About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Sabtu, 23 Juni 2012

Inception


Sore tadi saya terbangun dari tidur yang sebenarnya tidak sengaja. Tahu apa itu tidur tidak sengaja? Saat kalian sedang menggeletakkan diri di atas kasur, mengutak-atik handphone atau membaca, lalu ternyata tidur begitu saja. Lelap seperti ayam petelur sehabis menelan obat tidur (oh yes, terdengar seperti ayam kurang kerjaan atau ayam depresi) Nah, seperti itulah kira-kira.

Sore itu pula saya ingat hampir semua apa yang saya mimpikan selama tidur siang. Bukan bermaksud memirip-miripkan apa yang terjadi dengan Leonardo Dicaprio, tapi saya memang bermimpi di dalam mimpi. Seperti Leo dalam Inception. Ya ya, ini memang keterangan yang tidak perlu untuk diperdebatkan, karena bukan actor utama Titanic itu yang akan dibahas di sini, tapi isi mimpi tadi.

Kata orang, mimpi adalah bunga tidur. Tidak tahu kenapa bisa disebut begitu. Apa tidur itu sendiri pohon, atau air atau pupuk? Entah. Yang pasti mimpi siang tadi berhasil membuat saya terpaku duduk di atas kasur dengan mata yang setengah basah, lalu mengirim beberapa bait doa secara tiba-tiba.  Doa, yang beberapa waktu belakangan ini alpa saya kirimkan untuk dia yang saya temui dalam mimpi tadi. Tidak secara langsung saya temui, tapi saya mimpikan dalam mimpi yang isinya saya sedang bermimpi, Pusing? Baiklah, kita sebut saja kami bertemu di mimpi level dua.

Di sana, saya bertemu Apa’. Beliau memakai setelah baju yang sering dipakainya saat berdinas dan selalu terekam di kepala saya : safari putih, celana kain putih, sampai sepatu pantofel putih, dengan rambut yang tersisir rapi lengkap dengan poni mengkilap akibat minyak rambut. Di sana beliau mengajak saya berbincang, tertawa, bercanda, sementara saya hanya bisa menatapnya nanar, seolah tidak percaya kami bisa bertemu lagi.
Lalu bulir air pun menggelontor dari mata saya, seperti banjir musiman di ibukota : sulit berhenti. Beliau malah tersenyum kecil dan kawed (istilah bahasa sunda untuk gesture bibir mengatup melipat ke dalam mulut menunjukkan rasa gemas), lalu merengkuh saya, seolah saya masih TK, seperti saat saya masih belajar A-ba-ta-tsa.


Dalam dekap hangatnya, saya lancar bercerita-mengeluh lebih tepatnya-. Tentang ini-itu, tentang apa yang saya takutkan akhir-akhir ini, tentang keresahan dan khawatir yang sulit sekali diusir. 
Sementara beliau dengan sabar mendengarkan, mengelus kepala saya dan berpesan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa setiap pedih adalah harga yang harus dibayar untuk kebahagiaan di belakangnya. Dia juga berkata bahwa saya akan mendapatkan yang saya minta asal tetap berdoa.  Berdoa apa saja. 
Tidak ada yang tidak mungkin, bahkan jika Tuhan ingin, bumi pun bisa dibentukNya menjadi limas segitiga. 


Lalu saya melonggarkan dekap itu, mencari mata tajam nan penyayang miliknya. Segera setelah tatapan kami beradu, saya bertanya “Apa’, apa kabar? Sehat?” Seolah tidak ada yang berbeda. Seolah kami masih dalam alam yang sama. Rasanya seperti bertanya pada sosok yang selalu memintaku mengunjunginya tiap liburan tiba. Rasanya masih sama seperti saat berbincang dengan kakek yang selalu membelikan saya serabi hangat di pagi buta setiap menginap di rumahnya.

Lalu dia tersenyum dan bibirnya membentuk kata “Alhamdulillah” tanpa suara. “Jangan sedih lagi, ya!” kali ini ia bersuara, sambil menyeka bagian basah di pipiku yang masih bersisa.

Tapi lalu tiba-tiba warna di sekeliling kami memudar sedikit demi sedikit. Seperti goresan pensil yang disentuh penghapus karet. Apa’, termasuk objek yang kemudian memudar dan akhirnya hilang.

Dari mimpi itu, saya terbangun dalam kondisi sesegukan. Saya tertidur di tepi sebuah telaga. Tapi tak lama kemudian telaga itu ikut memudar beserta semua benda di sekelilingnya. Barulah setelah itu saya benar-benar terjaga. Di atas sebuah kasur bersprei jingga. Di kamar saya.

