About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Selasa, 21 Desember 2010

Unfinished jigsaw


Jakarta, 20.47

Denting-denting cangkir yang beradu dengan sendok pengaduk sudah tak lagi terdengar. Tawa-tawa dalam berbagai tingkatan volume sudah tak lagi tertangkap telinga. Di kedai kopi sederhana di ujung jalan yang cukup sepi itu kini hanya tersisa puluhan gelas kotor yang menumpuk seakan mengantri minta dicuci. Seorang pelayan yang bertugas berjaga sampai kedai itu tutup masih sibuk merapikan meja-meja sebelum akhirnya menghampiri wastafel dan menghela nafas melihat tumpukan pekerjaan yang menanti di depan matanya.

Jauh di seberang kedai kopi itu, di depan sebuah toko 24 jam berlogo huruf ‘K’ berwarna merah menyala berdiri seorang pemuda tanggung berjaket tipis dengan bagian kapucon yang disangkutkan ke kepala. Ia tak sendiri, tapi bersama seorang perempuan berambut pendek setengkuk yang juga berjaket—hanya saja tidak dilengkapi kapucon--. Mereka lalu beranjak masuk ke dalam toko kecil itu. Penjaga toko 24 jam menyambut mereka dengan kalimat ‘selamat datang’ yang sudah terprogram seperti layaknya robot yang distel oleh Sang pemilik untuk berbunyi sesuai perintah.

Si lelaki berkapucon mengambil gelas kertas di samping coffee maker machine di pojok ruangan toko.
“Kamu mau minum apa?”
“Mmm…” si perempuan tampak menimbang-nimbang. Matanya menelusuri daftar pilihan minuman yang tertempel di samping tombol-tombol yang siap ditekan di mesin minuman itu.
“Milo panas?” si lelaki bertanya.
“Espresso.”

Si lelaki mengangguk, lalu menekan tombol sesuai pilihan yang baru saja dibuat perempuan di sampingnya itu. Cairan hitam pekat meluncur deras ke dalam gelas kertas yang ditempatkan tepat di saluran pengalir dalam kotak pembuat minuman. Hitam yang legam, seperti warna hitamnya iris mata perempuan di sampingnya, yang bisa membuatnya seperti tersedot dalam lubang hitam tanpa bosan berlama-lama terlarut dalam legam sihir matanya. Hitam yang disertai asap panas, sepanas gelegak yang ditahan-tahan lelaki itu dalam hati selama ini.

Padahal perempuan itu bukan penyihir. Bukan juga wajan berminyak bergolak ataupun panci berair mendidih. Bukan. Ia hanya perempuan yang kebetulan dinamai Arimbi oleh orang tuanya, yang kebetulan dengan cara yang ia sendiri tak mengerti, sanggup membuat lelaki berkapucon bernama Dherma itu tergila setengah mati, meski secara sembunyi-sembunyi.

Dherma menyodorkan gelas berisi espresso yang belum ditambah gula ke tangan Arimbi. Sementara Arimbi menambahkan gula dan mengaduk isi gelasnya, sebelah tangan Dherma mengambil gelas kertas lain dari tumpukan, lalu menekan tombol yang sama : espresso.

“Aku yang bayar, Mbi.” Di depan kasir, Dherma menahan tangan Arimbi yang merogoh tasnya, seperti mencari dompet.
“Beneran nih nggak pa-pa?”
“Kopi doang sih masih mampu.” Dherma nyengir, tanpa sengaja memamerkan taring gingsulnya.

“Terima kasih banyak. Semoga kembali lagi ke sini.” Ucap pelayan toko seusai memberikan uang kembalian pada Dherma, lagi-lagi dengan kalimat yang seperti terprogram.

Dherma dan Arimbi menggenggam gelasnya masing-masing dan berjalan keluar. Mereka menghampiri sebuah kursi panjang di dekat dinding parkiran toko. Arimbi menangkupkan kedua tangannya ke sekeliling badan gelas, seperti ingin menyerap panasnya, mengalahkan angin malam yang hari ini bertiup lebih menggigit dari biasanya.
“Jadi—apa kabar?” Dherma bertanya.
“Aneh deh. Nggak ada pertanyaan yang lebih kreatif? Kamu tau bener jawabannya apa.” Arimbi menggeleng-geleng sambil tertawa kecil. Sesekali ia meniup minumannya dari lubang kecil penutup gelas kertas dalam genggamannya.
Dherma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ya abis mau nanya apa lagi.”
“Kelamaan nggak ketemu ya kita? Berapa lama sih? Dua taun ada ya?”

Dherma mengangguk tanpa menjawab. Padahal ia hafal betul bahwa mereka sudah tiga tahun empat bulan dua belas hari tidak bertemu. Sedetail itu Dherma mengingat? Iya. Sedetail Dherma mengingat dengan betul jajaran alis yang membingkai mata Arimbi, sedetail Dherma mengingat baju yang dikenakan Arimbi ketika terakhir mereka bertemu : kemeja kotak kecil bernuansa biru laut.

