About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Minggu, 25 Maret 2012

(un)faithful

“Halo?” Perempuan bertampang kusut itu menjawab panggilan di telepon genggam yang sudah berdering sekitar 5 kali, setelah sebelumnya menyeka ingus yang mengalir deras.

“Yaelah, masih aja?” suara perempuan satunya di seberang sambungan telepon sana terdengar berkomentar tanpa basa-basi.

“Apanya yang masih?”

“Mewek-mewek telenovela.”

“Ini flu.”

“Berani tarohan nggak, kalo bohong masuk neraka paling jahanam dari segala jenis neraka?”

“Gak cukup ya idup gue mirip neraka sampe masih harus disumpahin? Baik banget deh lo.” Perempuan berwajah kusut yang sebenarnya berparas cantik itu memutar bola matanya, skeptic, lalu melempar tubuhnya sendiri ke atas spring bed bersprei biru langit.

“Ya nggak gitu, maksud gue. Ya udah sih, nggak usah dinangisin terus. Buang-buang energi.”

“Daripada gila.”

“You are.”

“Ya gimana nggak gila gue, Nes, bayangin aja…ketipu tau nggak sih ini judulnya?! Lo tau kan gimana gue cinta mati sama Willy…”

Lalu mengalirlah cerita dari bibir tipis perempuan berwajah kusut bernama Rissa itu setengah emosi, pada telinga sahabat wanitanya di ujung telepon sana, Vanessa. Cerita yang berulang-ulang dikeluhkan Rissa dalam narasi yang berbeda sekitar seminggu ini membuat Vanessa hampir hafal urutan ceritanya. Ia bahkan sempat mengambil gelas di dapur dan mengisinya dengan air dari galon, baru kemudian menempelkan lagi gagang telepon ke kupingnya, sementara Rissa masih dengan menggebu-gebu bicara tanpa henti seolah ada kuping Vanessa mendengar semuanya, padahal tidak.

“Nes, denger gue gak sih? Kok diem aja?”

“Denger kok, denger. Ya abis mau komentar apa lagi coba? Kan udah dibilang, udah deh, move on.”

“Move on gampang. Yang susah Let Go!”

“Mulai deh, berfilosofi.” Kini giliran Vanessa memutar bola matanya, mengempaskan tubuhnya, kali ini ke sofa mini di samping ranjangnya.

“Ya gue juga nggak mau begini sebenernya. Si brengsek itu emang bener-bener kurang ajar. Bisa-bisanya nyolong hati gue sejauh ini. Demi perempuan lain yang sampe sekarang belom gue tau siapa. Shit.”

“Yakin banget sih kalian bubar gara-gara perempuan lain. Ada buktinya?”

“Pasti, Nes. Intuisi gue yang bilang. Dan itu jarang salah. Satu diantara seratus lah palingan salahnya. Kali ini gue rasa bener. Kalo sampe, gue nemu tu cewek…”

“Mau diapain? Digampar? Dijambak? Lah…yang brengsek kan bukan perempuan itu, Sa. Tapi laki lo. Lagian, pertanyaan selanjutnya : emang lo udah bener-bener usaha mempertahankan Willy? Coba lo tanya diri lo sendiri : sudahkah lo jadi tempat berlabuh yang tepat buat Willy sampe dia nggak perlu cari pelabuhan lain?”

“Lo kok jadi belain Willy?! Jadi belain perempuan itu?” Nada bicara Rissa meninggi.

“Perempuan yang belom tentu ada.” Vanessa mengoreksi, lalu melanjutkan, “Listen to me, dear Rissa. You deserved better. I guarantee.”

“Lo bilang gitu karena lo gak tau rasanya, Nes. Gue pikir Willy orangnya. Yang terakhir.” Rissa memelankan suaranya, sudah terlalu lelah dengan matanya yang memberat.

“Yang ternyata bukan. Oh well, inget deh Sa, orang datang di hidup kita nggak melulu sebagai anugerah, tapi sesekali juga Cuma sebagai pelajaran. In this case, Willy is the second one.”

“Lo beruntung ya, Nes… punya Danar.”