Mungkin ini bisa disebut sebagai rindu yang tidak terasa. Sudah lama sejak terakhir kali saya mengunjunginya, menaburkan beberapa genggam kelopak bunga yang dicacah dan helai pandan yang dibelah-belah, membasahi permukaan persemayamannya dengan air bening dingin. Saya merasa sebenar-benarnya durhaka. Terlanjur tenggelam dengan keinginan ini-itu, kepusingan di sana di situ.

Apa’…
Maafkan cucu yang akhir-akhir ini khilaf mendoa.

Maka kali ini saya tebus dengan doa khusyuk dalam hening. Bukankah doa tidak harus diucap di depan pusara? Bukankah Tuhan mendengar setiap doa dari mana saja, yang diucap sepenuh jiwa?

Semoga Apa’ baik-baik saja. Semoga rahmat Allah selalu menyertai Apa’. Terima kasih untuk menemuiku meski hanya sekejap mata. Terima kasih untuk ketenangan yang Apa’ suntikkan lewat pelukan (meski maya). Terima kasih untuk berkunjung meski hanya dalam mimpi di level dua. Aku janji, aku akan baik-baik saja, dan jika Tuhan mengizinkan, akan tetap membuatmu bangga. Yang tenang di sana ya, Pa’…

Miss you,
Teh Ica.

Minggu, 15 April 2012

Jasmine Tea


Barangkali takdir sebuah kaleng minuman kosong yang tergeletak di tengah jalan adalah memang untuk ditendang. Maka di tengah serangan dinginnya udara malam, aku membantu menuntaskan takdir sebuah kaleng diet coke yang kutemukan di trotoar : ditendang asal-asalan tanpa tujuan, sampai akhirnya kutemukan tempat sampah, lalu kupungut si kaleng, mengantarnya pada kumpulan sampah lainnya di dalam sana, habitat barunya.

Setelah itu kakiku kembali mengayun, menyusur jalan yang semakin sepi. Orang waras memang akan lebih memilih diam di rumah ketimbang berjalan kaki sendirian di luar cuaca tak bersahabat begini. Jaket yang kukenakan rupanya tidak cukup hangat melindungi tubuhku yang kurus ringkih, terlebih di dalamnya bersemayam hati yang sedikit membeku diterjang badai salju.

Sebuah kedai minuman kecil yang tak jauh dari lokasi tempat sampah tadi seolah memanggil-manggil mengajak masuk.Kudekati ruko mini di jalan kecil di seberang sana. Ada papan kayu berukir nama kedai itu terpasang rapi tepat di atas pintunya : BANYU.

Tepat saat aku mendorong pintu kedai it, suara klenting lonceng berbunyi. Sang pramuniaga wanita dengan sigap menyapa, “Selamat datang!” dengan muka sumringah yang kurasa terihat dipaksakan. Ada gurat lelah yang tampak diantara kantung mata yang disembunyikannya dengan tumpukan bedak. Mataku berkeliling. Kedai ini tidak terlalu ramai. Hanya ada tiga meja terisi. Satu diisi sepasang kekasih (mungkin, perkiraanku saja), satu meja diisi empat orang yang tampak serius berdiskusi dengan dua buah laptop menyala diantaranya, sementara satu lagi hanya diisi seorang lelaki yang sedang membaca Koran lebar-lebar hingga wajahnya tak terlihat sama sekali. Aku memilih duduk di kursi berkapasitas dua orang di dekat jendela, di samping akuarium berisi arwana.

Pramuniaga wanita yang tadi sigap menyapa kini sudah menyodorkan sebuah buku menu ke atas meja. “Silakan dipilih, kalau sudah mau order boleh panggil sa…”

“Satu cangkir jasmine tea panas, gula cairnya dipisah, sama satu slice tiramisu.” Aku memotong kata-kata Sang pramuniaga. Bukan karena alas an khusus, pun bukan karena aku sudah tahu isi menu di kedai ini sebab toh ini baru pertama kalinya aku berkunjung, hanya ingin cepat saja. Kurasa menu yang kupesan seharusnya ada di setiap kedai minuman semacam ini.


Setelah menguasai diri, pramuniaga itu tersenyum mencatat pesananku. “Ada lagi, mbak?”

“Nope. Sementara itu dulu aja.” Kukembalikan buku menu yang bahkan belum terbuka itu. Sang pramuniaga berbalik pergi kea rah dapur.

Aku melempar pandang kea rah jendela, menghela nafas panjang sambil membetulkan ikatan rambut yang merosot ke posisinya semula : menguncup tinggi seperti egoku sendiri.

Hangat di dalam sini, hingga kuputuskan melepas jaket yang kukenakan tadi. Sebuah tissue kertas menggiring tanganku meraih bolpen dalam saku, lalu menorehkan tinta di atasnya :

Duri, untuk sekian kali menancap tanpa ditanam

Lalu untuk apa kau tbuh sendiri?

