali ini dirobenya kertas itu, dibuangnya ke tempat sampah.

Ting tong ting

Bel apartemen Tya berbunyi. Tya buru-buru menyusut air matanya. Berlari ke wastafel, membasuh wajah, dan mematut diri di kaca.

Ting tong ting
“Iya bentar!” Tya segera membukakan pintu. Seorang wanita telah berdiri mengunggu di sana.
Tersenyum sempurna, Tya meminta maaf, “Maaf ya lama!”
“Lagi ngapain sih kamu?” wanita itu protes sambil melangkah masuk. Dia llangsung duduk di sofa empuk nan nyaman di ruang tengah.
“Mau minum apa?”
“Jus apel boleh deh”

Tya mengambilkan jus apel botolan dari kulkas, menuangkannya ke dalam dua gelas. Lalu dia duduk di samping wanita tadi, menyuguhkan minuman itu.
“Thank you!” wanita itu tersenyum manis, meneguk minuman di tangannya dengan bernafsu.
“Wow, haus apa doyan?”
“Dua-duanya!” wanita itu menepuk halus lengan Tya. Lalu seperti teringat sesuatu yang penting, dia beringsut mengambil tasnya meja.

“Eh, liat deh! Aku bawa contoh undangan.”
Wanita itu mengeluarkan sebua undangan kotak tebal dengan bentuk ukiran di sana-sini. Dengan semangatnya dia berceloteh, “Nih, bagus gak, Mas? Kita pesennya kombinasi ungu sama off-white gitu ya! Terus, ini tulisan nama aku sana kamunya mesti warna emas plus glitter. Kan bagus tuh :
Prasetya dan Vania.”

Mata Prasetya melah tersangkut di tempat sampah tempat ia membuang undangan Andra.
“Terus yaaa…ini undangannya bisa dijadiin frame foto loh! Jadi berguna kaaann?”
“…” Prasetya mematung.
“Mas Pras denger aku nggak sih?” Vania mengalihkan wajah Prasetya dari lamunannya.
Gelagapan, Prasetya menjawab, “Iya,,iya, aku denger.”
“Apa coba?”
“Itu kan…undangan.”
“Iyaaaa…Bagus nggak nih?” Vania kembali mengamati, atau lebih tepatnya mengagumi contoh undangan di tangannya.
“Bagus. Bagus.” jawab Prasetnya datar.

Matanya menoleh lagi ke tempat sampah.

Ω Ω Ω Ω

Rabu, 25 Februari 2009

.solo.

Sejumput sesal tiba-tiba datang
tak bisa ditarik mundur berbalik pergi
Aku sesak,sebab didesak
Aku lelah,ingin menghela

Tak perlu dua jika satu sudah lengkap
Tak perlu berlaga jika hanya berhenti pada itikad semata

Sia sia!!

Bolehkah aku meminta kesendirian saja?
Krena waktuku hampir habis
Sabarku makin terkikis
Melihatmu cuma terpaku,bergaya putri malu
Menungguku rontok satu per satu

Kamu pikir aku apamu?!

Benahi dulu sajalah otakmu yg beku
Baru cari aku
Tapi aku tak yakin punya waktu selama itu
Karena kini aku ingin berlari,
Bnkan duduk-duduk di tepi.

Minggu, 08 Februari 2009

MATI APA?


Mati itu ada berapa macam?
Satu? Dua? Tiga?
Seribu?
Sejuta?
Tak hingga?

Mati itu sebenarnya akhir dari hidupkah? Atau justru awal dari hidup? Atau keduanya?

Mati-Hidup-Mati

Hmmm…
Tergantung kita melihat titik permulaannya. Kalau mau dirunut, mati dan hidup itu siklik. Tak terpisah, tak terbelah.
Sesuatu yg hidup mungkin awalnya mati.
Sesuatu yg mati mungkin awalnya pernah hidup.



Soal kamu?



Kurasa awalnya kamu mati.
Awalnya tidak ada yang hidup dari kamu. Sampai entah kenapa, kapan dan bagaimana kamu melakukannya, kamu jadi hidup. Kamu yang di mataku dulu mati, bisa tiba-tiba hidup.
Dan jujur saja, aku senang dengan ke-hidup-an mu.
Ada rasa yang berbeda.
Animo yang berlompatan dan gelisah belingsatan yang—ternyata—menyenangkan
.