“Yes, I do. Tapi kita nggak pernah tau dengan siapa kita akan berakhir. Jodoh, itu masih misteri.”

Bel apartemen Vanessa tiba-tiba berbunyi. Ia melirik jam di samping kasurnya. Jam 11 malam. Perlahan ia membuka pintu, lalu mendapati seseorang berdiri di depan sana. Matanya membulat, buru-buru mendaratkan telunjuknya ke bibir sang tamu, pertanda larangan bersuara.

“Sa, mendingan lo sekarang istirahat ya…jangan nangis-nangis lagi. Besok kerja kan?”

“Dunno. Gue gak enak badan.”

“Ya udah. I’ll call you later ya!”

“Thanks ya, beibo.”

“Nevermind. Nitey nite, darla…”

KLIK.

Vanessa membalikkan badannya dengan disambut pelukan hangat tamu yang sudah masuk dan mengunci pintu.

“Kangen kamuuu, sweetheart…”

“So do I, sugar…” Willy mendaratkan sebuah kecupan pelan di bahu Vanessa.

Sementara itu, Rissa memandang layar smartphone nya setengah merasa bersalah.

Danar : Cha, mau aku bawain KFC ke sana? Kamu belum makan dari siang, sayang…

Selasa, 24 Januari 2012

earl grey


Aku membetulkan letak kacamata yang agak melorot, lalu menaikkan resleting jaket tebal yang kukenakan sampai ke dagu. Meskipun memakai heater, tetap saja ruangan kamar ini terasa dingin. Tidak heran, toh memang salju turun hari ini di luar sana untuk pertama kali di musim ini.

Masih dengan duduk di atas kasur dan memeluk diri sendiri, mataku menerawang ke luar, ke arah dimana bulir-bulir seperti kapas itu akhirnya berguguran. Tidak biasanya aku menyambut salju dengan lesu. Ini jelas tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Aku tahu betul penyebabnya. Kamu.

Kuputuskan untuk melangkahkan kaki ke dapur, membuat minuman panas untuk menghangatkan perut, meski mungkin hati tetap beku. Kamar Armel--teman satu flatku--masih tertutup rapat, pertanda sang penghuni masih dibuai mimpi. Wajar saja, ini masih jam 5 pagi dan matahari belum pamer eksistensi.

Aku menguap, menggeliat, dan mengambil sebuah cangkir dari lemari. Earl grey favorit kuseduh tanpa campuran air dingin. Wangi teh bercampur citrus menyeruak seketika, lalu dengan tidak sopannya aroma itu mengorek album-album di kepala yang seharusnya tidak dibuka. Tidak sekarang, tidak saat seperti ini, saat mataku sulit diajak kompromi agar tidak ikut berhujan seperti cuaca beberapa minggu terakhir. Oh yes, lihat kan, mataku mulai berkaca, meski langsung aku seka.

Buru-buru kuambil cangkir itu dari meja dapur dan menangkupkan kedua telapak tangan ke sekelilingnya, duduk di depan TV dan mencari acara yang menarik. Menarik? Tentu tidak ada. Kepalaku terlalu penuh dengan pertanyaan 'kenapa' yang belum ada jawabnya.

Menyeruput earl grey memang seolah menantang diri sendiri, melarutkan diri dalam kenang yang sulit diajak berhenti. Terutama saat melankolis begini. Kamu tahu, banyak cerita yang kita bagi diantara bercangkir-cangkir teh beraroma citrus ini? Kamu ingat, berapa jam yang pernah kita habiskan membahas ini-itu ditemani wangi teh kesukaanku ini? Aku tak menghitung, tapi tak mungkin lupa, betapa earl grey sering jadi barang ketiga--bukan orang ketiga--diantara kita. Sesekali kita berdebat soal terlalu manisnya atau kurang gulanya, meski berakhir dengan tawa. Ah, dan ya, tak usah ditanya, aku sedang merindukan itu semua. Rindu, yang saking seringnya ditahan, kini lebih senang bermuara pada mata. Jadi, jika ada yang bertanya mengapa mataku sering seperti habis bertinju, anggap saja aku sedang mengandung rindu.