Sememntara izin tak pernah terproklamasi

Maka mestikah kita menyalahkan pertemuan

Yang bermuara pada menyalahkan Tuhan atas perjalanan yang pernah diingini namun lalu terpaksa berhenti?

Mataku tersangkut pada meja berisi sepasang kekasih tadi. Lima jari si pria menaut tepat di sela lima jari tangan wanitanya. Lau sesekali mereka tertawa, entah membicarakan apa. Aku menelahn ludah, memilih memutar kepalaku kea rah arwana, siapa tahu bisa menemukan damai dibanding iri. Ah, yang kudapati hanya pemandangan seekor ikan besar bermulut monyong yang mondar-mandir seperti sedang fashion show tanpa busana.

Aku mencoreti semua tulisan dai atas tissue kertas tadi hingga tak satu pun huruf dapat terbaca lagi. Tidak sehat membaca ulang sesuatu tentang gundah yang belum berhasil dibelah-cacah.

Seorang pelayan (kali ini laki-laki) mengantarkan pesananku ke atas meja, menyajikannya dengan rapi, lalu pamit sopan mempersilakanku menikmati. Aku menganguk lalu menuangkan gula cair ke dalam cangkir berisi jasmine tea, lalu mengaduknya sepuluh kali seratus delapan puluh derajat searah jarum jam, dan mengangkat sendok the di titik tepat dimana tadi ia tercebur pertama kali. Begitulah caraku mengaduk gula dalam the. Tidak kurang, tidak lebih.

Aku mengangkat cangkir itu lalu aroma the melati menguar memenuhi rongga hidungm seperti mencoba menghangatkan setiap pori yang sudah disiggahi angin dingin sejak tadi.

Tiba-tiba saja pandanganku meremang, seperti tersaput banjir bandang. Rupanya tidak hanya kerongkonganku yang terhangatkan, tetapi sesuatu di dada kiri yang berdegup setiap saat ikut tercairkan, dan ujungnya pertahanan pada kelopak mata tak mau kalah ikut terlumerkan.

Bagaimana tidak? Secangkir jasmine tea tidak hanya menumpang lewat melintasi organ pencernaanku saja, ia juga berhasil mengantarkan setumpuk memori yang kupikir sudah disimpan dengan rapi, serapat gundukan tanah yang kini sudah mengabadikan ikatan tubuhmu dengan bumi di bawah sana.

Bara, apa kabarmu di sana? Apa Tuhan mengizinkanmu bernafas lega di surga-Nya?

AKu hanya bisa menyelipkan doa di sela setiap aku menghela.

Aku tahu kamu benci air mata.

Tenang saja, Bara, aku baik-baik saja. Asal kamu juga iya. Asal kamu bahagia di sana.

Minggu, 25 Maret 2012

(un)faithful

“Halo?” Perempuan bertampang kusut itu menjawab panggilan di telepon genggam yang sudah berdering sekitar 5 kali, setelah sebelumnya menyeka ingus yang mengalir deras.

“Yaelah, masih aja?” suara perempuan satunya di seberang sambungan telepon sana terdengar berkomentar tanpa basa-basi.

“Apanya yang masih?”

“Mewek-mewek telenovela.”

“Ini flu.”

“Berani tarohan nggak, kalo bohong masuk neraka paling jahanam dari segala jenis neraka?”

“Gak cukup ya idup gue mirip neraka sampe masih harus disumpahin? Baik banget deh lo.” Perempuan berwajah kusut yang sebenarnya berparas cantik itu memutar bola matanya, skeptic, lalu melempar tubuhnya sendiri ke atas spring bed bersprei biru langit.

“Ya nggak gitu, maksud gue. Ya udah sih, nggak usah dinangisin terus. Buang-buang energi.”

“Daripada gila.”

“You are.”

“Ya gimana nggak gila gue, Nes, bayangin aja…ketipu tau nggak sih ini judulnya?! Lo tau kan gimana gue cinta mati sama Willy…”

Lalu mengalirlah cerita dari bibir tipis perempuan berwajah kusut bernama Rissa itu setengah emosi, pada telinga sahabat wanitanya di ujung telepon sana, Vanessa. Cerita yang berulang-ulang dikeluhkan Rissa dalam narasi yang berbeda sekitar seminggu ini membuat Vanessa hampir hafal urutan ceritanya. Ia bahkan sempat mengambil gelas di dapur dan mengisinya dengan air dari galon, baru kemudian menempelkan lagi gagang telepon ke kupingnya, sementara Rissa masih dengan menggebu-gebu bicara tanpa henti seolah ada kuping Vanessa mendengar semuanya, padahal tidak.

