About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Kamis, 24 Juni 2010

ganti template

oke, hari ini ganti template..

bukan ga sayang bukan ga cinta sama template lama, tapi bosen aja.
tapi tetep kayaknya pilihan jatuh ke template 'berantakan', yang ga sweety, tapi ga grunge juga sih..

yaudah la ya, meni penting dibahas.

Ikan hiu di lemari
Yuk mari.

basi!

Aku tau semua yang terjadi adalah konspirasi
antara alam, tangan Tuhan, dan sulur-sulur takdir yang sudah diukur matur.

Hanya saja, bolehkah kali ini bertanya,

'Hidup yang cuma sekali ini,
mau di bawa ke mana?'

Rabu, 16 Juni 2010

Hujan



Sebagian orang menyukai hujan. Katanya hujan itu romantis, membuat rileks, menyejukkan, menenangkan atau apalah itu segudang alasan lain yang mengarah pada hal-hal manis-manis gulali. Hujan itu jodohnya coklat panas, sweater, musicplayer, buku, kaca yang berembun, dan pikiran yang melanglangbuana, penuh inspirasi dan romansa.

Ck! sok filosofis!

Aku tak suka hujan. Hujan itu merepotkan, membatasi ruang dan menurunkan akselerasi pergerakan. Lihat saja, setiap hujan jalanan menjadi becek, orang-orang malas keluar, yang tak berpayung lebih memilih diam menunggu, motor-motor menepi, mobil-mobil menurunkan kecepatan, pengemudi terpaksa harus menyetir dengan konsentrasi tinggi. Menyusahkan saja.

Seperti sekarang, hujan di luar sana.
Benang-benang air mengucur deras seperti memang awan-awan menangisi sesuatu. Tidak bersama petir memang, makanya Aku bisa santai-santai saja duduk di dekat kaca kamar, memandang ke luar, walaupun sebenarnya tak ada yang bisa dipandangi selain jalanan komplek yang basah dan daun-daun dari pohon milik tetangga yang bergoyang dipermainkan angin.

Pelan-pelan Aku meniup permukaan susu coklat panas yang mengepul dari cangkir hitam di tanganku. Gumpalan asap itu membuyar berpisah saat angin yang kutiupkan menyentuh mereka. Tepat saat tenggorokanku sedang dimanjakan hangatnya susu coklat, sebuah pesan masuk terdengar dari handphone. Segera kubuka dan kubaca isinya,

From : SiBotski
Lg sbuk g Neng? Main yuk! suntuk sumpah!

Itu dari sahabatku. Sahabat yang diam-diam setelah bertahun-tahun bersamanya ternyata 'naik kelas' di hatiku. Tentu saja dia tak tahu (dan tak akan kubiarkan tahu).

Aku balas secepatnya.

To : SiBotski
Main kmn? Ujan tau! Klo km jmput krumah sih hayu, kalo g, MALLEEESSSS kluar rumah.

Balasan darinya datang tak sampai satu menit kemudian
From : SiBotski
15 mnit lg nyampe. udh d jalan da. heu :p


Buru-buru aku mencari sweater terbaikku, berharap tak terlihat terlalu jelek saat dia datang. Konyol memang Aku ini. Memangnya dia peduli Aku terlihat oke atau tidak?!
Dia datang benar-benar 15 menit kemudian, dengan payung biru yang sebenarnya punyaku. Entah sejak kapan payung itu 'diculik' dan ada di tangannya. Biarlah, setidaknya payungku itu melindunginya dari hujan.

Mukanya kusut, tak bersemangat. Ada sorot sedih di matanya. Dia melemparkan diri di atas kursi kayu di beranda sambil berkata, "Kita di sini aja ya, pengen ngobrol doang sih sebenernya. Mau main ke luar juga ngapain, pasti macet."

"Ya udah, bebas. Minum dulu." Aku sodorkan teh manis yang sudah kusiapkan untuknya. Perlahan, dia meminum teh hangat itu sambil sesekali meniup-niup. Keningnya berkerut dalam. Melihat gelagatnya, Aku yakin ada yang tidak beres. Pasti tak lama lagi dia akan memuntahkan curhatan panjang.

"Mungkin saya emang bukan yang terbaik buat Tia..."

Tuh kan, kalimat pembukanya aja udah bawa-bawa nama pacarnya.


Aku mempersiapkan mata, telinga dan terutama hati untuk mendengar celotehan panjang tentang cintanya. Memberi nasehat-nasehat dan saran pada sahabat yang sedang pusing dengan tektekbengek cinta sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah jika ternyata hatimu teriris ketika mendengar dia bersedih, mengetahui kenyataan bahwa dia bukan sekedar sahabat di matamu, sekaligus menelan pil pahit bahwa di kepala sahabatmu itu hanya ada orang lain, bukan kamu. Combo pain.

Yang bisa kulakukan hanya berpura-pura seperti sahabat biasa lainnya : memberi saran yang sejuk dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa dia dan pacarnya akan bisa melewati masalah ini. Intinya seolah berkata 'badai pasti berlalu', sementara badai di hati sendiri semakin parah.