Semoga kamu belum lupa betapa aku mengagumi salju. Saat mereka akhirnya tiba di bumi yang kita pijak, aku akan berlonjak girang dan memelukmu kencang, "Saljuuuuu...wooohooo!"

Tapi kini aku hampir lupa rasa hangat peluk itu. Terbalik dengan rasa dingin salju yang justru sering aku rasakan meski dalam rendaman air beruap di bathtube. Dingin yang menggiit, seperti menancap-tercabut-menancap-tercabut berulang kali di dada sebelah kiri tempat pusat denyut bersembunyi.

Kira-kira begitu pula saat mataku tersangkut pada cangkir di pelukan telapak ini, yang kita beli Natal lalu. Meskipun kita tidak merayakannya, bukan bagian dari umatnya, tapi kita selalu suka warna-warni suasananya, bintang-bintang, bola-bola dan hiasan di sepanjang kota, seolah tidak ada tempat untuk kesuraman dan putus asa.

Sayangnya, masa sudah berbeda. "Dunia berputar, roda bergulir" begitu kata salah satu buku filsafat yang pernah kubaca. Rupanya kali ini dunia sedang berputar pada arah yang tak kusuka, belum bisa kuterima.

Bahwa pertemuan dan perpisahan diciptakan seperti dua sisi koin yang sama, aku sudah tahu, tapi aku juga percaya pada pengecualian-pengecualian. Kamu, salah satu yang kupikir akan masuk dalam hal-hal terkecuali itu, yang ternyata tidak. Kita tiba pada ujung bernama akhir, meski rasanya belum ingin.

Kuselipkan earphone pada kedua telinga. "Sky!Sky!Sky!" Depapepe yang biasanya bisa menjadi pemercik aura bahagia nyatanya belum bisa mengajak bibirku tertarik naik. Ia masih melengkung, ke bawah. Serba salah.

Lalu telepon genggam di sampingku bergetar. Sebuah pesan masuk di sana. Nama yang susah payah aku usahakan hapus tapi tak bisa, muncul di layar.

xxxxxxxxxxxxxxxx : Lagi apa, hey? Bangun deh, udah salju di luar :)

Hal-hal semacam ini yang membuatku sulit beranjak pergi. Bagaimana bisa, jika segala di sekelilingku masih semua tentangmu, dan bahkan kamu masih begitu.

Aku memilih meninggalkan earl grey, mematikan TV, mengencani kasur dan selimut tanpa membalas apapun. Pernah dengar wanita sering makan gengsi? Anggap saja sekarang aku sedang membiasakan diri dengan makanan itu. Makan gengsi. Semoga kenyang.

Jaket terpasang, kaus kaki dipakai, mata terkatup, selimut menutup. Aku siap berhibernasi. Rasanya tak ingin bertemu salju kali ini, berharap saat bangun sudah disirami matahari.

Bukankah ada pengecualian untuk segala sesuatu? Aku memang pernah begitu mencintai salju, kecuali setelah sadar bahwa mereka menyulap segala yang berwarna-warni menjadi kelabu. Seperti kita. Seperti kamu.

-fin-

earl grey


Aku membetulkan letak kacamata yang agak melorot, lalu menaikkan resleting jaket tebal yang kukenakan sampai ke dagu. Meskipun memakai heater, tetap saja ruangan kamar ini terasa dingin. Tidak heran, toh memang salju turun hari ini di luar sana untuk pertama kali di musim ini.

Masih dengan duduk di atas kasur dan memeluk diri sendiri, mataku menerawang ke luar, ke arah dimana bulir-bulir seperti kapas itu akhirnya berguguran. Tidak biasanya aku menyambut salju dengan lesu. Ini jelas tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Aku tahu betul penyebabnya. Kamu.

Kuputuskan untuk melangkahkan kaki ke dapur, membuat minuman panas untuk menghangatkan perut, meski mungkin hati tetap beku. Kamar Armel--teman satu flatku--masih tertutup rapat, pertanda sang penghuni masih dibuai mimpi. Wajar saja, ini masih jam 5 pagi dan matahari belum pamer eksistensi.

