About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Senin, 05 Juli 2010

5 Juli 2010


Di sebuah pantry entah bagaimana awalnya (tidak ingat), saya terlibat pembicaraan dengan seorang office boy (OB). Di tengah obrolan, ada kata-katanya yang membuat saya tertegun seketika. Dia bilang, “Kata orang hidup itu kejam. Ah, kejam apanya? Saya masih punya tangan, kaki, gak cacat, dan sehat. Betul nggak, mbak?”

Saya yang sedang menunggu milo keluar dari coffee-maker nestle Cuma ber-iya-iya, padahal dalam hati merasa tertampar, seolah malu, dengan pemikiran OB di hadapan saya itu.
Lalu saya kembali ke ruangan kerja, dengan membawa milo panas yang berbusa karena krimmer. ‘Kok bisa dia mikirnya kayak gitu. Hebat.’
Saya teringat sesuatu di dalam tas, lalu mengeluarkannya. Sebuah mukena berwarna merah-jingga dengan gagang kayu di wadahnya dan hiasan sulam di beberapa bagiannya. Itu hadiah ualng tahun yang diberikan ibu untuk saya, tepat di hari ulang tahun saya, kemarin, saat Amerika juga merayakan kemerdekaannya.

Ada sebuah kertas berisi ucapan selamat dan serentet doa di dalamnya, diantaranya agar si cikal ini bisa menjadi waita sholehah dan pandai bersyukur. Tau saja Ibuku ini, anaknya belum solehah & jago bersyukur.

Kadang saya lupa bahwa 8036 hari yang lalu ada seorang wanita berusia 25 bertaruh dengan malaikat maut, demi mengizinkan saya mengecap rasa hidup di bumi, meninggalkan rahimnya yang suci.

Seharusnya saya bersyukur Tuhan masih mengizinkan saya mencium tangannya, memeluk tubuhnya, dan menyuapinya dengan blackforrest bercherry hasil potongan pertama di umur dua puluh dua.

Lalu saya teringat tentang Ayah…sepertinya darah beliau mengalir deras did aging saya. Kami sama-sama keras kepala. Maka tak carang kami berselisih opini, atau beradu tegang. Kami memang bukan pasangan anak-ayah yang selalu harmonis. Tapi, di waktu-waktu tertentu, nasehat ayah saya sering dengan mudah membuat mata saya gerimis.

Maka, kemarin waktu ayah memeluk saya mengucap selamat ulang tahun sambil bergumam, “Mmmm Anak Ayah…” , buru-buru saya lepaskan peukannya. Bukan apa-apa, hanya takut tiba-tiba mencairkan es di pelupuk mata. Masalahnya, di belakang ayah saya saat itu masih mengantri para uwa, tante, Om dan sepupu yang akan memberi selamat. Kebetulan weekend kemarin itu kami habiskan berkumpul denga keluarga pesar ayah di Puncak, tepat saat tanggal 4 Jatuh.

Di tengah ingar-bingar sebelum pertandingan Argentina-Belanda, diam-diam saya perhatikan ayah saya. Beliau masih segar, sehat, walaupun mulai membotak. Diantara rambutanya yang menipis, ada beberapa helai berwarna putih pertanda matangnya usia. Bulan lalu usianya menginjak angka empat puluh delapan.
Lalu mata saya menyangkut pada lengan yang disilangkannya di depan dada. Hmm..tangan itu yang dulu pernah menggendong saya yang ambruk diserang Aedes aegypty saat kelas 3 SD. Tangan itu pula yang sering mengelus tangan dan punggung saya untuk sekedar berbagi hangat semasa kecil.
Dan dalam perjalanannya, Gemini yang satu itu pula yang selalu mengingatkan bahwa setiap peristiwa yang saya labeli sebagai kegagalan, sebenarnya adalah satu cara Tuhan untuk berkata bahwa ada jalan & pilihan yang lebih baik di luar sana, yang perlu saya temukan.