“Sibuk apa kamu sekarang?” Arimbi memulai ‘wawancara’.

Lalu mereka mulai bicara tentang apa saja, tentang ini-itu dan hal lain sebagainya. Mungkin tidak dari A sampai Z, tapi tetap saja membuat Dherma kembali mengingat urusannya dengan Arimbi yang belum pernah terselesaikan sejak dulu. Sejak dirinya terus menolak kenyataan yang diantarkan kepalanya bahwa hatinya telah tercuri Arimbi. Sejak dirinya terus tak mengakui dan menafikan kenyataan bahwa sebenarnya Arimbi bisa saja dia miliki, andai saja dia tak terlalu pengecut untuk mengambil satu langkah yang sebenarnya tak susah. Sampai akhirnya Arimbi pergi saat harus kuliah di kota lain, sementara keberanian itu tak juga terbit bibir dari Dherma.

Dan itu sudah tiga tahun lalu. Kalau nasi tentu sudah basi. Kalau wine mungkin sudah terfermentasi lebih mantap lagi.
Sekarang mereka bertemu lagi dalam suasana yang tentu sudah tak sama. Hanya satu mungkin yang tak sama : degup dada Dherma yang masih berketuk dengan lebih cepat secara berirama saat ada di sekitar Arimbi. Yang mungkin saja Arimbi tak tahu. Atau pura-pura tak tahu. Ah, entahlah.

Pertemuan ini yang membuat Dherma seperti menemukan keeping-keping jigsaw yang telah ia hancurkan sendiri beberapa tahun lalu. Layaknya balita menatap mainan kesukaan mereka, Dherma pun seolah merasakan hal yang sama : muncul niatnya merapikan potongan-potongan jigsaw itu ke bentuk seharusnya. Tentu saja dengan konsekuensi meninggalkan mainan baru yang sedang disusunnya. Maka saat di tengah obrolanya dengan Arimbi sebuah panggilan telepon masuk, Dherma melihat ke layar handphone-nya ragu-ragu.

Farah is calling…


Ia lalu menekan “reject”.

“Kok ga diangkat?” Arimbi menunjuk handphone di tangan Dherma dengan dagu.
Dherma memasukkan handphone ke kantong celananya, setelah sebelumnya menyetel mode suara ke ‘silent’.
“Nomer nggak kenal. Nggak penting. Mmm—Sampe mana kita ngobrol tadi. Mbi?”

Lalu Dherma kembali tersedot dalam pusaran yang sama : legam mata Arimbi. Sementara jauh dari tempat Arimbi dan Dherma kini berada, Farah menatap layar handphone penuh tanda tanya.

Sabtu, 18 Desember 2010

Postingan Sehari Setelah 1 Muharam

Kemarin adalah Tahun Baru Islam yang super menyenangkan buat saya. Saya janjian sama Neno,nama sebenarnya--mantan teman sekantor yang sekarang udah resign dan bahkan udah dapet tempat kerja baru--. Tanpa ada rencana mau ngapain, kita janjian di Pejaten Village sekitar siangan, setelah si Neno nyalon potong rambut. Udah tuh. Makan, ngobrol-ngobrol segala macem. Berhubung si Neno puasa, dia ga makan, saya doang yang makan. Jaahahahhah. Jadi biar ga mubazir nge-mall-nya saya sama Neno memutuskan untuk nonton sajah. Nonton apa? Narnia 3D, sodara-sodara. Iya, yang nontonnya pake kacamata itu loh *kalimat super norak

Udah dapet tiket (beli jam 3an buat yg jam 5), kita berdua jalan-jalan lah di penvill daripada busuk nunggu di XXI. eh taunya pas turun escalator, saya ketemu temen lama, yang dulu sekelompok waktu OSKM (OSPEK)! Dwi namanya. Dia anak geologi. Saya dan Dwi ini dibilang deket-deket banget juga nggak sih sebenernya, tapi cukup deket waktu jaman OSKM karena kemana-mana bareng. Kebeneran dulu saya di Kanyakan, si Dwi di Dago Pojok. Bahkan dulu saya pernah minjem kemeja flannel nya Dwi. Yaudah, ngobrol sebentaaarr banget (Cuma sejenis apa kabar-kerja dimana-sama siapa-mau ngapain) dsb, abis itu bubar kan sama si Dwi, karena ternyata dia sama temen-temennya yang lain (anak ITB juga, tapi saya ga ketemu temen-temennya sih) mau nonton cenah, tapi Harry Potter.