Sayang,
Tapi coba kamu lihat siklus itu : MATI-HIDUP-MATI.
Mau tak mau setelah kamu sempat hidup, artinya kamu mendekati fase yang satu lagi, Satu kali lagi : MATI.

Itu akan terjadi.
Mungkin cepat, mungkin lambat.
Tapi pasti.
Karena tak ada lagi animo berlompatan.
Sudah hilang gelisah belingsatan.
Auramu memudar.
Desir itu menyingkir.

Aku butuh goncangan.
Aku butuh getaran.
Pepatah bilang : ‘air beriak tanda tak dalam’
Apa berarti ketiadaan riak itu melukiskan kedalaman yang sangat dalam
Yang sanggup menenggelamkan?

Sepertinya iya.

Pun terjadi padamu.
Kamu membawa ini terlalu dalam, sampai tak ada sedikitpun riak bergolak.

Kamu pikir, kenapa orang lebih suka lautan?
Karena di sana ada ombak.
Ombak itu menggulung, berontak, berbahaya tapi sekaligus menyenangkan, menghibur, dan melenakan.
Kamu tau, kata orang diam itu memang menghanyutkan.
Tapi sayang, aku tak mau hanyut begitu saja.
Aku butuh menggeliat, bergerak, jika perlu menerjang ombak.

Hmmm…
Kamu tau?
Kurasa yang akan mati bukan kamu.
Aku rasa aku yang akan mati sebentar lagi.
Dan rasanya aku tau mati macam apa ini.

Rasa-rasanya aku mati rasa.

Minggu, 01 Februari 2009

merah-biru


Sore itu aku sedang duduk di sofa, di pojokan ruangan bernuansa minimalis berjudul kedai kopi di tengah kota. Di sini aku membuat janji bertemu dengan seseorang.
Jam di tanganku menunjuk waktu pukul 3 sore. Terlalu cepat setengah jam memang dari waktu janjian kami : setengah empat. Tak apalah di tempat ngopi seperti ini setengah jam tak akan terasa lama.

Sambil menunggu, aku memesan roti bakar coklat kacang dan cappuccino punch. Beruntung aku sedang bawa laptop, jadi kumanfaatkan saja wi-fi gratis di sini dengan tujuan mengusir bosan. Ternyata tujuan itu tak tercapai. Bari 5 menit aku mengotak-atik jaringan internet, aku sudah bosan. Bahkan salah satu site social networking online pun sudah terasa membosankan buatku. Tidak terlalu menarik lagi melihat orang-orang berganti status tiap menitnya.

Kusingkirkan laptop itu dari hadapanku, tapi kubiarkan ia tetap menyala dengan messenger yang juga online. Aku pasang ikon busy di status messengerku. Biarlah, daripada wi-fi nya nganggur kan mubazir. Lalu, kukeluarkan sebuah sketchbook dari tasku; Sebuah buku kecil berisi coretan gambar tanganku. Jujur, aku tak bisa menggambar, pun merasa tak berbakat menjadi artist, tapi bukan dosa kan seorang yang tak bisa dan tak berbakat menggambar menyukai aktivitas menggambar?! Jadi, inilah aku, di pojokan kedai kopi bertema café futuristik, dengan laptop yang menyala, dan tangan yang sibuk dengan pensil dan sketchbook. Kali ini, aku menggambar jembatan. Entah kenapa, tapi satu-satunya yang muncul di imajiku saat pensil ini bertengger di jari-jari tangan kananku adalah jembatan tua berbentuk hampir setengah lingkaran yang bolong di sana-sini. Warnanya merah dan biru.

Merah dan biru?

Sedikit tersentak, tiba-tiba kuingat sesuatu tentang merah dan biru. Sebuah memori yang pernah jadi serangkaian hari mendayu-dayu di masa lalu. Percaya atau tidak, masa lalu itu masih aku bawa sampai kini. Masa lalu itu ada di dalam organizer buluk, dalam tas yang ada di pangkuanku. Perhatianku yang awalnya pada laptop, lalu bergulir ke pensil dan sketchbook, sekarang beralih ke organizer buluk di tanganku. Perlahan kubuka organizer itu, kuselipkan jari-jariku di lipatan kulit organizer halaman paling belakang. Jari-jariku menggapai-gapai, mencari si merah dan biru. Di ruang yang sempit itu jari-jari ini merasakan merah-biru masih di sana. Ditariknya perlahan, sampai ia keluar, seperti bayi baru lahir. Sampai akhirnya tergeletaklah si merah-biru tepat di depan mataku. Sehelai foto berwarna, sebagian merah, sebagian biru. Foto aku dan kamu, dulu. Sebuah foto biasa, hasil editan kamu, sisi aku berwarna merah, sisi kamu berwarna biru. Padahal di foto itu kita bersebelahan, dalam satu tempat, begitu rapat, tapi terpisah oleh warna. Aku merah, kamu biru. Sesuai warna kesukaan kita masing-masing.