Puas meniup busa milo, saya edarkan pandang ke luar kaca gedung. Ada awan putih menggumpal di sana. Entah imaji saya yang terlalu aktif, atau mungkin memang awan diam-diam ingin menjadi illustrator pikiran saya, kali ini mereka membentuk wajah ibu & ayah.

Apa kabar, Bu, Yah?
Terima kasih untuk delapan ribu tiga puluh lima hari yang luar biasa. Meskipun kita bukan anak dan orang tua yang sempurna, semoga kita bisa saling melengkapi dengan cara yang sempurna.
Jangan dulu lelah mengiringi saya berjalan, jangan duky menyerah mendorong saya berlari, jangan dulu berhenti menjadi alas an untul saya tetap berbakti.
Ayah, Ibu, Terima kasih untuk mengantar saya ke bumi.

-Si Bayi yang lahir di minggu ke-27, hari ke-186 di tahun 1988-

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu-Bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”
(QS. Luqman : 14)

Senin, 28 Juni 2010

esthetic surgery-uweuw O_O




Di hari Sabtu yang cerah kemaren (eh, ga kemaren banget sih ya), kebetulan saya gak punya rencana. Seperti biasa, kalo ga pulang ke Bandung tanpa plan gitu mood-booster saya salah satunya adalah nongton DVD! Selesai marathon 3 DVD (yang salah satu diantaranya horror-suspense), puyeng juga ternyata, agak mual terus-terusan nonton DVD setengah harian. Maka akhirnya, jam 2-an saya keluar kandang (kamar, ehm), abis itu ngubek kulkas, bikin sirup cocopandan dan nangkring baca tabloid di ruang tamu.

Ke manakah orang-orang rumah? Yah, berhubung di Jakarta ini saya tinggal di rumah nenek-kakek& 1 tante yang masih tinggal di atap yang sama, maka tentu saja bisa ditebak, mereka appropriate sekali buat diajak hura-hura. forget that.

Kembali ke cerita,
pas lagi asoy geboy makan jagung manis, diseling minum sirup manis, si gadis manis ini (HUEKK, yak, silakan muntah) membuka halaman demi halaman tabloid wanita yang ada di ruang tamu. Fyi, tante saya langganan tabloid sama majalah wanita tertentu. Daaan, the point is...di dalem tapbloid itu isinya bukan sulap bukan sihir, sodara-sodar. Tau isinya apa?
TAU ISINYA APAAAA? YANG DI UJUNG SANAAAAAHHH? *mendadak dangdut*

Tenang, bukan hal spekta sebenarnya. Bukan tentang Ariel-Luna-Tari yang udah bikin mules bosen manusia sejagad Indonesia, tapi INFO KECANTIKAN.
well, agak turn off ya bacanya?
Tunggu dulu. Yang mo saya bahas, belum dibeberkan.

Jadi ya...gini loh..
Di dalem tabloi ditu isinya tentang operasi kecantikan semua! Oh, ga semua deng, ada sih beberapa artikel tentang resep makanan atau minuman dan embel-embel iklan biasa. But, mostly, it tells about liposuction, face lift, and other family of surgery. Hiiii...
Serius banget di situ dibahas ampe detiiiil beserta contoh artis yang udah pernah melakukannya. Misalnya, implan payudara tuh Krisdayanti, Liposuction tuh Titi DJ, Uthe, Melly Goeslaw. Khusus yang Melly malah diceritain bahwa dia udah 2 x sedot lemak dan itu nurunin berat badannya 10 kg (tapi perasaan masih gede aja deh..sorry).

