About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Rabu, 22 September 2010

Old times reminder



Pernahkah kamu mengunjungi tempat yang dulu rasanya sangat lekat di kepala, hati, dan bahkan matamu setelah bertahun-tahun meninggalkannya?
Baiklah, kuralat. Tidak perlu bertahun-tahun, tapi anggap saja cukup lama untuk membuatmu merasa terasing ketika kembali menjejakkan kakimu di sana, dan menghirup aroma udara di sekitarnya.
Pernah?

Maka anggap saja kali ini aku sedang bernostalgia, berdiri pada sebuah bangunan yang tidak bisa dibilang tua karena seperti baru beberapa waktu lalu direnovasi, tapi tetap kuyakini sebagai gedung tua karena pada dasarnya ia telah berumur lebih dari angka lilin kue ulang tahunku yang berjumlah dua puluh dua.

Anggap saja kali ini aku sedang mendatangi sekolah dasar kita yang dulu pernah menyaksikan perjalanan enam tahun beratus anak-anak usia lima sampai belasan. Tempat kita dulu diperkenalkan pertama kali pada bangun datar, bangun ruang, majas-majas, puisi, prosa, karawitan, hokum alam, Newton, Disney, wayang golek, cerdas-cermat dan lain sebagainya.

Seperti yang sudah tadi kubilang di awal, rasanya begitu asing, dan berbeda.

Maka kini aku sedang merasakan itu semua saat akhirnya setelah beberapa tahun melanglangbuana pada dunia yang berbeda, akhirnya kita kembali bertatap muka. Kamu dengan aku. Aku dengan kamu.


“Apa kabar?”
Itu kalimat pertama yang kamu lontarkan saat mata kita beradu terlalu lama untuk dibiarkan menggantung tanpa kata.

Seperti halnya orang asing yang ditanya pertanyaan standar begitu, jawabanku pun pendek saja, “Baik.”

“Lama ya, nggak ketemu?”

Sejujurnya aku ingin mendorong kepalamu keras-keras saat mendengar lanjutan kalimat basa-basi yang kamu ciptakan baru saja,tapi apa mau dikata, bahkan sepertinya aku harus mendorong kepalaku sendiri dulu, karena lagi-lagi menjawab seperti orang kekurangan kosakata, “Iya.”

“Mmm…”
“Hmm…”

Lalu kita saling melempar senyum. Senyum, bukan tawa. Ada canggung yang kentara, hening yang memberi jeda. Jarak kita berdiri pun menjabarkan segalanya : bahwa kita sudah terlalu jauh dipisahkan waktu, hingga bahkan pori-pori kulit kita sudah tidak saling mengenal satu sama lain. Padahal dulu…
ah ya sudahlah.

Entah apa yang membuatku tak bergerak untuk mengakhiri pertemuan tidak bermutu ini. Sayangnya satu yang harus diakui, ternyata jauh di hati kecilku, aku menginginkan pertemuan ini. Bahkan lebih dari itu, aku mengharapkan yang terjadi lebih dari sekedar pertemuan dua orang asing, tapi pertemua dua orang yang saling merindu.

Terlalu.
Aku kebanyakan meracau.


Kamu sudah berubah. Mungkin aku pun begitu di matamu. Ada gurat dewasa yang jelas terpahat dari wajah-wajah kita yang semakin matang. Tidak ada lagi seragam yang membungkus tubuh, tidak ada lagi buku yang dipeluk di dada. Kita telah dibesarkan oleh waktu.

Maka saat kamu meminta kontakku kembali sambil berkata, “Baiklah, kita kenalan lagi saja.", kutanya balik,
"Seperti orang asing?"

Lalu kamu mengangguk mantap.
"Halo, gue Fahri."

Kamu berhasil menarik bibirku naik tersenyum kecil.
Baiklah, stranger...aku mau tau siapa kamu yang baru.