Udah tuh…
Sampai nonton, ga ada hal amazing lain. Selesai nonton (jam tujuh lewat-an) saya kan pengen pipis. Jalan lah ke arah toilet bioskop. Pasti penuh dong, itu WC bioskop. Tau-tau di lorong sebelum pintu toilet saya ketemu ANANDAYU which is my best best friend dari Bandung! Ga jadi lah pipisnya

Ya ampuuuun gilaaaaa! Saya sama ayu peluk-pelukan kaya teletubbies. Yakin deh semua orang sempet melirik ke kami karena ya tau sendiri mulutnya gabisa dikontrol kalo ketemu.
“ayuuuu!”
“Icuuuuttt!”
Serasa XXI milik pribadi jojorowokan (jejeritan). Yah adegannya mirip TKW pulang ke Indonesia ketemu sama emaknya. Yang mana yang TKW yang mana yang emaknya ga usah ditanya, ga penting.
Lama banget ga ketemu ayu. Beberapa kondangan di Bandung saya ga bisa dateng soalnya. Yang ada training lah, yang emang gabisa pulang ke Bandung lah. Pokoknya susaaaah buat ketemu. nggak susah banget-banget juga sih kalo dunia maya diitung ‘ketemu’. Wong bbm-an ampir tiap hari di group. Tapi kan sensasi nya beda kalo ketemu langsung. Bisa peyuk peyuk *unyu mode*, pegang-pegang, raba-raba –eh kesannya kok mesum—ya gitu lah…Cerita-cerita gimana aja sekarang, aplikasi ke ADS dia sama Ines sama Wawa gimana (yg ternyata failed juga). Terus kmaren si Ayu sama Ines kan sempet nanya-nanya jalan ke Jatinangor itu caranya gimana abis keluar tol ke saya. Ternyata mereka ikut seminar apaaa gitu di jetinenjer. Abis itu kita ngomongin pengen liburan.

Iya bangeeeet pengen bangeeeet! Kangen banget sama batu karas!
Ayu ngajak taun baruan, tapi belom tau ke mana. Cuma memang kita gabisa formasi lengkap lagi karena anak-anak udah pada nyebar. Si Ayu, Ines, Au di Bandung, Yuda di Bogor, Wawa di Bintaro, Fuady+Lia di Bekasi, Malendra+Saya+Zikri di Jakarta, Olin di Tangerang, Si Rafi di Hamburg (kumaha carana ti Hamburg balik ke sini buat taun baruan? Ga mungkin kaleee mending juga di Jerman main salju). Ya emang sih nyebarnya ga jauh-jauh amat kecuali Rafi, tapi tetep aja, semua jadwal idupnya udah beda. Kerjaan beda, lokasi beda. Terus lagian kata si ayu, kemungkinan Au gabisa diajak taun baruan, soalnya Radian—pacarnya Au, dokter yang berbulan-bulan kemaren bertugas di Papua—udah balik ke Bandung. Si Au pasti sama Radian, taun baruan dijamin nge-charge. Zzzzz,,,

Abis itu si Ayu ngajakin ke ujung genteng aja sebelum taun baru, which is liburan Natal. Semoga jadi…semoga jadi. Lama sekalski nggak mantai. Palingan yg nyetir si Yuda kali. Kecuali Malendra, Fuady sama Zikri ikut. Ga mungkin cewe2 yang disuruh nyetir soalnya medan-nya susah cenah (cenah da saya belom pernah ke ujung genteng. Kesian deh)

Neno terpaksa dikacangin, walaupun akhirnya saya kenalin juga ke Ayu. Kebetulan Neno itu temen kampusnya Rangga, pacar dari Wawa—salah satu genggong saya juga—sempit eh dunia?

ayu ternyata ke Penvil ini sama kembarannya (iye, dia kembar), Asti, yang skarang kerja di Cikarang. Terus sama sodara-sodaranya juga karena kebetulan salah satu sepupunya yang dari Jerman balik ke Indo, dan langsung ngajak main aja gitu. Si Ayu yang statusnya lagi free (yaiyalah wong hari libur) ya pasti langsung hajar main ke Jakarta. Dan berkat tangan Tuhan, saya dan dia dipertemukan dengan cara yang tidak terduga, di lorong menuju toilet (keterangan tempat kok merusak suasana ya). Kami berpisah pas ayu harus masuk ke studio. Kita nonton film yang sama Cuma jam nya yang beda. Saya jam 5, si ayu jam 7. Saya keluar, jeda sebentar, dia masuk. Ya gitu lah…
Bahagiaaaa deh rasanya. . coincidence 

Tapi bangun-bangun, sekarang ini, saat ini, saya mendadak sedih. Bukan apa-apa, tapi justru karena saya ngerasa udah kehilangan banyak hal yang dulu bisa bikin saya sangat menikmati hidup. Sahabat-sahabat, kehidupan kampus, pahit-manisnya 4 taun di kampus (walo kalo dipikir-pikir banyakan manisnya), berikut ga punya pacar. Ngok.
Oke iya lebay dan kedengeran kurang bersyukur memang. Saya bukan korban banjir, bukan korban tsunami, bukan korban gempa, gunung meletus, atau bencana alam lain. Saya juga masih punya kehidupan yang nggak bisa dibilang buruk-buruk amat. Saya punya pekerjaan, punya keluarga utuh harmonis, ga kekurangan uang atau apa. But still, I’m suffering in this loneliness. Jangan tanya soal kantor. Buat saya kantor emang Cuma buat kerja, ga diaduk sama sosialisasi di luar. Yah, pertemannan memang perkara cocok-cocokan. Di kantor sih nggak ada yang sebegitu klik-nya buat diajak temenan beneran (kecuali Si Neno yang kmaren saya ketemu itu. Itu pun udah resign kan dia). Di kantor ada juga memang member sosialita yang uwiw gayanya sejutaaaa (semilyar kali). Isinya Mahmud-mahmud (mamah muda) pleus seus-seus yang hobinya ajep-ajep, buang uang, dan pamer. In contrast, yang cupu super juga ada. Yang seumuran juga banyak sih, tapi tetep : ga klik. We are not on the same wavelength. Oh shit.
I’m missing my old times. #ingsreuk