Oke, itu udah rahasia umum emang soal artis-artis yang melakukan operasi ini-ity buat penampilan. Bahkan Dominique (model itu loh, mantannya Jonathan Frizzy) udah pernah sedot lemak payudara di usia 16 ! amCRAZing!
Yang bikin saya mikir adalah, sebegitu dahsyatnya kah efek takut terlihat tua (ato ga oke deh minimal) pada wanita? okelah, kalo artis ada alesan karena buat mereka penampilan sangat MEMPENGARUHI karir (walaupun tetep wueeeh, excuse sebenarnya ya).
Nah, kalo dipikir-pikir, tabloid-tabloid macam ini konsumennya siapa? Artis? kayaknya enggak deh. Yang baca ya masyarakat pada umumnya, yang ga berhubungan dengan bling-bling ingar bingar dunia selebrita.
Liat tabloid ini, kepikir gak sih, bahwa cerita-cerita tentang operasi plastik estetik itu justru disebarkan & direkomendasikan pelan-pelan melalui propaganda yang smooth?

Suntik sana-sunti sini semakin dirasa lumrah oleh sebagian wanita (terutama di daerah perkotaan) dengan makin banyaknya ulasan tentang operasi plastik. Padahal mayan mahal loh itu. Ralat, mahaaaallll seusss

Meskipun di artikel-artikel itu juga mencantumkan efek samping, harga selangit, dan segundang konsekuensi operasi, tetepa aja saya ngerasa aroma 'ngajak' lebih kental daripada aroma 'mendingan jangan deh'.
Salah satu artikel di situ aja judulnya 'Jangan Terlalu Banyak Tertawa Setelah Face-Lifting'. Agak setres kedengerannya buat saya itu suruhan 'jangan ketawa'. Gila kaliii..

Iya sih kerut ilang, tapi kalo gara-gara facelift jadi ga boleh banyak ketawa, bukannya malah jadi bikin muka serem, aura negatif, dan secara nggak langsung justru bikin perempuan keliatan gak cantik (judes, misalnya).
Iya sih, dengan uang, tubuh bisa dipermak. Sulam alis kek, sedok lemak perut, paha, betis dagu, pipi or whateveerrr, tapi bukannya katanya kecantikan dari dalam -inner beauty- seharusnya lebyang lebih diolah. Oke, kedengeran naif ya ngomongin inner beauty hari gini (secara tampak lebih banyak lelaki yang mengagungkan ke-kece-an daripada ke-baik-an). Adalah kenyataan, bahwa perempuan semakin banyak, rasio perempuan : laki-laki makin tinggi, yang berarti persaingan makin ketat. Tapi, ih, operasi plastik bukan wujud syukur yang baik, sebaliknya, cermin unsecurance yang jelas banget.
Mending kalo operasi syalala berhasil, kalo gagal? Eh ada loh contohnya, nih : serem abisss


Wedan..
udah mahal, gagal, kayak bencong jatohnya.
amitamit naudzubillahimindzalik deehhh

gak abis pikir, segini susahnya jadi perempuan jaman sekarang.

Kamis, 24 Juni 2010

ganti template

oke, hari ini ganti template..

bukan ga sayang bukan ga cinta sama template lama, tapi bosen aja.
tapi tetep kayaknya pilihan jatuh ke template 'berantakan', yang ga sweety, tapi ga grunge juga sih..

yaudah la ya, meni penting dibahas.

Ikan hiu di lemari
Yuk mari.

basi!

Aku tau semua yang terjadi adalah konspirasi
antara alam, tangan Tuhan, dan sulur-sulur takdir yang sudah diukur matur.

Hanya saja, bolehkah kali ini bertanya,

'Hidup yang cuma sekali ini,
mau di bawa ke mana?'

Rabu, 16 Juni 2010

Hujan



Sebagian orang menyukai hujan. Katanya hujan itu romantis, membuat rileks, menyejukkan, menenangkan atau apalah itu segudang alasan lain yang mengarah pada hal-hal manis-manis gulali. Hujan itu jodohnya coklat panas, sweater, musicplayer, buku, kaca yang berembun, dan pikiran yang melanglangbuana, penuh inspirasi dan romansa.

Ck! sok filosofis!

Aku tak suka hujan. Hujan itu merepotkan, membatasi ruang dan menurunkan akselerasi pergerakan. Lihat saja, setiap hujan jalanan menjadi becek, orang-orang malas keluar, yang tak berpayung lebih memilih diam menunggu, motor-motor menepi, mobil-mobil menurunkan kecepatan, pengemudi terpaksa harus menyetir dengan konsentrasi tinggi. Menyusahkan saja.