Tak sadar, sebelah bibirku naik, mengukir senyum kecil. Aku teringat waktu dulu kamu dengan bangganya memberikan foto ini padaku. Kamu begitu bersemangat dan menggebu-gebu. Bahkan aku ingat, kamu sempat bilang,
“Lihat! Bagus ya? Kamu kan suka merah, aku suka biru. Nih digabungin juga lucu, tetep nyambung. Padahal merah sama biru beda banget kan?”
Waktu itu aku bilang iya-iya saja. Waktu itu aku terlalu bisu untuk bilang jujur bahwa foto itu tak sebagus apa yang diekspresikannya. Waktu itu yang terpenting buatku adalah bahwa kamu sangat memperhatikan kesukaanku, sampai ke warna favoritku. Kamu dan aku sama-sama tak sadar bahwa diantara biru dan merah ada perpaduan keduanya yang berwarna ungu, terbentang antara kamu dan aku, antara merah dan biru. Walau tipis dan tak kentara, ungu itu tetap ada dan menjadi pembatas, antara merahku dan birumu di foto itu. Sangat analogis dengan cerita perpisahan kita, sangat representatif.

Mataku tiba-tiba beralih lagi ke laptop, seperti mulanya saat aku sampai di café ini. Sehelai merah-biru masih tergeletak jelas di meja itu. Sekarang tangan kananku dengan lincah berlarian di touchpad , membuka folder demi folder dalam harddisk laptop, sampai pada satu folder yang entah kenapa masih membuatku tegang saat membaca namanya : MERAH-BIRU.

Akhirnya setelah menarik oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-paru, kubuka folder itu. Folder berisi memori Si Merah dan Si Biru. Ada foto, ada tulisanku, tulisanmu, dan dokumentasi yang kalau dipikir-pikir sungguh tidak penting.
Dasar kurang kerjaan! Gerutuku dalam hati, yang berarti mengutuki diriku sendiri karena folder itu Aku dan Kamu yang menciptakan, dan bahkan masih kusimpan sampai kini.
Dulu kamu pernah bilang, walaupun merah dan biru terkesan berseberangan, itu justru bisa saling melengkapi. Merah yang mirip dengan api, biru yang mirip dengan air, bisa menjadi penyeimbang. Air bisa memadamkan api yang berkobar, dan api juga bisa menghangatkan air yang dingin.

Itu analogi kita.
Dulu.

Lagi-lagi tak sadar, aku tersenyum melihat foto-foto kita, membaca tulisanku dan tulisanmu. Ekspresi orang yang sedang madly in love. Saat kita belum sadar bahwa air dan api bukan hanya berseberangan, tapi juga berpotensi saling mematikan.

Tiba-tiba messenger-ku berkedip dan bersuara. Ada yang mengajak ngobrol rupanya. Si folder merah-biru kuminimize. Dan entah ini pertanda surga atau neraka, ternyata Kamu, Si Biru dari masa lalu lah yang mengajakku ngobrol lewat messenger itu. Di sana kamu cuma menuliskan tiga huruf :
feromon_yetganteng : Hai
Buru-buru kusingkirkan pikiran tentang ‘pertanda’ atau apalah itu.
Tenang, Saski…ini cuma kebetulan.
Kubalas sapaanmu itu tak kalah santai,
saskiashafrina : Hai juga
Dan obrolan kita berlanjut ke: apa kabar-lagi di mana-kerja di mana-bla bla bla. Lima tahun tak berkomunikasi membuat Aku dan Kamu agak canggung. Berusaha mencairkan kebekuan aneh ini, kita sempat membahas nickname messengger-mu yang tak cocok untuk lelaki seumurmu. Sampai akhirnya kamu bertanya alamatku sekarang di mana.
saskiashafrina : Masih di Bandung. masih yg dulu,heuheu..lupa alamatnya?
feromon_yetganteng : Nggak. Siapa tau udah pindah. Mmm…diboyong suami
gitu mungkin…
Sejenak aku terhenti, tapi cepat-cepat kujawab
saskiashafrina : Aku belum nikah, Fer.
feromon_yetganteng : Oh…Mmm…sebenernya aku tanya alamat kamu mau
ngirim undangan.