Minggu, 19 September 2010

Sepi

ini bukan sekedar patah hati
ini lebih dari seonggok hati yang dibelah dan dicacah lalu diabukan dan dibawa angin pergi
ini remuk yang menyakiti

seperti kayu bakar hitam yang ditiup kipas pelan-pelan
dan kau tak tahu bagaimana menjadikannya kembali seperti batang pohon yang berdiri angkuh di tengah hutan

ini rasa sakit yang tak pernah ingin kau rasakan
dan di ujung malam, mungkin permintaanmu akan berubah haluan :
mati saja

Senin, 26 Juli 2010

setahun kemarin

well, well, well...

siang-siang, abis makan siang gini lagi gadag pisan di sini. Mending cocoretan deh.
iseng-iseng pas buka-buka fb di BB, buka file notes saya yang jumlahnya ada sekitar 130an.

Terus iseng lagi nyusur tulisan-tulisan lama di situ. eh, ternyata ada note yang dibikin tepat hari ini setahun lalu. Berasa baru. Asa nggak percaya udah setaun aja.
Dan yes, he-eh emang saya udah jarang banget nulis sejak kerja *sigh*
ternyata setaun ke belakang banyak yang terjadi *tsaaahhh*
dari mulai saya TA, lulus, sampe akhirnya awal taun 2010 ini kerja.
tengah taun 2009 ternyata saat-saat saya hobiiiii berat nyampah di notes facebook.
jadi kangen deh

Tulis di sini ah postingan taun lalu...Lalalala
kebetulan bentuknya puisi


Basa Bisu
Monday, 27 July 2009 at 06:54

Hey kamu yang duduk di situ
Mari kuberi sesuatu
Agar kamu cukup tahu

Boleh saja aku diiris tepat di pelipis
Tak apa pula jika kamu memalu pada bahu
atau memanggang di sebelah pinggang
Tapi tolong jangan sobek di muara yang satu itu
Yang jika tersentuh bisa runtuh semua egoku
Yang jika terpompa akan mengembang ke seluruh penjuru dada

Tolong henti cabikan itu
Tega sekali kamu membuatku mengiba
Ingin benci luar biasa tak bisa
Sampai suatu pagi aku buka mata, dan
menyadari selama ini aku memang tak pernah bicara
Tentang pelipis, bahu, pinggang atau muara

Jadi tenang saja, cabikanmu itu bukan dosa
Hanya saja sepertinya aku sedang membangun neraka

Senin, 05 Juli 2010

5 Juli 2010


Di sebuah pantry entah bagaimana awalnya (tidak ingat), saya terlibat pembicaraan dengan seorang office boy (OB). Di tengah obrolan, ada kata-katanya yang membuat saya tertegun seketika. Dia bilang, “Kata orang hidup itu kejam. Ah, kejam apanya? Saya masih punya tangan, kaki, gak cacat, dan sehat. Betul nggak, mbak?”

Saya yang sedang menunggu milo keluar dari coffee-maker nestle Cuma ber-iya-iya, padahal dalam hati merasa tertampar, seolah malu, dengan pemikiran OB di hadapan saya itu.
Lalu saya kembali ke ruangan kerja, dengan membawa milo panas yang berbusa karena krimmer. ‘Kok bisa dia mikirnya kayak gitu. Hebat.’
Saya teringat sesuatu di dalam tas, lalu mengeluarkannya. Sebuah mukena berwarna merah-jingga dengan gagang kayu di wadahnya dan hiasan sulam di beberapa bagiannya. Itu hadiah ualng tahun yang diberikan ibu untuk saya, tepat di hari ulang tahun saya, kemarin, saat Amerika juga merayakan kemerdekaannya.

Ada sebuah kertas berisi ucapan selamat dan serentet doa di dalamnya, diantaranya agar si cikal ini bisa menjadi waita sholehah dan pandai bersyukur. Tau saja Ibuku ini, anaknya belum solehah & jago bersyukur.

Kadang saya lupa bahwa 8036 hari yang lalu ada seorang wanita berusia 25 bertaruh dengan malaikat maut, demi mengizinkan saya mengecap rasa hidup di bumi, meninggalkan rahimnya yang suci.