Seperti sekarang, hujan di luar sana.
Benang-benang air mengucur deras seperti memang awan-awan menangisi sesuatu. Tidak bersama petir memang, makanya Aku bisa santai-santai saja duduk di dekat kaca kamar, memandang ke luar, walaupun sebenarnya tak ada yang bisa dipandangi selain jalanan komplek yang basah dan daun-daun dari pohon milik tetangga yang bergoyang dipermainkan angin.

Pelan-pelan Aku meniup permukaan susu coklat panas yang mengepul dari cangkir hitam di tanganku. Gumpalan asap itu membuyar berpisah saat angin yang kutiupkan menyentuh mereka. Tepat saat tenggorokanku sedang dimanjakan hangatnya susu coklat, sebuah pesan masuk terdengar dari handphone. Segera kubuka dan kubaca isinya,

From : SiBotski
Lg sbuk g Neng? Main yuk! suntuk sumpah!

Itu dari sahabatku. Sahabat yang diam-diam setelah bertahun-tahun bersamanya ternyata 'naik kelas' di hatiku. Tentu saja dia tak tahu (dan tak akan kubiarkan tahu).

Aku balas secepatnya.

To : SiBotski
Main kmn? Ujan tau! Klo km jmput krumah sih hayu, kalo g, MALLEEESSSS kluar rumah.

Balasan darinya datang tak sampai satu menit kemudian
From : SiBotski
15 mnit lg nyampe. udh d jalan da. heu :p


Buru-buru aku mencari sweater terbaikku, berharap tak terlihat terlalu jelek saat dia datang. Konyol memang Aku ini. Memangnya dia peduli Aku terlihat oke atau tidak?!
Dia datang benar-benar 15 menit kemudian, dengan payung biru yang sebenarnya punyaku. Entah sejak kapan payung itu 'diculik' dan ada di tangannya. Biarlah, setidaknya payungku itu melindunginya dari hujan.

Mukanya kusut, tak bersemangat. Ada sorot sedih di matanya. Dia melemparkan diri di atas kursi kayu di beranda sambil berkata, "Kita di sini aja ya, pengen ngobrol doang sih sebenernya. Mau main ke luar juga ngapain, pasti macet."

"Ya udah, bebas. Minum dulu." Aku sodorkan teh manis yang sudah kusiapkan untuknya. Perlahan, dia meminum teh hangat itu sambil sesekali meniup-niup. Keningnya berkerut dalam. Melihat gelagatnya, Aku yakin ada yang tidak beres. Pasti tak lama lagi dia akan memuntahkan curhatan panjang.

"Mungkin saya emang bukan yang terbaik buat Tia..."

Tuh kan, kalimat pembukanya aja udah bawa-bawa nama pacarnya.


Aku mempersiapkan mata, telinga dan terutama hati untuk mendengar celotehan panjang tentang cintanya. Memberi nasehat-nasehat dan saran pada sahabat yang sedang pusing dengan tektekbengek cinta sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah jika ternyata hatimu teriris ketika mendengar dia bersedih, mengetahui kenyataan bahwa dia bukan sekedar sahabat di matamu, sekaligus menelan pil pahit bahwa di kepala sahabatmu itu hanya ada orang lain, bukan kamu. Combo pain.

Yang bisa kulakukan hanya berpura-pura seperti sahabat biasa lainnya : memberi saran yang sejuk dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa dia dan pacarnya akan bisa melewati masalah ini. Intinya seolah berkata 'badai pasti berlalu', sementara badai di hati sendiri semakin parah.

Di saat seperti ini, hujan menambah kepahitan.

Beberapa jam kemudian, dia sudah bisa sedikit tertawa riang, sementara hujan masih menjerang. Tiba saatnya berpamitan.
"Makasi banget ya, mate! Nggak tau harus ke mana kalo nggak ada kamu." dia memelukku hangat, seperti kakak memeluk adiknya.