Lama aku diam. Sampai kamu tulis lagi,
feromon_yetganteng : Aku nikah bulan depan, Sas..
Buru-buru kukuasai diriku lagi. Untung ini di messenger, bukan telepon. Lebih mudah bagiku untuk pura-pura berekspresi.
saskiashafrina : Waah..slamet yaaa!! Sip sip aku pasti dateng :)

Dan setelah kamu selesai dengan tujuanmu ber-messenger denganku, kamu pamit. Sign-out. Tak sampai 3 detik kamu sign-out, aku pun melakukan hal yang sama.
Folder Merah-Biru di toolbar desktop aku restore lagi. Aku suntik kesadaranku dengan mereguk cappuccino punch banyak-banyak. Berharap sedikit kafein bisa menggedor-gedor kesadaranku kembali.
Tangan kananku mengklik kanan folder itu. Kursornya sudah menyorot ke arah ‘delete’. Akhirnya, sejurus kemudian kolom delete itu aku klik. Muncul pop-up bar :

Are you sure you want to delete this folder?

Ada dua pilihan : ‘Yes’ dan ‘No’.
Yang satu akan menghapus Si merah-biru dari laptop ini, yang satu akan membiarkannya tinggal bersemayam di sudut kecl terpencil di laptop ini.
Bimbang.
Sampai sepasang tangan mendekap mataku sesaat, lalu melepasnya lagi.
“Dor!! Serius amat?”
Gelagapan, aku memilih ‘No’ untuk pop-up bar tadi.
“Gak kok…gak pa-pa.” Aku senyum selebar-lebarnya.
“Lama nunggunya?”
“Nggak juga.”
“Bagi dong! Haussss…” si pemilik tangan yang tadi mendekap mataku dari belakang itu menyedot cappuccinoku sampai hampir bersisa hanya seperempatnya.

Kupandangi pria di sampingku ini lekat-lekat. Dia memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
“Kamu mau tambah lagi nggak?” tanyanya padaku saat pelayan sedang mencatat pesanannya.
“Nggak.” Jawabku tanpa mengalihkan titik pandang dari wajahnya.
Setelah pelayan itu pergi, dia balik memandangku tepat ke arah mata.
“Kenapa sih ngeliatin terus? Ganteng ya?”
“PEDEEEE BANGET SIH, KAAANGGGGG!!!!”
Lalu kami tertawa. Puas. Mataku tak lepas dari titik tadi.

Dia memang tidak seperti kamu, Fer. Dia tidak setipe denganmu. Berbeda di banyak aspek dan kualifikasi. Dan dia tidak suka biru.

Dia yang aku panggil kakang ini yang kupilih untuk mewarnai sisa hidupku kelak. Kusebut kelak, karena belum terjadi. Baru minggu depan dia akan melamarku secara resmi, pada ayah dan ibuku, ke keluarga besarku.

Karena Kakang, aku sadar, di dunia ini warna tidaklah hanya merah dan biru. Rasa tidaklah hanya manis dan pahit. Semesta bukan hanya langit dan bumi. Dia membuka cakrawalaku lebih luas, membiarkan aku terbang melihat segalanya dari atas tanpa harus selalu dia di sampingku, lebih bebas, tapi mengikatku dengan simpul yang tak kasat mata : CINTA.

Bulan depan, aku akan datang ke pernikahanmu dengan Kakang. Supaya Aku dan Kamu sama-sama sadar, bahwa kamu telah menemukan seseorang yang akan hidup dengan ke-biru-an-mu dan aku telah menemukan seseorang yang akan hidup dengan ke-merah-an-ku.

Tenang saja, memori itu masih di situ. Tak pernah kemana-mana. Karena pelangiku tak akan pernah lengkap tanpa ada birumu.



=for everybody who’s trying to move on=