Udah ah, kalo terus-terusan ditulis, bisa mewek beneran. Dunia nyata emang pait. See ya my blog! #ambil anduk #mandi
Catatan di suatu pagi dalam sebuah kamar, di rumah nenek, Jakarta Selatan.

Kamis, 09 Desember 2010

Mata Angin

“Jadi yang mana, Mbak?”
Pelayan toko eskrim yang berdiri di belakang etalase refrigerator kaca itu berkacak pinggang, menatapku dengan alis yang sebelah mengangkat. Dasar pelayan tak sopan! Berani-beraninya bersikap begitu di depan pelanggan.

“Bentar. Bentar.”

Mulutnya berdecak mendengar jawabanku barusan.
“Mbak, saya udah nanya sekitar enam kali. Mbak mau eskrim yang mana. Rasa apa, berapa scope, atau paket yang mana.” Nada bicaranya sudah mulai naik satu tingkat lebih tinggi dari terakhir kali dia bertanya.

“Terus? Ada aturannya mesti enam kali ditanya dan saya harus bilang saya mau milih apa?”

Sepertinya pelayan yang satu itu kehilangan kesabarannya. Dia meninggalkan tempat itu sementara rekan kerjanya langsung mengambil alih tugasnya, memasang senyum yang dipaksakan. Kali ini seorang wanita.

“Silakan, Mbak. Dipilih.”
“Ng…yang mana ya? Ng…” Lagi-lagi aku bingung melihat jajaran kotak-kotak berisi eskrim aneka rasa di depanku.

Di gerai eskrim dalam salah satu mall terkemuka ini, kebetulan sejak tadi hanya ada aku yang setia mematung sampai kini, sementara sisanya duduk manis di kursi-kursi bermeja bundar.

“Mbak, saya mau pesan!” Tiba-tiba di sampingku berdiri seorang lelaki kurus berbaju polo putih. Sepertinya dia seumuran denganku, di kisaran dua puluh awal. Ah, tapi mungkin dia baru belasan akhir. Atau jangan-jangan masih brondong? Saat ini banyak wajah-wajah yang menipu memang, tak sesuai umur. Ah tidak penting! Toh aku tak tahu siapa dia. Tentu saja kami tidak saling mengenal, karena barusan itu ia bicara dengan pelayan toko eskrim, bukan denganku.

Wanita pelayan toko es krim yang bernama Arini—tercantum di bet nama di seragam kerjanya—mengangguk sopan ke arahku, “Mbak silakan lanjutkan memilih, saya melayani mas ini dulu ya!”

“Oke.” Jawabku singkat.

Lalu mereka bertransaksi. Aku tak memperhatikan apa yang dipesan mas-polo-putih itu. Arini masuk ke balik pintu di belakangnya, bagian dapur toko. Sepertinya lelaki di sampingku ini memesan cukup banyak karena tak lama kemudian Arini kembali dengan membawa beberapa kotak yang siap diisi eskrim-eskrim.

“Bingung ya, mbak?” suara laki-laki itu terdengar.
Aku menoleh, takut-takut pertanyaan itu bukan buatku. Ternyata dia benar-benar bertanya padaku, bukan pada Arini si pelayan toko.

“Eh. Iya.”
“Kenapa nggak verry berry strawberry?” ia menunjuk gundukan eskrim pink
“Terlalu manis.”
“Kenapa nggak Chocolate?”
“Terlalu pait.”
“Kenapa nggak oreo cookies and cream?” ia menunjuk lagi gundukan eskrim putih bertabur biscuit coklat diantaranya.
“Rasanya nggak karu-karuan.”
“Maunya yang gimana?”

Sempat aku berpikir sejenak, sampai akhirnya menjawab, “Nggak tau.”
“Hah? Serius nggak tau yang kamu mau?”
Aku mengangguk.

“Gak suka terlalu manis, nggak suka terlalu pait, nggak suka yang aneh-aneh, dan nggak tau pengennya yang gimana.”

“Kalo dicampur semua?”
“Kamu pikir saya mixer?! Campur-campur. Rasanya pasti nggak enak!”
“Loh, belum dicoba udah underestimate.” Dia lalu beralih menunjuk ke arah refrigerator kaca. “Mbak, tolong buat campur ini-ini-sama ini.” Setelah itu menunjukku, “Buat mbak ini.”

“eh sembarangan. Enggak mbak! Saya nggak mau dicampur-campur begitu.”
“Saya yang bayar.” Mas-polo-putih itu menambahkan.
“Kamu pikir saya nggak mampu bayar?! Pokonya saya nggak mau!”