“Nes, denger gue gak sih? Kok diem aja?”

“Denger kok, denger. Ya abis mau komentar apa lagi coba? Kan udah dibilang, udah deh, move on.”

“Move on gampang. Yang susah Let Go!”

“Mulai deh, berfilosofi.” Kini giliran Vanessa memutar bola matanya, mengempaskan tubuhnya, kali ini ke sofa mini di samping ranjangnya.

“Ya gue juga nggak mau begini sebenernya. Si brengsek itu emang bener-bener kurang ajar. Bisa-bisanya nyolong hati gue sejauh ini. Demi perempuan lain yang sampe sekarang belom gue tau siapa. Shit.”

“Yakin banget sih kalian bubar gara-gara perempuan lain. Ada buktinya?”

“Pasti, Nes. Intuisi gue yang bilang. Dan itu jarang salah. Satu diantara seratus lah palingan salahnya. Kali ini gue rasa bener. Kalo sampe, gue nemu tu cewek…”

“Mau diapain? Digampar? Dijambak? Lah…yang brengsek kan bukan perempuan itu, Sa. Tapi laki lo. Lagian, pertanyaan selanjutnya : emang lo udah bener-bener usaha mempertahankan Willy? Coba lo tanya diri lo sendiri : sudahkah lo jadi tempat berlabuh yang tepat buat Willy sampe dia nggak perlu cari pelabuhan lain?”

“Lo kok jadi belain Willy?! Jadi belain perempuan itu?” Nada bicara Rissa meninggi.

“Perempuan yang belom tentu ada.” Vanessa mengoreksi, lalu melanjutkan, “Listen to me, dear Rissa. You deserved better. I guarantee.”

“Lo bilang gitu karena lo gak tau rasanya, Nes. Gue pikir Willy orangnya. Yang terakhir.” Rissa memelankan suaranya, sudah terlalu lelah dengan matanya yang memberat.

“Yang ternyata bukan. Oh well, inget deh Sa, orang datang di hidup kita nggak melulu sebagai anugerah, tapi sesekali juga Cuma sebagai pelajaran. In this case, Willy is the second one.”

“Lo beruntung ya, Nes… punya Danar.”

“Yes, I do. Tapi kita nggak pernah tau dengan siapa kita akan berakhir. Jodoh, itu masih misteri.”

Bel apartemen Vanessa tiba-tiba berbunyi. Ia melirik jam di samping kasurnya. Jam 11 malam. Perlahan ia membuka pintu, lalu mendapati seseorang berdiri di depan sana. Matanya membulat, buru-buru mendaratkan telunjuknya ke bibir sang tamu, pertanda larangan bersuara.

“Sa, mendingan lo sekarang istirahat ya…jangan nangis-nangis lagi. Besok kerja kan?”

“Dunno. Gue gak enak badan.”

“Ya udah. I’ll call you later ya!”

“Thanks ya, beibo.”

“Nevermind. Nitey nite, darla…”

KLIK.

Vanessa membalikkan badannya dengan disambut pelukan hangat tamu yang sudah masuk dan mengunci pintu.

“Kangen kamuuu, sweetheart…”

“So do I, sugar…” Willy mendaratkan sebuah kecupan pelan di bahu Vanessa.

Sementara itu, Rissa memandang layar smartphone nya setengah merasa bersalah.

Danar : Cha, mau aku bawain KFC ke sana? Kamu belum makan dari siang, sayang…

Selasa, 24 Januari 2012

earl grey


Aku membetulkan letak kacamata yang agak melorot, lalu menaikkan resleting jaket tebal yang kukenakan sampai ke dagu. Meskipun memakai heater, tetap saja ruangan kamar ini terasa dingin. Tidak heran, toh memang salju turun hari ini di luar sana untuk pertama kali di musim ini.

Masih dengan duduk di atas kasur dan memeluk diri sendiri, mataku menerawang ke luar, ke arah dimana bulir-bulir seperti kapas itu akhirnya berguguran. Tidak biasanya aku menyambut salju dengan lesu. Ini jelas tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Aku tahu betul penyebabnya. Kamu.

Kuputuskan untuk melangkahkan kaki ke dapur, membuat minuman panas untuk menghangatkan perut, meski mungkin hati tetap beku. Kamar Armel--teman satu flatku--masih tertutup rapat, pertanda sang penghuni masih dibuai mimpi. Wajar saja, ini masih jam 5 pagi dan matahari belum pamer eksistensi.