Aku bersikeras ingin mengantarnya sampai ke tempat dia memarkir kendaraan, beberapa meter dari rumahku. Kebetulan saat ini jalanan di depan rumah sedang penuh dengan kendaraan yang parkir sembarangan. Mungkin tamu tetanggaku, entahlah, tak tahu.

Jadi begitulah, kami berpayung berdua, dan sampai di depan Si Silver.
"Cepet pulang sana. Nanti sakit. Payungnya bawa aja. Lagian punya kamu kan?"
"Terus nanti kamu nggak pake payung?"
"Ada kok di bagasi, baru dibeliin Tia minggu kemaren."

Tia lagi, tia lagi.


Aku berusaha tersenyum, seperti biasa, beracting. Dia pun melambai, pergi melaju.



Tubuhku berguncang pelan. Semakin lama semakin kencang. Ada rasa sedih yang bercampur dengan marah tiba-tiba datang.
Payung biru dalam genggamanku itu kulempar ke pinggiran jalan, sementara Aku berjalan hujan-hujanan.

Sekarang Aku tahu fungsi hujan : menyembunyikan air mata yang membanjir akibat perih karena tersingkir.
Setidaknya jika ada yang bertanya 'kamu nangis ya?' bisa kujawab, 'ini air hujan, bukan dari mata.'


That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me

--That Should Be Me, Justin Bieber--

photo source :
http://farm4.static.flickr.com/3174/2868415406_59f1a22e18.jpg
supdudesupguy.blogspot.com

Kamis, 20 Mei 2010

segitiga

---

“Maaf, kamu bukan tipeku, Alika.”
“Kenapa? Aku cewek tercantik di sekolah, Bagas!”
“Tapi Aku pacar Abangmu.”

---




Itu fiksi mini yang saya buat buat ikut ngeramein kontes fiksi mini yang dibikin sama wi3nDa

Nggak ngarep banget menang sih, secara blogger kan sejuta umat ya...Pun, saya bukan blogger terkenal. HAHAHA...
Terus mungkin udah ada yang bikin tema serupa, tapi jujur aja, saya nggak sempet banyak liat-liat punya orang.
Selayaknya kentut, cerita ini keluar begitu aja, tanpa bisa ditahan. Dia nggak berbunyi 'Pret', tapi 'Psssshhh...'

apa sih?
ahaha..


have a nice day :D

Selasa, 11 Mei 2010

23 Januari 2010

To : t_karyani@yahoo.com
From : nee_icut@yahoo.com
Subject : Kisah Malaikat




Halo, Bu...
Apa kabar? Maksudku, apa kabar pantai, gelombang, riak, pemandangan, dan nyiur yang sering kita bicarakan? Sampaikan sedikit salam rindu pada bulir pasir yang ibu izinkan menggerayangi tempat surgaku berada, juga pada kastil-kastil mungil yang mungkin sudah dicipta seadanya, atau pada tukang sepeda tandem yang sudah ibu goseh susah payah bersama ayah. Bukankah tadi siang ibu sudah sampai di pantai?

Ini hari ketujuh semenjak terakhir kali kita bertemu. Sebelum aku melangkah ke duniaku, dan ibu pada dunia ibu.
Tahu kan, Bu...aku senang bercerita. Mungkin tidak pada semua orang aku berbagi. Tapi kali ini aku sedang mau.

Jadi begini,
Semalam aku bermimpi kita berdua berdiri dalam sebuah sebuah ruang warna warni. Sebelah kuning, sebelah hijau. Kadang berubah biru, kadang berganti oranye. Setiap kita bergerak, mereka ikut menggeliat, berganti warna dalam bentuk yang tak ada dalam riwayat. Kepalaku pusing, mataku berkunang. Berkali-kali aku menabrak dinding dan jatuh terguling. Ini terasa terlalu melelahkan dan menyesakkan.
“Aku nggak sanggup, Bu!”
Lalu sabda sederhanamu meluncur seperti es yang sudah waktunya meleleh, “Ayo, Teh. Bangun.”
Dan tanganmu terjulur.