Aku menguap, menggeliat, dan mengambil sebuah cangkir dari lemari. Earl grey favorit kuseduh tanpa campuran air dingin. Wangi teh bercampur citrus menyeruak seketika, lalu dengan tidak sopannya aroma itu mengorek album-album di kepala yang seharusnya tidak dibuka. Tidak sekarang, tidak saat seperti ini, saat mataku sulit diajak kompromi agar tidak ikut berhujan seperti cuaca beberapa minggu terakhir. Oh yes, lihat kan, mataku mulai berkaca, meski langsung aku seka.

Buru-buru kuambil cangkir itu dari meja dapur dan menangkupkan kedua telapak tangan ke sekelilingnya, duduk di depan TV dan mencari acara yang menarik. Menarik? Tentu tidak ada. Kepalaku terlalu penuh dengan pertanyaan 'kenapa' yang belum ada jawabnya.

Menyeruput earl grey memang seolah menantang diri sendiri, melarutkan diri dalam kenang yang sulit diajak berhenti. Terutama saat melankolis begini. Kamu tahu, banyak cerita yang kita bagi diantara bercangkir-cangkir teh beraroma citrus ini? Kamu ingat, berapa jam yang pernah kita habiskan membahas ini-itu ditemani wangi teh kesukaanku ini? Aku tak menghitung, tapi tak mungkin lupa, betapa earl grey sering jadi barang ketiga--bukan orang ketiga--diantara kita. Sesekali kita berdebat soal terlalu manisnya atau kurang gulanya, meski berakhir dengan tawa. Ah, dan ya, tak usah ditanya, aku sedang merindukan itu semua. Rindu, yang saking seringnya ditahan, kini lebih senang bermuara pada mata. Jadi, jika ada yang bertanya mengapa mataku sering seperti habis bertinju, anggap saja aku sedang mengandung rindu.

Semoga kamu belum lupa betapa aku mengagumi salju. Saat mereka akhirnya tiba di bumi yang kita pijak, aku akan berlonjak girang dan memelukmu kencang, "Saljuuuuu...wooohooo!"

Tapi kini aku hampir lupa rasa hangat peluk itu. Terbalik dengan rasa dingin salju yang justru sering aku rasakan meski dalam rendaman air beruap di bathtube. Dingin yang menggiit, seperti menancap-tercabut-menancap-tercabut berulang kali di dada sebelah kiri tempat pusat denyut bersembunyi.

Kira-kira begitu pula saat mataku tersangkut pada cangkir di pelukan telapak ini, yang kita beli Natal lalu. Meskipun kita tidak merayakannya, bukan bagian dari umatnya, tapi kita selalu suka warna-warni suasananya, bintang-bintang, bola-bola dan hiasan di sepanjang kota, seolah tidak ada tempat untuk kesuraman dan putus asa.

Sayangnya, masa sudah berbeda. "Dunia berputar, roda bergulir" begitu kata salah satu buku filsafat yang pernah kubaca. Rupanya kali ini dunia sedang berputar pada arah yang tak kusuka, belum bisa kuterima.

Bahwa pertemuan dan perpisahan diciptakan seperti dua sisi koin yang sama, aku sudah tahu, tapi aku juga percaya pada pengecualian-pengecualian. Kamu, salah satu yang kupikir akan masuk dalam hal-hal terkecuali itu, yang ternyata tidak. Kita tiba pada ujung bernama akhir, meski rasanya belum ingin.

Kuselipkan earphone pada kedua telinga. "Sky!Sky!Sky!" Depapepe yang biasanya bisa menjadi pemercik aura bahagia nyatanya belum bisa mengajak bibirku tertarik naik. Ia masih melengkung, ke bawah. Serba salah.

Lalu telepon genggam di sampingku bergetar. Sebuah pesan masuk di sana. Nama yang susah payah aku usahakan hapus tapi tak bisa, muncul di layar.

xxxxxxxxxxxxxxxx : Lagi apa, hey? Bangun deh, udah salju di luar :)

Hal-hal semacam ini yang membuatku sulit beranjak pergi. Bagaimana bisa, jika segala di sekelilingku masih semua tentangmu, dan bahkan kamu masih begitu.