Aku menguap, menggeliat, dan mengambil sebuah cangkir dari lemari. Earl grey favorit kuseduh tanpa campuran air dingin. Wangi teh bercampur citrus menyeruak seketika, lalu dengan tidak sopannya aroma itu mengorek album-album di kepala yang seharusnya tidak dibuka. Tidak sekarang, tidak saat seperti ini, saat mataku sulit diajak kompromi agar tidak ikut berhujan seperti cuaca beberapa minggu terakhir. Oh yes, lihat kan, mataku mulai berkaca, meski langsung aku seka.

Buru-buru kuambil cangkir itu dari meja dapur dan menangkupkan kedua telapak tangan ke sekelilingnya, duduk di depan TV dan mencari acara yang menarik. Menarik? Tentu tidak ada. Kepalaku terlalu penuh dengan pertanyaan 'kenapa' yang belum ada jawabnya.

Menyeruput earl grey memang seolah menantang diri sendiri, melarutkan diri dalam kenang yang sulit diajak berhenti. Terutama saat melankolis begini. Kamu tahu, banyak cerita yang kita bagi diantara bercangkir-cangkir teh beraroma citrus ini? Kamu ingat, berapa jam yang pernah kita habiskan membahas ini-itu ditemani wangi teh kesukaanku ini? Aku tak menghitung, tapi tak mungkin lupa, betapa earl grey sering jadi barang ketiga--bukan orang ketiga--diantara kita. Sesekali kita berdebat soal terlalu manisnya atau kurang gulanya, meski berakhir dengan tawa. Ah, dan ya, tak usah ditanya, aku sedang merindukan itu semua. Rindu, yang saking seringnya ditahan, kini lebih senang bermuara pada mata. Jadi, jika ada yang bertanya mengapa mataku sering seperti habis bertinju, anggap saja aku sedang mengandung rindu.

Semoga kamu belum lupa betapa aku mengagumi salju. Saat mereka akhirnya tiba di bumi yang kita pijak, aku akan berlonjak girang dan memelukmu kencang, "Saljuuuuu...wooohooo!"

Tapi kini aku hampir lupa rasa hangat peluk itu. Terbalik dengan rasa dingin salju yang justru sering aku rasakan meski dalam rendaman air beruap di bathtube. Dingin yang menggiit, seperti menancap-tercabut-menancap-tercabut berulang kali di dada sebelah kiri tempat pusat denyut bersembunyi.

Kira-kira begitu pula saat mataku tersangkut pada cangkir di pelukan telapak ini, yang kita beli Natal lalu. Meskipun kita tidak merayakannya, bukan bagian dari umatnya, tapi kita selalu suka warna-warni suasananya, bintang-bintang, bola-bola dan hiasan di sepanjang kota, seolah tidak ada tempat untuk kesuraman dan putus asa.

Sayangnya, masa sudah berbeda. "Dunia berputar, roda bergulir" begitu kata salah satu buku filsafat yang pernah kubaca. Rupanya kali ini dunia sedang berputar pada arah yang tak kusuka, belum bisa kuterima.

Bahwa pertemuan dan perpisahan diciptakan seperti dua sisi koin yang sama, aku sudah tahu, tapi aku juga percaya pada pengecualian-pengecualian. Kamu, salah satu yang kupikir akan masuk dalam hal-hal terkecuali itu, yang ternyata tidak. Kita tiba pada ujung bernama akhir, meski rasanya belum ingin.

Kuselipkan earphone pada kedua telinga. "Sky!Sky!Sky!" Depapepe yang biasanya bisa menjadi pemercik aura bahagia nyatanya belum bisa mengajak bibirku tertarik naik. Ia masih melengkung, ke bawah. Serba salah.

Lalu telepon genggam di sampingku bergetar. Sebuah pesan masuk di sana. Nama yang susah payah aku usahakan hapus tapi tak bisa, muncul di layar.

xxxxxxxxxxxxxxxx : Lagi apa, hey? Bangun deh, udah salju di luar :)

Hal-hal semacam ini yang membuatku sulit beranjak pergi. Bagaimana bisa, jika segala di sekelilingku masih semua tentangmu, dan bahkan kamu masih begitu.

Aku memilih meninggalkan earl grey, mematikan TV, mengencani kasur dan selimut tanpa membalas apapun. Pernah dengar wanita sering makan gengsi? Anggap saja sekarang aku sedang membiasakan diri dengan makanan itu. Makan gengsi. Semoga kenyang.

Jaket terpasang, kaus kaki dipakai, mata terkatup, selimut menutup. Aku siap berhibernasi. Rasanya tak ingin bertemu salju kali ini, berharap saat bangun sudah disirami matahari.

Bukankah ada pengecualian untuk segala sesuatu? Aku memang pernah begitu mencintai salju, kecuali setelah sadar bahwa mereka menyulap segala yang berwarna-warni menjadi kelabu. Seperti kita. Seperti kamu.