Di saat seperti ini, hujan menambah kepahitan.

Beberapa jam kemudian, dia sudah bisa sedikit tertawa riang, sementara hujan masih menjerang. Tiba saatnya berpamitan.
"Makasi banget ya, mate! Nggak tau harus ke mana kalo nggak ada kamu." dia memelukku hangat, seperti kakak memeluk adiknya.

Aku bersikeras ingin mengantarnya sampai ke tempat dia memarkir kendaraan, beberapa meter dari rumahku. Kebetulan saat ini jalanan di depan rumah sedang penuh dengan kendaraan yang parkir sembarangan. Mungkin tamu tetanggaku, entahlah, tak tahu.

Jadi begitulah, kami berpayung berdua, dan sampai di depan Si Silver.
"Cepet pulang sana. Nanti sakit. Payungnya bawa aja. Lagian punya kamu kan?"
"Terus nanti kamu nggak pake payung?"
"Ada kok di bagasi, baru dibeliin Tia minggu kemaren."

Tia lagi, tia lagi.


Aku berusaha tersenyum, seperti biasa, beracting. Dia pun melambai, pergi melaju.



Tubuhku berguncang pelan. Semakin lama semakin kencang. Ada rasa sedih yang bercampur dengan marah tiba-tiba datang.
Payung biru dalam genggamanku itu kulempar ke pinggiran jalan, sementara Aku berjalan hujan-hujanan.

Sekarang Aku tahu fungsi hujan : menyembunyikan air mata yang membanjir akibat perih karena tersingkir.
Setidaknya jika ada yang bertanya 'kamu nangis ya?' bisa kujawab, 'ini air hujan, bukan dari mata.'


That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me

--That Should Be Me, Justin Bieber--

photo source :
http://farm4.static.flickr.com/3174/2868415406_59f1a22e18.jpg
supdudesupguy.blogspot.com

Kamis, 20 Mei 2010

segitiga

---

“Maaf, kamu bukan tipeku, Alika.”
“Kenapa? Aku cewek tercantik di sekolah, Bagas!”
“Tapi Aku pacar Abangmu.”

---




Itu fiksi mini yang saya buat buat ikut ngeramein kontes fiksi mini yang dibikin sama wi3nDa

Nggak ngarep banget menang sih, secara blogger kan sejuta umat ya...Pun, saya bukan blogger terkenal. HAHAHA...
Terus mungkin udah ada yang bikin tema serupa, tapi jujur aja, saya nggak sempet banyak liat-liat punya orang.
Selayaknya kentut, cerita ini keluar begitu aja, tanpa bisa ditahan. Dia nggak berbunyi 'Pret', tapi 'Psssshhh...'

apa sih?
ahaha..


have a nice day :D

Selasa, 11 Mei 2010

23 Januari 2010

To : t_karyani@yahoo.com
From : nee_icut@yahoo.com
Subject : Kisah Malaikat




Halo, Bu...
Apa kabar? Maksudku, apa kabar pantai, gelombang, riak, pemandangan, dan nyiur yang sering kita bicarakan? Sampaikan sedikit salam rindu pada bulir pasir yang ibu izinkan menggerayangi tempat surgaku berada, juga pada kastil-kastil mungil yang mungkin sudah dicipta seadanya, atau pada tukang sepeda tandem yang sudah ibu goseh susah payah bersama ayah. Bukankah tadi siang ibu sudah sampai di pantai?

Ini hari ketujuh semenjak terakhir kali kita bertemu. Sebelum aku melangkah ke duniaku, dan ibu pada dunia ibu.
Tahu kan, Bu...aku senang bercerita. Mungkin tidak pada semua orang aku berbagi. Tapi kali ini aku sedang mau.

Jadi begini,
Semalam aku bermimpi kita berdua berdiri dalam sebuah sebuah ruang warna warni. Sebelah kuning, sebelah hijau. Kadang berubah biru, kadang berganti oranye. Setiap kita bergerak, mereka ikut menggeliat, berganti warna dalam bentuk yang tak ada dalam riwayat. Kepalaku pusing, mataku berkunang. Berkali-kali aku menabrak dinding dan jatuh terguling. Ini terasa terlalu melelahkan dan menyesakkan.
“Aku nggak sanggup, Bu!”
Lalu sabda sederhanamu meluncur seperti es yang sudah waktunya meleleh, “Ayo, Teh. Bangun.”
Dan tanganmu terjulur.

Aku memilih diam tergugu. Melihat jalan yang berkelok memusingkan, memandang langit yang tak jelas akan berpihak pada panas atau hujan.
Dan Ibu menunggu, duduk di sampingku.
“Kamu tahu, Teh...ibu nggak pernah mendoakan kamu jadi begini-jadi begitu, supaya begini-supaya begitu.”
“Loh kok gitu?Di mana-mana orang tua tuh doain anaknya pintar-soleh-solehah-kaya-jodohnya baik-cantik-cakep-lolos tes ini-itu-masuk sana-masuk situ-bla-bla-bla.”
“Ibu hanya meminta agar kamu diberi yang terbaik saja.”
“Dan kenyataannya doa Ibu tidak selamanya terkabul?”