Aku memilih meninggalkan earl grey, mematikan TV, mengencani kasur dan selimut tanpa membalas apapun. Pernah dengar wanita sering makan gengsi? Anggap saja sekarang aku sedang membiasakan diri dengan makanan itu. Makan gengsi. Semoga kenyang.

Jaket terpasang, kaus kaki dipakai, mata terkatup, selimut menutup. Aku siap berhibernasi. Rasanya tak ingin bertemu salju kali ini, berharap saat bangun sudah disirami matahari.

Bukankah ada pengecualian untuk segala sesuatu? Aku memang pernah begitu mencintai salju, kecuali setelah sadar bahwa mereka menyulap segala yang berwarna-warni menjadi kelabu. Seperti kita. Seperti kamu.

-fin-

Rabu, 18 Januari 2012

Surat (sudah tak) CInta #1

Dear you,

Iya kamu. Tak perlu pakai celingukan ke belakang. Memang kamu maksudku. Diam saja di situ. Kau akan kuberi tahu sesuatu. Dengarkan jika masih mau, jika tidak pun tak apa sebenarnya, toh akan kutulis semuanya, meski tidak sekaligus. Dengan bantuan pak pos cinta, surat ini pada akhirnya akan tiba pada kamu, yang kutitipkan sesuatu beberapa waktu lalu, meski kini sudah tidak berlaku : hatiku.

Jikapun tidak mau kau baca, biar saja. Lagipula aku kini mulai sedikit terbiasa tanpamu. Hahaa..bohong besar, yang barusan itu. Seperti lagu Syahrini yang super cheesy hasil recycle lagu di masa lalu : "aku tak biasa"
Kalau boleh jujur, aku tak ingin terbiasa, meski harus.

Kamu tahu tidak, akhir-akhir ini alam sering mendukungku untuk diam dan merenung. Seperti filsuf karbitan saja. Langit lebih suka menemaniku dengan mendung, angin lebih senang membelai kulitku pelan seolah mengelus-elus kasihan, meski sesekali ia menamparku keras. Keras sekali, seperti kerasnya tamparan kenyataan saat kita harus menyudahi semua ini pada akhirnya.

Dan sekarang, aku di salah satu sudut kota, mencoba merangkai sesuatu yang katanya dijuduli surat cinta? Surat (sudah tak) cinta lebih tepat, kurasa.
Bah! picisan sekali kedengarannya. Sedangkal pikiranku yang masih membenci beberapa tempat dan sepanjang jalanan yang pernah kita coreti dengan kenangan yang entah kapan bisa hilang. Sebodoh hatiku yang terkadang masih bertanya : “Kenapa begini akhirnya?” lalu berujung pada rasa sesal yang belum sembuh juga. Iya, belum. Bukan tidak.

Entah, sudah berapa gulung tissue yang terbuang sia-sia dan menyebabkan pohon-pohon di luar sana ditebang lebih brutalnya. Jika karena itu pemanasan global semakin parah, berarti salah satu penyebabnya jelas gara-gara kamu! Oh, lihat, bahkan aku meracau begitu jauh ketika menyalahkanmu. Menghadirkan kamu dalam daftar pelaku dalam hidupku adalah satu dari sekian kesalahan yang aku buat, dan belum bisa kuperbaiki. Lihat saja ke arah hati ini. Sobek di segala sisi.
Begitulah.

Maka jika tujuanmu mengakhiri ini untuk menyakiti, selamat ribuan kali, kamu menjalankan misi dengan sempurna. Bahkan sialnya, wangi tubuhmu masih saja terekam di kepala.
Kau tahu, akan ada beberapa ‘surat (sudah tak) cinta’ berikutnya. Sampai aku bisa melepasmu. Sampai aku bisa benar-benar mengenyahkanmu dari ujung arteri hingga vena. Entah kapan.

Rabu, 21 Desember 2011

22 Desember 2011


Sepanjang perjalanan menuju rutinitas pagi ini, aku terus berpikir bagaimana seharusnya isi tulisan ini. sudah lama sekali rasanya kutinggalkan terapi relaksasi berupa susun-menyusun kata, berlarian dengan cerita, atau sekedar merutuki hal-hal kecil dengan sedikit bumbu bahasa surga.