Seharusnya saya bersyukur Tuhan masih mengizinkan saya mencium tangannya, memeluk tubuhnya, dan menyuapinya dengan blackforrest bercherry hasil potongan pertama di umur dua puluh dua.

Lalu saya teringat tentang Ayah…sepertinya darah beliau mengalir deras did aging saya. Kami sama-sama keras kepala. Maka tak carang kami berselisih opini, atau beradu tegang. Kami memang bukan pasangan anak-ayah yang selalu harmonis. Tapi, di waktu-waktu tertentu, nasehat ayah saya sering dengan mudah membuat mata saya gerimis.

Maka, kemarin waktu ayah memeluk saya mengucap selamat ulang tahun sambil bergumam, “Mmmm Anak Ayah…” , buru-buru saya lepaskan peukannya. Bukan apa-apa, hanya takut tiba-tiba mencairkan es di pelupuk mata. Masalahnya, di belakang ayah saya saat itu masih mengantri para uwa, tante, Om dan sepupu yang akan memberi selamat. Kebetulan weekend kemarin itu kami habiskan berkumpul denga keluarga pesar ayah di Puncak, tepat saat tanggal 4 Jatuh.

Di tengah ingar-bingar sebelum pertandingan Argentina-Belanda, diam-diam saya perhatikan ayah saya. Beliau masih segar, sehat, walaupun mulai membotak. Diantara rambutanya yang menipis, ada beberapa helai berwarna putih pertanda matangnya usia. Bulan lalu usianya menginjak angka empat puluh delapan.
Lalu mata saya menyangkut pada lengan yang disilangkannya di depan dada. Hmm..tangan itu yang dulu pernah menggendong saya yang ambruk diserang Aedes aegypty saat kelas 3 SD. Tangan itu pula yang sering mengelus tangan dan punggung saya untuk sekedar berbagi hangat semasa kecil.
Dan dalam perjalanannya, Gemini yang satu itu pula yang selalu mengingatkan bahwa setiap peristiwa yang saya labeli sebagai kegagalan, sebenarnya adalah satu cara Tuhan untuk berkata bahwa ada jalan & pilihan yang lebih baik di luar sana, yang perlu saya temukan.

Puas meniup busa milo, saya edarkan pandang ke luar kaca gedung. Ada awan putih menggumpal di sana. Entah imaji saya yang terlalu aktif, atau mungkin memang awan diam-diam ingin menjadi illustrator pikiran saya, kali ini mereka membentuk wajah ibu & ayah.

Apa kabar, Bu, Yah?
Terima kasih untuk delapan ribu tiga puluh lima hari yang luar biasa. Meskipun kita bukan anak dan orang tua yang sempurna, semoga kita bisa saling melengkapi dengan cara yang sempurna.
Jangan dulu lelah mengiringi saya berjalan, jangan duky menyerah mendorong saya berlari, jangan dulu berhenti menjadi alas an untul saya tetap berbakti.
Ayah, Ibu, Terima kasih untuk mengantar saya ke bumi.

-Si Bayi yang lahir di minggu ke-27, hari ke-186 di tahun 1988-

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu-Bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”
(QS. Luqman : 14)

Senin, 28 Juni 2010

esthetic surgery-uweuw O_O




Di hari Sabtu yang cerah kemaren (eh, ga kemaren banget sih ya), kebetulan saya gak punya rencana. Seperti biasa, kalo ga pulang ke Bandung tanpa plan gitu mood-booster saya salah satunya adalah nongton DVD! Selesai marathon 3 DVD (yang salah satu diantaranya horror-suspense), puyeng juga ternyata, agak mual terus-terusan nonton DVD setengah harian. Maka akhirnya, jam 2-an saya keluar kandang (kamar, ehm), abis itu ngubek kulkas, bikin sirup cocopandan dan nangkring baca tabloid di ruang tamu.