-fin-

earl grey


Aku membetulkan letak kacamata yang agak melorot, lalu menaikkan resleting jaket tebal yang kukenakan sampai ke dagu. Meskipun memakai heater, tetap saja ruangan kamar ini terasa dingin. Tidak heran, toh memang salju turun hari ini di luar sana untuk pertama kali di musim ini.

Masih dengan duduk di atas kasur dan memeluk diri sendiri, mataku menerawang ke luar, ke arah dimana bulir-bulir seperti kapas itu akhirnya berguguran. Tidak biasanya aku menyambut salju dengan lesu. Ini jelas tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Aku tahu betul penyebabnya. Kamu.

Kuputuskan untuk melangkahkan kaki ke dapur, membuat minuman panas untuk menghangatkan perut, meski mungkin hati tetap beku. Kamar Armel--teman satu flatku--masih tertutup rapat, pertanda sang penghuni masih dibuai mimpi. Wajar saja, ini masih jam 5 pagi dan matahari belum pamer eksistensi.

Aku menguap, menggeliat, dan mengambil sebuah cangkir dari lemari. Earl grey favorit kuseduh tanpa campuran air dingin. Wangi teh bercampur citrus menyeruak seketika, lalu dengan tidak sopannya aroma itu mengorek album-album di kepala yang seharusnya tidak dibuka. Tidak sekarang, tidak saat seperti ini, saat mataku sulit diajak kompromi agar tidak ikut berhujan seperti cuaca beberapa minggu terakhir. Oh yes, lihat kan, mataku mulai berkaca, meski langsung aku seka.

Buru-buru kuambil cangkir itu dari meja dapur dan menangkupkan kedua telapak tangan ke sekelilingnya, duduk di depan TV dan mencari acara yang menarik. Menarik? Tentu tidak ada. Kepalaku terlalu penuh dengan pertanyaan 'kenapa' yang belum ada jawabnya.

Menyeruput earl grey memang seolah menantang diri sendiri, melarutkan diri dalam kenang yang sulit diajak berhenti. Terutama saat melankolis begini. Kamu tahu, banyak cerita yang kita bagi diantara bercangkir-cangkir teh beraroma citrus ini? Kamu ingat, berapa jam yang pernah kita habiskan membahas ini-itu ditemani wangi teh kesukaanku ini? Aku tak menghitung, tapi tak mungkin lupa, betapa earl grey sering jadi barang ketiga--bukan orang ketiga--diantara kita. Sesekali kita berdebat soal terlalu manisnya atau kurang gulanya, meski berakhir dengan tawa. Ah, dan ya, tak usah ditanya, aku sedang merindukan itu semua. Rindu, yang saking seringnya ditahan, kini lebih senang bermuara pada mata. Jadi, jika ada yang bertanya mengapa mataku sering seperti habis bertinju, anggap saja aku sedang mengandung rindu.

Semoga kamu belum lupa betapa aku mengagumi salju. Saat mereka akhirnya tiba di bumi yang kita pijak, aku akan berlonjak girang dan memelukmu kencang, "Saljuuuuu...wooohooo!"

Tapi kini aku hampir lupa rasa hangat peluk itu. Terbalik dengan rasa dingin salju yang justru sering aku rasakan meski dalam rendaman air beruap di bathtube. Dingin yang menggiit, seperti menancap-tercabut-menancap-tercabut berulang kali di dada sebelah kiri tempat pusat denyut bersembunyi.

Kira-kira begitu pula saat mataku tersangkut pada cangkir di pelukan telapak ini, yang kita beli Natal lalu. Meskipun kita tidak merayakannya, bukan bagian dari umatnya, tapi kita selalu suka warna-warni suasananya, bintang-bintang, bola-bola dan hiasan di sepanjang kota, seolah tidak ada tempat untuk kesuraman dan putus asa.

Sayangnya, masa sudah berbeda. "Dunia berputar, roda bergulir" begitu kata salah satu buku filsafat yang pernah kubaca. Rupanya kali ini dunia sedang berputar pada arah yang tak kusuka, belum bisa kuterima.

Bahwa pertemuan dan perpisahan diciptakan seperti dua sisi koin yang sama, aku sudah tahu, tapi aku juga percaya pada pengecualian-pengecualian. Kamu, salah satu yang kupikir akan masuk dalam hal-hal terkecuali itu, yang ternyata tidak. Kita tiba pada ujung bernama akhir, meski rasanya belum ingin.

Kuselipkan earphone pada kedua telinga. "Sky!Sky!Sky!" Depapepe yang biasanya bisa menjadi pemercik aura bahagia nyatanya belum bisa mengajak bibirku tertarik naik. Ia masih melengkung, ke bawah. Serba salah.