Susah payah kutulis, kuhapus, tulis lagi, hapus lagi.
Tetap buntu.
Seperti ada lampu merah yg menghalangi untuk maju, kecuali ingin harakiri. Dan celakanya, lampu itu tak kunjung hijau memberi izin berlari.
Akhirnya aku menyerah saja, memasrahkan meski apa yg akan tertulis mungkin akan terlihat buruk, atau tak indah sama sekali. Tak peduli.

*

Mug besar milikmu yg mengepul berisi teh pahit panas di meja ruang makan kita mengingatkanku bahwa kita memang berbeda. Teh, bagimu adalah serupa belahan jiwa, bagiku hanya minuman yg bisa diganti dengan cairan lainnya. Aku tak suka teh berampas, sedangkan untukmu, daun teh adalah sejenis main course dalam gelas. Dikunyah dengan sepenuh hati, dinikmati dengan khusyuk sekali.
Aku suka teh bergula, sedang di matamu gula dalam seduhan teh adalah perusak rasa. Aku suka kopi masa kini, kau hanya suka kopi aroma.

Lihat? akui saja kita berbeda, tapi sadar tak sadar berbagi rasa yg sama : kasih sayang yg besar.
Baiklah..aku tau milikmu untukku jauh lebih besar dari yg mungkin bisa kuberi untukmu. Tentu saja itu tak pernah kupinta, dan kau memberinya secara cuma-cuma. Tanpa agunan, tanpa tagihan.

kemarin, saat di tengah dinginnya hujan kita melahap bakso di meja makan yang sama hanya berdua, diam-diam kuperhatikan wajahmu mili demi mili. Rupanya gurat di sana bertambah jumlahnya, beberapa kerut bertambah kedalamannya, namun senyum teduh itu tetap menyimpan kesaktiannya : meluruhkan duka, menguatkan jiwa.

Lalu aku teringat saat kita pernah terjebak dalam dua musim yang berbeda, terpisah jarak dan terpapar matahari dalam rentang waktu yang tak sama. Sesekali aku terserang malarindu, tapi sepertinya tak sehebat yg kau punya. Hampir setiap hari kau bertanya kabar, makanan, perjalananku, meski tak jarang terlalu letih untuk menjawab panggilan skype atau chat singkat darimu. Parah? Memang.

Maka tadi, meski aku bukan tipe manusia yang senang ikut merayakan apa-apa sesuai kalender dunia, kuucapkan juga kalimat itu : selamat hari ibu ya, bu..

Terima kasih, untuk jadi ibu yg baik dengan segala kekuranganku. Jika engkau perusahaan jasa, sudah kupastikan dirimu telah kaya raya dengan harta. tapi bukankah katamu, harta tak dibawa mati, kekayaan hati yang harus disirami? Selamat ibuku yg kaya ilmu, kaya cinta, kaya maaf, kaya sabar, dan kaya kaya lainnya.. Maaf untuk belum bisa menjadi sepenuhnya seperti yg ibu harapkan. Semoga Allah tetap mengizinkan kita bersama dalam waktu yg masih sangat lama.


I love you, inside out.
-Teteh-

Senin, 25 Juli 2011

salaman

Kapan terakhir kita bertemu? Setahun lalu? Satu semester lalu? Sebulan lalu? Seminggu yang lalu? Atau cukup lama untuk kita sebut saja itu sebagai masa yang lalu?

Lupa.

Mungkin sebenarnya bukan sekali-dua kali akhir-akhir ini kita berpapasan, tapi sepertinya radar kita sedang tak jalan. Aku tak bisa menemukanmu meski kita hanya berjarak beberapa jengkal saja, pun dengan kamu, yang juga sebaliknya.



Well, jadi…ketika akhirnya kuputuskan untuk mencari (dan ketemu juga), tentu saja yang pantas ditanya seperti layak pada umumnya adalah : bagaimana kabarmu? Baik?

Apa? Busuk diserang buluk?