Aku memilih diam tergugu. Melihat jalan yang berkelok memusingkan, memandang langit yang tak jelas akan berpihak pada panas atau hujan.
Dan Ibu menunggu, duduk di sampingku.
“Kamu tahu, Teh...ibu nggak pernah mendoakan kamu jadi begini-jadi begitu, supaya begini-supaya begitu.”
“Loh kok gitu?Di mana-mana orang tua tuh doain anaknya pintar-soleh-solehah-kaya-jodohnya baik-cantik-cakep-lolos tes ini-itu-masuk sana-masuk situ-bla-bla-bla.”
“Ibu hanya meminta agar kamu diberi yang terbaik saja.”
“Dan kenyataannya doa Ibu tidak selamanya terkabul?”

Lalu Ibu tersenyum. Sebelah tanganmu merangkul pundakku, sebagian lagi mendarat di kepala, mengusap-usap.
“Kita tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita, sayang. Dan apakah kamu ragu akan cinta dan rencana Tuhan pada makhluknya?”
“Ah, capek.”
“Bersyukur adalah obat manjur atas segala kecewa. Belajarlah untuk itu.”
“...”
“Sudah cukup istirahatnya? Ayo jalan lagi.”
“Masih capek, Bu...”
“Membuang waktu dalam kesia-siaan bukan pekerjaan, anakku. Lagipula, menunda itu kesukaan setan.”

Lalu kita kembali berjalan. Sesekali Aku menjajari langkahmu, mencari kesempatan memandang wajah teduhmu.

Sebaris doa aku luncurkan, meski dalam hati.

Tuhan, jika hamba boleh meminta, panjangkan umurnya, berikan keselamatan sepanjang hayatnya, kebagahiaan di dunia dan di akhirat kelak, hindarkan ia dari marabahaya, berikan cintaMu yang luas untuknya.
Oh ya, satu lagi permintaan lancang hamba. Bukankah Tuhan menciptakan ribuan malaikat? Jadi, kalau boleh, malaikat yang satu ini buatku saja ya? Ya? Ya?


Ibu...
Terima kasih Untuk cinta yang tak pernah putus.
Tiap mimpi yang sudah aku buat dalam kertas-kertas yang dibentuk menjadi pesawat, ada doamu untuk setiap penerbangannya. Maka, terima kasih untuk doa yang juga selalu terucap tanpa dipinta.
Selamat Ulang Tahun.


-dari si sulung yang sengaja pulang ke Bandung, tapi nggak bisa ketemu ibu-
23 Januari 2010.






#sebuah catatan yang dipindah dari folder sent item email>> ke note facebook>> sampai ke sini#


image source : craftingcreatures.files.wordpress.com

Senin, 10 Mei 2010

GOODNIGHT goodnight [zzzz]




Aku jatuh cinta pada malam.
Terserah dengan bintang.
Persetan dengan bulan.
Yang kurindu hanya pekatnya. Yang kupeluk hanya dinginnya. Yang kujamah hanya heningnya.

Takkan pernah kuakui rahasia besar ini di hadapanmu.
Cukup rumput di kakiku yang kuizinkan tahu.
Bahwa malam jadi begitu menarik untuk dirindu karena kamu.

Di pekat, dingin, dan hening itu kita bertemu.
Bertukar keluh yang ditahan-tahan.
Mendengarmu merenggangkan tegang perlahan-lahan.
Mengurai tawa, menebar riang.
Kubiarkan kita bersentuh dalam irama pelan melenakan.

Pekat itu tersinari
Dingin itu dihangatkan
Hening itu dihidupkan

Baiklah baiklah. Tak perlu lagi aku berlarian.
Kuakui sepenuhnya sekarang juga
kukagumi pekat, dingin dan hening dimana malam bersarang,
Sejak kamu selalu berbisik ‘selamat malam, sayang’



photo source : www.withamymac.com