Pelayan toko bernama Arini itu menoleh sekali ke arahku lalu ke lelaki itu. Kepalanya menggeleng mengikuti arah pembicaraan, seperti orang sedang menonton bulu tangkis.
“Jadi gimana ini? Pesenan mas sudah saya bungkus, ini kembaliannya. Mbak jadinya pesen apa?” Arini akhirnya bicara. Ia menyodorkan pesanan mas-polo-shirt dan uang kembalian,

“Pilihan memang diciptakan untuk dipilih. Dan semua ada enak dan enggaknya. Tergantung selera. Nggak ada yang punya takaran yang sama dalam hal itu, begitu juga standarnya, pasti beda. Pait, manis, nggak karu-karuan, atau apapun kalau sudah dipilih ya dinikmati saja, toh?” Lelaki itu bicara panjang lebar sambil mengambil bungkusan dan memasukkan uang sisa ke dalam saku jeans-nya.

“…”
“Kamu pilih mint chocolate chips aja. Kepala kamu kebanyakan mikir. Butuh yang dingin-dingin. Trust me.”

Sok tau!

Ia lalu melengos, tapi sebelum pintu toko dibuka, ia sempat menoleh dan aku tertangkap sedang terus memandanginya dengan tatap sebal.
“In case kamu mau tau nama saya…” dia mendekat, menjulurkan tangannya.

Mau tak mau aku menjabat tangan itu, hanya demi alas an kesopanan.

“Mata Angin.”
“Apa?”
“Nama saya Mata Angin.”

Pantesan aneh, namanya aja aneh!

“Aneh ya?”
“Enggak sih biasa aja.”
“Bohong. Mata kamu nggak mesti melotot kalo nggak nganggep nama saya aneh. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Anehan kamu sih…milih es krim aja lama, gimana milih jalan hidup?”

Lalu lelaki yang mengaku bernama Mata Angin itu berbalik, membuka pintu toko lalu keluar. Benar-benar meninggalkan toko itu tanpa sekali pun menoleh lagi.

Siapa sih? Tiba-tiba muncul. Pake ceramah! Namanya aneh lagi! Sok kenal.heuh..

“Jadi pesen apa, mbak?” suara Arini memecah kekesalanku pada Si Mata Angin.

Kamu kebanyakan mikir. Terngiang lagi kata-kata Mata Angin. Aku merasa tertampar.

“Mbak?”
“Oke. Oke. Mint chocolate, satu.”

Entah perasaanku saja atau bukan, tapi sempat kulihat Arini menghela nafas. Mungkin dia lega akhirnya akan lepas dari customer labil sepertiku.

Terserah lah. Yang jelas hari ini aku sukses dibuat penasaran oleh sosok bernama Mata Angin.

Mata Angin, dari arah mana kamu datang? Ke arah mana kamu pergi?

Bahkan kompas pun tak bisa menjawab.

Rabu, 01 Desember 2010

Toilet tale


Kejadian hari ini di toilet kantor. Bermula saat saya pengen pipis dan tentu saja menuju toilet. Sebagai gambaran, toilet di gedung kantor saya tepatnya lantai saya itu adalah toilet yang bisa digunakan tidak hanya oleh staff sini, tapi juga oleh pengunjung yang bukan orang gedung sini, tapi sudah punya kartu id VISITOR buat melewati scanner gates. Nah, toilet perempuan di lantai ini entah kenapa WC-nya cuma satu. Jadi begitu masuk toilet, kita akan nemuin jajaran wastaferl, dan satu bilik WC sahajah.

Nah, waktu saya masuk toilet, di depan jajaran wastafel kebetulan di dalem lagi ada Nelly, salah satu temen kantor yang juga lagi ngantri.

Saya : Udah ke toiletnya, Nel?
Nelly: belom..
Lalu kami ngobrol ke sana-sini ngomongin orang. bababahahahha
Lama-lama kok dipikir-pikir lama amat yah orang yang di dalem bilik WC. Abis itu si Nelly nyeletuk, "duh, sakit perut nih gue"

Spontan saya histeris, panik, jungkir-balik dan gelisah *oh, lebay. enggak. enggak gitu kejadiannya. saya cuma bilang, 'yah Nel, jangan boker di sini plis..abis lo pake kan WCnya gue pake. Di lantai tiga aja gih..."
Lalu keajaiban terjadi.
hidung kami menangkap aroma-aroma jengkol, pete, dan sejenis itulah menyeruak entah dari mana.

Nelly : kok bau yah?
Saya : eh, iya iya...bau warteg gini ya...

Abis itu terdengar suara flush kenceng dari dalem WC.
Saya dan Nelly berpandang-pandangan. Saya memandang Nelly, Nelly memandang Saya. Alis berkerut, mulut merengut, hidung ditutup.

Nelly bersabda, "Lo duluan deh ke WCnya."