Lalu telepon genggam di sampingku bergetar. Sebuah pesan masuk di sana. Nama yang susah payah aku usahakan hapus tapi tak bisa, muncul di layar.

xxxxxxxxxxxxxxxx : Lagi apa, hey? Bangun deh, udah salju di luar :)

Hal-hal semacam ini yang membuatku sulit beranjak pergi. Bagaimana bisa, jika segala di sekelilingku masih semua tentangmu, dan bahkan kamu masih begitu.

Aku memilih meninggalkan earl grey, mematikan TV, mengencani kasur dan selimut tanpa membalas apapun. Pernah dengar wanita sering makan gengsi? Anggap saja sekarang aku sedang membiasakan diri dengan makanan itu. Makan gengsi. Semoga kenyang.

Jaket terpasang, kaus kaki dipakai, mata terkatup, selimut menutup. Aku siap berhibernasi. Rasanya tak ingin bertemu salju kali ini, berharap saat bangun sudah disirami matahari.

Bukankah ada pengecualian untuk segala sesuatu? Aku memang pernah begitu mencintai salju, kecuali setelah sadar bahwa mereka menyulap segala yang berwarna-warni menjadi kelabu. Seperti kita. Seperti kamu.

-fin-

Rabu, 18 Januari 2012

Surat (sudah tak) CInta #1

Dear you,

Iya kamu. Tak perlu pakai celingukan ke belakang. Memang kamu maksudku. Diam saja di situ. Kau akan kuberi tahu sesuatu. Dengarkan jika masih mau, jika tidak pun tak apa sebenarnya, toh akan kutulis semuanya, meski tidak sekaligus. Dengan bantuan pak pos cinta, surat ini pada akhirnya akan tiba pada kamu, yang kutitipkan sesuatu beberapa waktu lalu, meski kini sudah tidak berlaku : hatiku.

Jikapun tidak mau kau baca, biar saja. Lagipula aku kini mulai sedikit terbiasa tanpamu. Hahaa..bohong besar, yang barusan itu. Seperti lagu Syahrini yang super cheesy hasil recycle lagu di masa lalu : "aku tak biasa"
Kalau boleh jujur, aku tak ingin terbiasa, meski harus.

Kamu tahu tidak, akhir-akhir ini alam sering mendukungku untuk diam dan merenung. Seperti filsuf karbitan saja. Langit lebih suka menemaniku dengan mendung, angin lebih senang membelai kulitku pelan seolah mengelus-elus kasihan, meski sesekali ia menamparku keras. Keras sekali, seperti kerasnya tamparan kenyataan saat kita harus menyudahi semua ini pada akhirnya.

Dan sekarang, aku di salah satu sudut kota, mencoba merangkai sesuatu yang katanya dijuduli surat cinta? Surat (sudah tak) cinta lebih tepat, kurasa.
Bah! picisan sekali kedengarannya. Sedangkal pikiranku yang masih membenci beberapa tempat dan sepanjang jalanan yang pernah kita coreti dengan kenangan yang entah kapan bisa hilang. Sebodoh hatiku yang terkadang masih bertanya : “Kenapa begini akhirnya?” lalu berujung pada rasa sesal yang belum sembuh juga. Iya, belum. Bukan tidak.

Entah, sudah berapa gulung tissue yang terbuang sia-sia dan menyebabkan pohon-pohon di luar sana ditebang lebih brutalnya. Jika karena itu pemanasan global semakin parah, berarti salah satu penyebabnya jelas gara-gara kamu! Oh, lihat, bahkan aku meracau begitu jauh ketika menyalahkanmu. Menghadirkan kamu dalam daftar pelaku dalam hidupku adalah satu dari sekian kesalahan yang aku buat, dan belum bisa kuperbaiki. Lihat saja ke arah hati ini. Sobek di segala sisi.
Begitulah.

Maka jika tujuanmu mengakhiri ini untuk menyakiti, selamat ribuan kali, kamu menjalankan misi dengan sempurna. Bahkan sialnya, wangi tubuhmu masih saja terekam di kepala.
Kau tahu, akan ada beberapa ‘surat (sudah tak) cinta’ berikutnya. Sampai aku bisa melepasmu. Sampai aku bisa benar-benar mengenyahkanmu dari ujung arteri hingga vena. Entah kapan.

Rabu, 21 Desember 2011

22 Desember 2011


Sepanjang perjalanan menuju rutinitas pagi ini, aku terus berpikir bagaimana seharusnya isi tulisan ini. sudah lama sekali rasanya kutinggalkan terapi relaksasi berupa susun-menyusun kata, berlarian dengan cerita, atau sekedar merutuki hal-hal kecil dengan sedikit bumbu bahasa surga.