Ya ampun, kasihan. Maaf ya…sebut saja alibiku begini :



“life happens, shit happens. And you, my precious things—were thrown away by the cruel time.“



Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. Ya sudahlah, boleh kita maaf-maafan sebelum Ramadhan? Lagipula di luar bulan sedang terang. Sepertinya kita bisa mulai berbincang. Tidak baik bermusuhan terlalu lama. Semoga kita masih bisa berteman. Atau bersahabat kembali, mungkin? Jika kamu mengizinkan.





*obrolan dengan sebuah buku tulis kesayangan yang sudah jarang dipegang dan pulpen gratisan yang enakeun pisan*

Senin, 11 April 2011

bete

kalo kamu berpikir hidupmu seperti tai, tenang..kamu nggak sendiri.



this world is such a huge septic tank

Kamis, 24 Maret 2011

Carrefour tale



Jadi ini kejadiannya tepat kemarin, setelah saya memutuskan untuk nggak langsung pulang ke rumah pulang dari kantor, tapi mampir dulu ke Carrefour ambassador. Nggak tau sih mau ngapain sebenernya, soalnya kalo belanja gitu-gitu baru beberapa hari yang lalu juga di tempat yang sama. Lebih karena pengen aja. Saya emang suka belanja di ranch market macem Carrefour atau Hypermart atau yah took lain semacam itu. Apa ya, seneng aja gitu dorong-dorong trolley diantara lorong terus masuk-masukin barang-barang ke trolley dari mulai barang yang emang dibutuhin sampe barang yang entah-kapan-bakal-dipakenya-tapi-nggak-tahan-untuk-ga-diambil.

Okeh cukup prolognya. Singkat kata singkat cerita (halah), di Carrefour itu saya berenti di tempat buah, tepatnya anggur. Jadi di situ udah banyak kotak-kotak steryofoam berisi anggur yang dibungkus plastic-wrap. Ukurannya macem-macem, ada yang nyampe sekilo ada juga yang nggak. Kalo nggak salah sih sekilo lagi 35 ribu-an gitu anggurnya yang jenis red globe (penting ngga sih ini dibahas? Ya anggap aja info lah ya).



Lalu mata saya menangkap tampilan buah yang lebih menarik : pir ijo di dekat-dekat situ juga. Pas diliat wow sekilo 19 ribu sahajah sodara sodara! Milih-milih pir lah saya. Tapi abis diliat pir-nya kayaknya nggak oke deh. dipikir-pikir kayaknya enakan anggur sih, jadi balik lagi deh ke booth anggur. Labil memang. Makanya saya seneng belanja ke Carrefour sendiri, abis nggak ada yang protes kalo ngiter berapa puteran juga. Yang capek kaki sendiri toh.

Di saat asyik masyuk khusyuk nunduk-nunduk milih anggur yang kira-kira seger-nggak penyet dan gak terlalu berat, datanglah serombongan mbak-mbak berbaju merah dan berkerudung putih, layaknya bendera Polandia tinggal dikerek di tiang bendera. Mereka ikutan milih-milih anggur itu deket-deket saya.
Abis itu dating lagi sesosok makhluk tinggi besar hitam berkumis berwibawa dan berpoloshirt warna krem menghampiri anggur-anggur yang sama. Dari penampakannya beliau sepertinya bukan jin. Hanya saja saya prediksikan sebagai orang India atau Malaysia turunan India. Untungnya Si Om itu nggak bau (biasanya orang Indihe ya you know lah). Males saya juga. Hehe

Tau-tau si Om itu ngomong sesuatu ke salah satu mbak berbaju bendera Polandia. Karena ngerasa bukan saya yang diajak ngomong, ya saya sih lanjutin aja milih-milih anggur. Yang ketangkep telinga Cuma ‘try’. Entah pengen nyicip ni anggur entah apa. Nggak terlalu merhatiin. Si mbak-mbak berbaju bendera Cuma dadah-dadah nggak ngomong apa-apa. Saya asumsikan si mbak pengen bilang “No.”