Sementara itu nggak lama, seorang ibu-ibu keluar dari WC terkutuk itu. Si ibu itu nyamperin wastafel dan bilang, "iya yah, bau yah! Tadi tuh pasti orang sebelumnya yang pake!"
setelah cuci tangan, si ibu keluar dari WC.

Nelly sama saya masih pandang-pandangan. Dikasih lagu india dikit pasti joget nih kita berdua.
Nelly : Boong abis tuh..alibi tu ibu-ibu...tadi gue masuk belum bau. Sana gih lo duluan.

Dengan berat hati saya masuk ke WC itu. tapi urung pipis karena males mendaratkan pantat di WC bekas boker orang. Saat itu memang niat saya ada dua : pipis dan benerin tali...ya tali itu lah...copot sebelah soalnya.
Kenapa bisa copot jangan tanya. Saya juga ga ngerti. Longgar kali.. (ah yeee brarti kurusan :p)

yaudah lah...
intinya, moral ceritanya adalah...buanglah air pada tempatnya. TANPA BIKIN ORANG MENDERITA.

Rabu, 17 November 2010

tiba-tiba




haaaaaahhhh... #menghela nafas panjang

setelah sekian lama males posting, karena ga ada waktu dan ga ada ide juga mo nulis apaan *alibi, padahal mah males*, well akhirnya hari ini saya putuskan menodai blog ini lagi dengan huruf-huruf.
bukan puisi, bukan cerpen, cuma bahasan ringan aja, berhubung saat ini di kantor lagi sepi kerjaan. Magabut, guys...makan gaji buta. Jadi, demi prioduktivitas waktu, mendingan ngeblog sajo..

Berhubung ini ampir akhir tahun, jadi mari kita bahas tentang tahun ini (2010).

Saya bukan tipe orang yang punya target di saat pergantian tahun terjadi, seperti pada umumnya orang-orang. Banyak kan yang pas akhir tahun menjelang taun baru bikin list panjang-panjang hal-hal apa aja yang mesti dicapai di tahun depan. Semacem wish-lists. Sayang seribu sayang, saya mah ga suka bikin begituan.
Bahkan kalo boleh jujur seumur hidup saya baru beberapa kali 'merayakan' yang namanya 'new year's eve'. Selebihnya banyakan dilewati di depan tivi yang menyuguhkan acara heboh panggung-panggung ibukota, yang isinya band-band yang entah dibayar berapa (mahal kali). Itu juga seringnya bukan saya yang nonton tivi, tapi kebalik : saya ditonton tivi, karena ketiduran pas counting-down.
Emang buat saya ga begitu spesial sih ganti tahun. Ga tau deh kenapa. You can call me nerdy becoz of my-thought, but anyway, that's mine not yours.

Oke. balik lagi ke fokus tadi : bahas tahun 2010. Jadi ya, setelah dipikir-pikir taun ini (2010) adalah taun yang bisa dikasih judul 'tiba-tiba' di hidup saya. Banyak ketiba-tiba-an yang terjadi, bahkan tanpa bisa saya prediksi di tahun sebelumnya. Peta hidup juga agak berubah (kalo ga mau dibilang amburadul ga sesuai rencana). Those are :

>> Tiba-tiba saya jadi pegawai bank.
Meeeennn...nggak pernah sedikitpun terlintas di benak saya sebelumnya seumur hidup saya (lebay) bahwa someday saya bakal mencicipi rasanya jadi pegawai bank. Nggak nyambung banget sama latar belakang pendidikan. Kerjaan dateng begitu aja seusai saya lulus kuliah, itu pun berkat iseng masukin CV waktu ada jobfair di kampus (bahkan saat itu belom ngantongin ijazah).
Well, posisi nya memang ga mengikat, dan justru karena itulah dulu ini kerjaan saya ambil. Kenapa? karena waktu awal tahun 2010 itu saya masih dalam tahap nunggu kepastian beasiswa Jepang. Rencananya gini : saya kerja dulu sebagai pengisi waktu, abis itu pas pengumuman beasiswa keterima, saya resign dari kerjaan ini dan fokus kembali ke studi master saya.

Well, seperti kata pepatah : manusia hanya merencanakan, Tuhan yang menentukan.
Rencana saya amblesss ancurrr seketika waktu ternyata pengumumannya menunjukkan saya ga lulus buat beasiswa Jepang itu. Patah hati? pasti. Tapi ya sudahlah...masih banyak lembaga lain yang bisa saya jadikan target buat jadi sponsor studi saya. Saya masih berusaha. Orang tua juga masih terus mendukung buat nyari beasiswa lainnya supaya bisa cepet lanjutin sekolah. Saya masukin ke beberapa, dan sepertinya Tuhan belum mengizinkan saya lagi karena bahkan saat saya masuk nominasi 100-besar Panasonic Scholarship, saya nggak tau! pemberitahuan lewat emailnya ternyata masuk folder SPAM, dan saya baru nyadar setelah deadline pengumpulan berkas ke negara tujuan terlewati.
Patah hati lagi? Pasti. Super duper lebih double. Temen-temen saya yang juga beberapa masuk ke dalam nominasi nggak ada satupun yang memberi kabar. Oke iya saya ngerti ini persaingan. Dan mereka nggak salah. Saya yang kurang tanggap, kurang gesit. Oke. hidup adalah perkara persaingan. Tapi saya percaya, semua orang ditakdirkan untuk jadi 'pemenang' karena pada dasarnya kita adalah makhluk yang terbentuk dari bibit yang terpilih : sperma tangguh yang bisa menyingkirkan jutaan sperma lain dan telur yang matang. *mulai melenceng*