Susah payah kutulis, kuhapus, tulis lagi, hapus lagi.
Tetap buntu.
Seperti ada lampu merah yg menghalangi untuk maju, kecuali ingin harakiri. Dan celakanya, lampu itu tak kunjung hijau memberi izin berlari.
Akhirnya aku menyerah saja, memasrahkan meski apa yg akan tertulis mungkin akan terlihat buruk, atau tak indah sama sekali. Tak peduli.

*

Mug besar milikmu yg mengepul berisi teh pahit panas di meja ruang makan kita mengingatkanku bahwa kita memang berbeda. Teh, bagimu adalah serupa belahan jiwa, bagiku hanya minuman yg bisa diganti dengan cairan lainnya. Aku tak suka teh berampas, sedangkan untukmu, daun teh adalah sejenis main course dalam gelas. Dikunyah dengan sepenuh hati, dinikmati dengan khusyuk sekali.
Aku suka teh bergula, sedang di matamu gula dalam seduhan teh adalah perusak rasa. Aku suka kopi masa kini, kau hanya suka kopi aroma.

Lihat? akui saja kita berbeda, tapi sadar tak sadar berbagi rasa yg sama : kasih sayang yg besar.
Baiklah..aku tau milikmu untukku jauh lebih besar dari yg mungkin bisa kuberi untukmu. Tentu saja itu tak pernah kupinta, dan kau memberinya secara cuma-cuma. Tanpa agunan, tanpa tagihan.

kemarin, saat di tengah dinginnya hujan kita melahap bakso di meja makan yang sama hanya berdua, diam-diam kuperhatikan wajahmu mili demi mili. Rupanya gurat di sana bertambah jumlahnya, beberapa kerut bertambah kedalamannya, namun senyum teduh itu tetap menyimpan kesaktiannya : meluruhkan duka, menguatkan jiwa.

Lalu aku teringat saat kita pernah terjebak dalam dua musim yang berbeda, terpisah jarak dan terpapar matahari dalam rentang waktu yang tak sama. Sesekali aku terserang malarindu, tapi sepertinya tak sehebat yg kau punya. Hampir setiap hari kau bertanya kabar, makanan, perjalananku, meski tak jarang terlalu letih untuk menjawab panggilan skype atau chat singkat darimu. Parah? Memang.

Maka tadi, meski aku bukan tipe manusia yang senang ikut merayakan apa-apa sesuai kalender dunia, kuucapkan juga kalimat itu : selamat hari ibu ya, bu..

Terima kasih, untuk jadi ibu yg baik dengan segala kekuranganku. Jika engkau perusahaan jasa, sudah kupastikan dirimu telah kaya raya dengan harta. tapi bukankah katamu, harta tak dibawa mati, kekayaan hati yang harus disirami? Selamat ibuku yg kaya ilmu, kaya cinta, kaya maaf, kaya sabar, dan kaya kaya lainnya.. Maaf untuk belum bisa menjadi sepenuhnya seperti yg ibu harapkan. Semoga Allah tetap mengizinkan kita bersama dalam waktu yg masih sangat lama.


I love you, inside out.
-Teteh-

Senin, 25 Juli 2011

salaman

Kapan terakhir kita bertemu? Setahun lalu? Satu semester lalu? Sebulan lalu? Seminggu yang lalu? Atau cukup lama untuk kita sebut saja itu sebagai masa yang lalu?

Lupa.

Mungkin sebenarnya bukan sekali-dua kali akhir-akhir ini kita berpapasan, tapi sepertinya radar kita sedang tak jalan. Aku tak bisa menemukanmu meski kita hanya berjarak beberapa jengkal saja, pun dengan kamu, yang juga sebaliknya.



Well, jadi…ketika akhirnya kuputuskan untuk mencari (dan ketemu juga), tentu saja yang pantas ditanya seperti layak pada umumnya adalah : bagaimana kabarmu? Baik?

Apa? Busuk diserang buluk?



Ya ampun, kasihan. Maaf ya…sebut saja alibiku begini :



“life happens, shit happens. And you, my precious things—were thrown away by the cruel time.“



Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. Ya sudahlah, boleh kita maaf-maafan sebelum Ramadhan? Lagipula di luar bulan sedang terang. Sepertinya kita bisa mulai berbincang. Tidak baik bermusuhan terlalu lama. Semoga kita masih bisa berteman. Atau bersahabat kembali, mungkin? Jika kamu mengizinkan.





*obrolan dengan sebuah buku tulis kesayangan yang sudah jarang dipegang dan pulpen gratisan yang enakeun pisan*