Abis itu si Om ngomong lagi, tapi entah ngomong apa karena (lagi-lagi) saya nggak merhatiin toh bukan saya yg diajak ngobrol. Dia Inggrisnya agak nggak jelas juga sih. Ya tau sendiri orang india logatnya gitu. Kalo anak SITH yang notabene waktu TPB pernah sekelas sama anak India-Malaysia pasti kebayang maksudnya logat Inggris-India kayak apa (selain kenyataan bahwa Indihe itu biasanya blunder, kalo ngomong ‘iya’ tapi kepalanya geleng-geleng. Acha acha. Nggak konsisten)

Dia terus ngomong sambil jarinya ngumpul berbentuk kuncup, dan kepalanya goyang-goyang. Kebayang? Yah, sejenis gerakan tina toon lah. Nggak sih, nggak separah itu. Tapi cukup ekspresif.
Sampai akhirnya si rombongan mbak berbaju bendera Polandia pergi sambil bilang ‘ah nggak ngerti.’ Bahkan mereka nggak ngambil sekotak anggur pun! Dasar nggak bertanggung jawab, udah mencet-mencet anggur nggak beli! Lah kok saya yang sewot?!

Tinggal lah saya dan si Om Indihe di sekitaran anggur. Berbekal kesotoyan, saya bilang aja, “Sorry, Sir. You can’t taste this grape. It’s already packed.”
“You know, I need spice, like cinnamon, pepper…”

Oh ternyata si Om nyari bumbu toh!
“I guess it must be someplace near the meat or vegetables section. But I’m not sure. Why don’t you ask shopkeepers around here. They’re everywhere.”

Si Om jawab putus asa, “They can’t speak English.”

Karena kasian, yaudah saya bilang deh, “Okay then. Wait a sec, I’ll ask him for you.” sambil nunjuk salah satu mas-mas Carrefour yang lagi bawa popmie.

Saya samperin lah si mas Carrefour itu. “Mas, mas tempat bumbu-bumbu yang udah jadi gitu di mana ya?”
Si mas Carrefour nunjukin tempatnya.

Selesai dapet info, balik lagi lah saya ke arah Si Om. Perasaan waktu saya ninggalin si om beberapa detik yang lalu, di situ Cuma ada seonggok Om-Om India tinggi besar item kumisan deh, kok sekarang jadi nambah satu lelaki india lagi, yang Alhamdulillah sih jauh lebih enak dipandang. Eh, jauh banget malah. Masih muda pula. Kirain ada Dev Patel nyasar ke ambassador. Kalo iya mo saya ajakin joget Jai Ho. Halah.

Si Om liat saya balik, sumringah gitu. “Hey! I met my son. Thank you.” Terus mereka pergi ke arah yang bener (sesuai yang dikasih tau si mas Carrefour ke saya), padahal saya belom kasih tau si Om.

Oh, kayaknya si Om tadi sejenis anak ilang deh. Cuma kebalik. Dia orang tua ilang. Mungkin tadi dia sama anaknya (si dev patel) yang kerja atau kuliah di Indonesia ini, terus misah, dan si Om berinisiatif nyari bumbu, tapi nggak ada orang yang bisa ditanya. Ya oloh Om kesian amat.

Misah di situ, eh tau-tau saya ketemu lagi sama si om dan anaknya. Si Om itu heboh nunjukkin belanjaan bumbunya, “Look at here. I’m looking for this, and this, and all of this.” Sambil ngeluarin bungkusan cengkeh, ketumbar, kayumanis, sama apaaa gitu entah (ketauan ga tau bumbu gini saya. hahehe)

“Good then, Mister, finally you find what you’re looking for.”
“Thank you for helping me.”
“Nevermind. Happy shopping!”
“See you!”

Dipikir-pikir kalimat ‘happy shopping’ yang saya sebut itu kok jatohnya jadi kayak online shop gitu ya. Tinggal pake ‘sist’ atau ‘bro’ ajah hahaaha..

Jadi inti cerita ini apa sodara-sodara?
Moral of this story is : jangan dulu antipati sama Om-om tinggi besar item berkumis, karena----karena eh karena----siapa tau anaknya ganteng.
Halah.



-udah lama nggak nyampah-