Ke manakah orang-orang rumah? Yah, berhubung di Jakarta ini saya tinggal di rumah nenek-kakek& 1 tante yang masih tinggal di atap yang sama, maka tentu saja bisa ditebak, mereka appropriate sekali buat diajak hura-hura. forget that.

Kembali ke cerita,
pas lagi asoy geboy makan jagung manis, diseling minum sirup manis, si gadis manis ini (HUEKK, yak, silakan muntah) membuka halaman demi halaman tabloid wanita yang ada di ruang tamu. Fyi, tante saya langganan tabloid sama majalah wanita tertentu. Daaan, the point is...di dalem tapbloid itu isinya bukan sulap bukan sihir, sodara-sodar. Tau isinya apa?
TAU ISINYA APAAAA? YANG DI UJUNG SANAAAAAHHH? *mendadak dangdut*

Tenang, bukan hal spekta sebenarnya. Bukan tentang Ariel-Luna-Tari yang udah bikin mules bosen manusia sejagad Indonesia, tapi INFO KECANTIKAN.
well, agak turn off ya bacanya?
Tunggu dulu. Yang mo saya bahas, belum dibeberkan.

Jadi ya...gini loh..
Di dalem tabloi ditu isinya tentang operasi kecantikan semua! Oh, ga semua deng, ada sih beberapa artikel tentang resep makanan atau minuman dan embel-embel iklan biasa. But, mostly, it tells about liposuction, face lift, and other family of surgery. Hiiii...
Serius banget di situ dibahas ampe detiiiil beserta contoh artis yang udah pernah melakukannya. Misalnya, implan payudara tuh Krisdayanti, Liposuction tuh Titi DJ, Uthe, Melly Goeslaw. Khusus yang Melly malah diceritain bahwa dia udah 2 x sedot lemak dan itu nurunin berat badannya 10 kg (tapi perasaan masih gede aja deh..sorry).

Oke, itu udah rahasia umum emang soal artis-artis yang melakukan operasi ini-ity buat penampilan. Bahkan Dominique (model itu loh, mantannya Jonathan Frizzy) udah pernah sedot lemak payudara di usia 16 ! amCRAZing!
Yang bikin saya mikir adalah, sebegitu dahsyatnya kah efek takut terlihat tua (ato ga oke deh minimal) pada wanita? okelah, kalo artis ada alesan karena buat mereka penampilan sangat MEMPENGARUHI karir (walaupun tetep wueeeh, excuse sebenarnya ya).
Nah, kalo dipikir-pikir, tabloid-tabloid macam ini konsumennya siapa? Artis? kayaknya enggak deh. Yang baca ya masyarakat pada umumnya, yang ga berhubungan dengan bling-bling ingar bingar dunia selebrita.
Liat tabloid ini, kepikir gak sih, bahwa cerita-cerita tentang operasi plastik estetik itu justru disebarkan & direkomendasikan pelan-pelan melalui propaganda yang smooth?

Suntik sana-sunti sini semakin dirasa lumrah oleh sebagian wanita (terutama di daerah perkotaan) dengan makin banyaknya ulasan tentang operasi plastik. Padahal mayan mahal loh itu. Ralat, mahaaaallll seusss

Meskipun di artikel-artikel itu juga mencantumkan efek samping, harga selangit, dan segundang konsekuensi operasi, tetepa aja saya ngerasa aroma 'ngajak' lebih kental daripada aroma 'mendingan jangan deh'.
Salah satu artikel di situ aja judulnya 'Jangan Terlalu Banyak Tertawa Setelah Face-Lifting'. Agak setres kedengerannya buat saya itu suruhan 'jangan ketawa'. Gila kaliii..