Baiklah, sebelum semakin melanglangbuana pembicaraannya, lebih baik saya loncat ke ketiba-tibaan lainnya :

>> Tiba-tiba saya ngirim naskah novel saya yang pernah laku di pasaran dunia per-note-an facebook. Bulan Juni ngirim, taunya setelah 4 bulan menunggu, yang saya dapet bukan berita bahagia. Yang ada malah bete. Naskah saya ditolak. huhuhuhuhuhu... bete super. Padahal saya ngerasa tulisan saya udah cocok sama si penerbit, karena pada dasarnya saya penggemar berat buku-buku terbitan mereka, jadi rasanya car nulis dan gaya saya udah se-tone sama mereka. Tapi, seperti kata pemred mereka : mencari penerbit seperti mencari jodoh. Mesti cocok segalanya.
Oke, saya baca 'surat cinta' dari penerbit itu dengan hati yang lapang (dilapang-lapangin sih sebenernya). Itu pun gak langsung saya baca setelah paket penolakan itu diterima, tapi saya baca setelah sekitar seminggu setelahnya, kira-kira setelah saya bisa menerima kenyataan *tsaaahhh*

>>Tiba-tiba saya ikutan tes cpns ini-itu.
Dulu, ga ada sedikitttt puun kebayang bakal mau jadi PNS. ya walaupun sampe sekarang juga belom ada yg nyangkut a.k.a jebol tetep aja dari dulu itungannya nggak pernah kebayang bakal ikut berjibaku dengan ribuan orang buat ngedapetin kursi pns. Ini semacem trial-and-error sih, soalnya taun lalu kan belom bisa ikutan. hahaha...jadi nothing to lose sebenernya. iseng-iseng berhadiah. kalo dapet ya dapet, kalo nggak yowis. (Lagian kaga ada duitnya ye PNS :p)


>>Tiba-tiba saya kepikiran hal-hal yang taun kemaren belom kepikiran, semacem urusan jodoh. *hoaaaaaaaaa nulisnya aja malu* Jodoh di sini definisinya bukan sekedar pacar yah...maksudnya, mm lebih ke pasangan untuk masa depan *tssaaahhh bahasa gueee*
Iya, itu. Status 'tanpa pasangan prospektif 'yang awalnya ga menyiksa ini, kok sekarang jadi serangan balik buat diri sendiri. Waktu lebaran misalnya, keluarga udah menunjukkan gelagat nanya-nanya 'mana calonnya'. ebuseng...umur saya baru dua dua tanteeeee...
untung dari pihak keluarga ibu maupun ayah masih ada sepupu yang umurnya di atas saya yang juga belum menikah (DAN cewek). berarti untuk saat ini saya 'aman' dulu deh.
Kayaknya posisi 'aman dari teror pertanyaan' itu akan cuma bertahan sampe taun depan karena si eteh (kaka sepupu yang masih jadi 'tameng' itu akan nikah taun depan) o-m-g.


ya sudahlah..being 20 something is never be so easy.

too many options, too many crossroads...
too many questions, too many concealed thought.

diantara ketiba-tibaan itu pasti terselip hikmah yang kalo dpikir-pikir mungkin bakal berguna juga buat pendewasaan diri saya *tsaaahhh...ampuuun bahasanya*
Udah dulu ah. nanti disambung lagi. mungkin.

ciao!

Rabu, 22 September 2010

Old times reminder



Pernahkah kamu mengunjungi tempat yang dulu rasanya sangat lekat di kepala, hati, dan bahkan matamu setelah bertahun-tahun meninggalkannya?
Baiklah, kuralat. Tidak perlu bertahun-tahun, tapi anggap saja cukup lama untuk membuatmu merasa terasing ketika kembali menjejakkan kakimu di sana, dan menghirup aroma udara di sekitarnya.
Pernah?

Maka anggap saja kali ini aku sedang bernostalgia, berdiri pada sebuah bangunan yang tidak bisa dibilang tua karena seperti baru beberapa waktu lalu direnovasi, tapi tetap kuyakini sebagai gedung tua karena pada dasarnya ia telah berumur lebih dari angka lilin kue ulang tahunku yang berjumlah dua puluh dua.

Anggap saja kali ini aku sedang mendatangi sekolah dasar kita yang dulu pernah menyaksikan perjalanan enam tahun beratus anak-anak usia lima sampai belasan. Tempat kita dulu diperkenalkan pertama kali pada bangun datar, bangun ruang, majas-majas, puisi, prosa, karawitan, hokum alam, Newton, Disney, wayang golek, cerdas-cermat dan lain sebagainya.