Iya sih kerut ilang, tapi kalo gara-gara facelift jadi ga boleh banyak ketawa, bukannya malah jadi bikin muka serem, aura negatif, dan secara nggak langsung justru bikin perempuan keliatan gak cantik (judes, misalnya).
Iya sih, dengan uang, tubuh bisa dipermak. Sulam alis kek, sedok lemak perut, paha, betis dagu, pipi or whateveerrr, tapi bukannya katanya kecantikan dari dalam -inner beauty- seharusnya lebyang lebih diolah. Oke, kedengeran naif ya ngomongin inner beauty hari gini (secara tampak lebih banyak lelaki yang mengagungkan ke-kece-an daripada ke-baik-an). Adalah kenyataan, bahwa perempuan semakin banyak, rasio perempuan : laki-laki makin tinggi, yang berarti persaingan makin ketat. Tapi, ih, operasi plastik bukan wujud syukur yang baik, sebaliknya, cermin unsecurance yang jelas banget.
Mending kalo operasi syalala berhasil, kalo gagal? Eh ada loh contohnya, nih : serem abisss


Wedan..
udah mahal, gagal, kayak bencong jatohnya.
amitamit naudzubillahimindzalik deehhh

gak abis pikir, segini susahnya jadi perempuan jaman sekarang.

Kamis, 24 Juni 2010

ganti template

oke, hari ini ganti template..

bukan ga sayang bukan ga cinta sama template lama, tapi bosen aja.
tapi tetep kayaknya pilihan jatuh ke template 'berantakan', yang ga sweety, tapi ga grunge juga sih..

yaudah la ya, meni penting dibahas.

Ikan hiu di lemari
Yuk mari.

basi!

Aku tau semua yang terjadi adalah konspirasi
antara alam, tangan Tuhan, dan sulur-sulur takdir yang sudah diukur matur.

Hanya saja, bolehkah kali ini bertanya,

'Hidup yang cuma sekali ini,
mau di bawa ke mana?'

Rabu, 16 Juni 2010

Hujan



Sebagian orang menyukai hujan. Katanya hujan itu romantis, membuat rileks, menyejukkan, menenangkan atau apalah itu segudang alasan lain yang mengarah pada hal-hal manis-manis gulali. Hujan itu jodohnya coklat panas, sweater, musicplayer, buku, kaca yang berembun, dan pikiran yang melanglangbuana, penuh inspirasi dan romansa.

Ck! sok filosofis!

Aku tak suka hujan. Hujan itu merepotkan, membatasi ruang dan menurunkan akselerasi pergerakan. Lihat saja, setiap hujan jalanan menjadi becek, orang-orang malas keluar, yang tak berpayung lebih memilih diam menunggu, motor-motor menepi, mobil-mobil menurunkan kecepatan, pengemudi terpaksa harus menyetir dengan konsentrasi tinggi. Menyusahkan saja.

Seperti sekarang, hujan di luar sana.
Benang-benang air mengucur deras seperti memang awan-awan menangisi sesuatu. Tidak bersama petir memang, makanya Aku bisa santai-santai saja duduk di dekat kaca kamar, memandang ke luar, walaupun sebenarnya tak ada yang bisa dipandangi selain jalanan komplek yang basah dan daun-daun dari pohon milik tetangga yang bergoyang dipermainkan angin.

Pelan-pelan Aku meniup permukaan susu coklat panas yang mengepul dari cangkir hitam di tanganku. Gumpalan asap itu membuyar berpisah saat angin yang kutiupkan menyentuh mereka. Tepat saat tenggorokanku sedang dimanjakan hangatnya susu coklat, sebuah pesan masuk terdengar dari handphone. Segera kubuka dan kubaca isinya,

From : SiBotski
Lg sbuk g Neng? Main yuk! suntuk sumpah!

Itu dari sahabatku. Sahabat yang diam-diam setelah bertahun-tahun bersamanya ternyata 'naik kelas' di hatiku. Tentu saja dia tak tahu (dan tak akan kubiarkan tahu).

Aku balas secepatnya.

To : SiBotski
Main kmn? Ujan tau! Klo km jmput krumah sih hayu, kalo g, MALLEEESSSS kluar rumah.

Balasan darinya datang tak sampai satu menit kemudian
From : SiBotski
15 mnit lg nyampe. udh d jalan da. heu :p


Buru-buru aku mencari sweater terbaikku, berharap tak terlihat terlalu jelek saat dia datang. Konyol memang Aku ini. Memangnya dia peduli Aku terlihat oke atau tidak?!
Dia datang benar-benar 15 menit kemudian, dengan payung biru yang sebenarnya punyaku. Entah sejak kapan payung itu 'diculik' dan ada di tangannya. Biarlah, setidaknya payungku itu melindunginya dari hujan.

Mukanya kusut, tak bersemangat. Ada sorot sedih di matanya. Dia melemparkan diri di atas kursi kayu di beranda sambil berkata, "Kita di sini aja ya, pengen ngobrol doang sih sebenernya. Mau main ke luar juga ngapain, pasti macet."

"Ya udah, bebas. Minum dulu." Aku sodorkan teh manis yang sudah kusiapkan untuknya. Perlahan, dia meminum teh hangat itu sambil sesekali meniup-niup. Keningnya berkerut dalam. Melihat gelagatnya, Aku yakin ada yang tidak beres. Pasti tak lama lagi dia akan memuntahkan curhatan panjang.

"Mungkin saya emang bukan yang terbaik buat Tia..."

Tuh kan, kalimat pembukanya aja udah bawa-bawa nama pacarnya.


Aku mempersiapkan mata, telinga dan terutama hati untuk mendengar celotehan panjang tentang cintanya. Memberi nasehat-nasehat dan saran pada sahabat yang sedang pusing dengan tektekbengek cinta sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah jika ternyata hatimu teriris ketika mendengar dia bersedih, mengetahui kenyataan bahwa dia bukan sekedar sahabat di matamu, sekaligus menelan pil pahit bahwa di kepala sahabatmu itu hanya ada orang lain, bukan kamu. Combo pain.

Yang bisa kulakukan hanya berpura-pura seperti sahabat biasa lainnya : memberi saran yang sejuk dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa dia dan pacarnya akan bisa melewati masalah ini. Intinya seolah berkata 'badai pasti berlalu', sementara badai di hati sendiri semakin parah.

Di saat seperti ini, hujan menambah kepahitan.

Beberapa jam kemudian, dia sudah bisa sedikit tertawa riang, sementara hujan masih menjerang. Tiba saatnya berpamitan.
"Makasi banget ya, mate! Nggak tau harus ke mana kalo nggak ada kamu." dia memelukku hangat, seperti kakak memeluk adiknya.

Aku bersikeras ingin mengantarnya sampai ke tempat dia memarkir kendaraan, beberapa meter dari rumahku. Kebetulan saat ini jalanan di depan rumah sedang penuh dengan kendaraan yang parkir sembarangan. Mungkin tamu tetanggaku, entahlah, tak tahu.

Jadi begitulah, kami berpayung berdua, dan sampai di depan Si Silver.
"Cepet pulang sana. Nanti sakit. Payungnya bawa aja. Lagian punya kamu kan?"
"Terus nanti kamu nggak pake payung?"
"Ada kok di bagasi, baru dibeliin Tia minggu kemaren."

Tia lagi, tia lagi.


Aku berusaha tersenyum, seperti biasa, beracting. Dia pun melambai, pergi melaju.



Tubuhku berguncang pelan. Semakin lama semakin kencang. Ada rasa sedih yang bercampur dengan marah tiba-tiba datang.
Payung biru dalam genggamanku itu kulempar ke pinggiran jalan, sementara Aku berjalan hujan-hujanan.

Sekarang Aku tahu fungsi hujan : menyembunyikan air mata yang membanjir akibat perih karena tersingkir.
Setidaknya jika ada yang bertanya 'kamu nangis ya?' bisa kujawab, 'ini air hujan, bukan dari mata.'


That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me

--That Should Be Me, Justin Bieber--

photo source :
http://farm4.static.flickr.com/3174/2868415406_59f1a22e18.jpg
supdudesupguy.blogspot.com