Seperti yang sudah tadi kubilang di awal, rasanya begitu asing, dan berbeda.

Maka kini aku sedang merasakan itu semua saat akhirnya setelah beberapa tahun melanglangbuana pada dunia yang berbeda, akhirnya kita kembali bertatap muka. Kamu dengan aku. Aku dengan kamu.


“Apa kabar?”
Itu kalimat pertama yang kamu lontarkan saat mata kita beradu terlalu lama untuk dibiarkan menggantung tanpa kata.

Seperti halnya orang asing yang ditanya pertanyaan standar begitu, jawabanku pun pendek saja, “Baik.”

“Lama ya, nggak ketemu?”

Sejujurnya aku ingin mendorong kepalamu keras-keras saat mendengar lanjutan kalimat basa-basi yang kamu ciptakan baru saja,tapi apa mau dikata, bahkan sepertinya aku harus mendorong kepalaku sendiri dulu, karena lagi-lagi menjawab seperti orang kekurangan kosakata, “Iya.”

“Mmm…”
“Hmm…”

Lalu kita saling melempar senyum. Senyum, bukan tawa. Ada canggung yang kentara, hening yang memberi jeda. Jarak kita berdiri pun menjabarkan segalanya : bahwa kita sudah terlalu jauh dipisahkan waktu, hingga bahkan pori-pori kulit kita sudah tidak saling mengenal satu sama lain. Padahal dulu…
ah ya sudahlah.

Entah apa yang membuatku tak bergerak untuk mengakhiri pertemuan tidak bermutu ini. Sayangnya satu yang harus diakui, ternyata jauh di hati kecilku, aku menginginkan pertemuan ini. Bahkan lebih dari itu, aku mengharapkan yang terjadi lebih dari sekedar pertemuan dua orang asing, tapi pertemua dua orang yang saling merindu.

Terlalu.
Aku kebanyakan meracau.


Kamu sudah berubah. Mungkin aku pun begitu di matamu. Ada gurat dewasa yang jelas terpahat dari wajah-wajah kita yang semakin matang. Tidak ada lagi seragam yang membungkus tubuh, tidak ada lagi buku yang dipeluk di dada. Kita telah dibesarkan oleh waktu.

Maka saat kamu meminta kontakku kembali sambil berkata, “Baiklah, kita kenalan lagi saja.", kutanya balik,
"Seperti orang asing?"

Lalu kamu mengangguk mantap.
"Halo, gue Fahri."

Kamu berhasil menarik bibirku naik tersenyum kecil.
Baiklah, stranger...aku mau tau siapa kamu yang baru.

Minggu, 19 September 2010

Sepi

ini bukan sekedar patah hati
ini lebih dari seonggok hati yang dibelah dan dicacah lalu diabukan dan dibawa angin pergi
ini remuk yang menyakiti

seperti kayu bakar hitam yang ditiup kipas pelan-pelan
dan kau tak tahu bagaimana menjadikannya kembali seperti batang pohon yang berdiri angkuh di tengah hutan

ini rasa sakit yang tak pernah ingin kau rasakan
dan di ujung malam, mungkin permintaanmu akan berubah haluan :
mati saja

Senin, 26 Juli 2010

setahun kemarin

well, well, well...

siang-siang, abis makan siang gini lagi gadag pisan di sini. Mending cocoretan deh.
iseng-iseng pas buka-buka fb di BB, buka file notes saya yang jumlahnya ada sekitar 130an.

Terus iseng lagi nyusur tulisan-tulisan lama di situ. eh, ternyata ada note yang dibikin tepat hari ini setahun lalu. Berasa baru. Asa nggak percaya udah setaun aja.
Dan yes, he-eh emang saya udah jarang banget nulis sejak kerja *sigh*
ternyata setaun ke belakang banyak yang terjadi *tsaaahhh*
dari mulai saya TA, lulus, sampe akhirnya awal taun 2010 ini kerja.
tengah taun 2009 ternyata saat-saat saya hobiiiii berat nyampah di notes facebook.
jadi kangen deh

Tulis di sini ah postingan taun lalu...Lalalala
kebetulan bentuknya puisi


Basa Bisu
Monday, 27 July 2009 at 06:54

Hey kamu yang duduk di situ
Mari kuberi sesuatu
Agar kamu cukup tahu

Boleh saja aku diiris tepat di pelipis
Tak apa pula jika kamu memalu pada bahu
atau memanggang di sebelah pinggang
Tapi tolong jangan sobek di muara yang satu itu
Yang jika tersentuh bisa runtuh semua egoku
Yang jika terpompa akan mengembang ke seluruh penjuru dada

Tolong henti cabikan itu
Tega sekali kamu membuatku mengiba
Ingin benci luar biasa tak bisa
Sampai suatu pagi aku buka mata, dan
menyadari selama ini aku memang tak pernah bicara
Tentang pelipis, bahu, pinggang atau muara

Jadi tenang saja, cabikanmu itu bukan dosa
Hanya saja sepertinya aku sedang membangun neraka