Lalu Ibu tersenyum. Sebelah tanganmu merangkul pundakku, sebagian lagi mendarat di kepala, mengusap-usap.
“Kita tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita, sayang. Dan apakah kamu ragu akan cinta dan rencana Tuhan pada makhluknya?”
“Ah, capek.”
“Bersyukur adalah obat manjur atas segala kecewa. Belajarlah untuk itu.”
“...”
“Sudah cukup istirahatnya? Ayo jalan lagi.”
“Masih capek, Bu...”
“Membuang waktu dalam kesia-siaan bukan pekerjaan, anakku. Lagipula, menunda itu kesukaan setan.”

Lalu kita kembali berjalan. Sesekali Aku menjajari langkahmu, mencari kesempatan memandang wajah teduhmu.

Sebaris doa aku luncurkan, meski dalam hati.

Tuhan, jika hamba boleh meminta, panjangkan umurnya, berikan keselamatan sepanjang hayatnya, kebagahiaan di dunia dan di akhirat kelak, hindarkan ia dari marabahaya, berikan cintaMu yang luas untuknya.
Oh ya, satu lagi permintaan lancang hamba. Bukankah Tuhan menciptakan ribuan malaikat? Jadi, kalau boleh, malaikat yang satu ini buatku saja ya? Ya? Ya?


Ibu...
Terima kasih Untuk cinta yang tak pernah putus.
Tiap mimpi yang sudah aku buat dalam kertas-kertas yang dibentuk menjadi pesawat, ada doamu untuk setiap penerbangannya. Maka, terima kasih untuk doa yang juga selalu terucap tanpa dipinta.
Selamat Ulang Tahun.


-dari si sulung yang sengaja pulang ke Bandung, tapi nggak bisa ketemu ibu-
23 Januari 2010.






#sebuah catatan yang dipindah dari folder sent item email>> ke note facebook>> sampai ke sini#


image source : craftingcreatures.files.wordpress.com

Senin, 10 Mei 2010

GOODNIGHT goodnight [zzzz]




Aku jatuh cinta pada malam.
Terserah dengan bintang.
Persetan dengan bulan.
Yang kurindu hanya pekatnya. Yang kupeluk hanya dinginnya. Yang kujamah hanya heningnya.

Takkan pernah kuakui rahasia besar ini di hadapanmu.
Cukup rumput di kakiku yang kuizinkan tahu.
Bahwa malam jadi begitu menarik untuk dirindu karena kamu.

Di pekat, dingin, dan hening itu kita bertemu.
Bertukar keluh yang ditahan-tahan.
Mendengarmu merenggangkan tegang perlahan-lahan.
Mengurai tawa, menebar riang.
Kubiarkan kita bersentuh dalam irama pelan melenakan.

Pekat itu tersinari
Dingin itu dihangatkan
Hening itu dihidupkan

Baiklah baiklah. Tak perlu lagi aku berlarian.
Kuakui sepenuhnya sekarang juga
kukagumi pekat, dingin dan hening dimana malam bersarang,
Sejak kamu selalu berbisik ‘selamat malam, sayang’



photo source : www.withamymac.com

Rabu, 21 April 2010

when it comes to and end, we start a new beginning





huaaaa...dapet email berisi attachment foto waktu beberapa sahabat saya wisuda kemaren. Ya nggak kemaren banget sih, tapi bulan April tanggal 10. Kemarin itu kami sempet foto-foto di salah satu studio foto di bandung. Bukan jonas, sodara-sodara, tapi papyrus.
Bagus kok hasilnya...dulu juga kita (tapi cewe2 doang) pernah foto di sini juga, dan hasilnya nggak kalah bagus dari jonas (harganya juga mirip2). Yang jelas di sini lebih enaknya karena nggak terlalu ngantri. Tau sendiri kalo musim wisuda jonas penuhnya kayak apa. Kayak pasar ikan. But to be honest, waktu saya wisuda milih foto keluarga di jonas sih. heheheheu..



So, back to the topic,
di foto ini adalah sahabat-sahabat saya semasa kuliah (kok berasa udah tua ya nulis kalimat ini, tapi emang udah lulus sih, bener berarti udah tua ya? oh damn!i'm 21 years old going to 22. ngekngok, geus kolots!). Saya dan 3 sahabat lain (zikri, aeju, sama Lia) dalam foto ini udah lulus bulan Oktober 2009 lalu. Yang lulus april
fuady, ines, rafi, au, wawa, uti. sisanya, yang mudah2an bisa nyusul juli depan tuh malen, olyn sama yuda.


Hmmm...saya, zikri sama lia udah terjun bebas dari dunia kampus ke dunia kerja. Saya dan Lia di Jakarta, Zikri di Makasar. Sementara aeju sebentar lagi (mei) bakal terbang ke China buat semacem internship di LSM gitu di sana. Si rafi yang baru lulus tanggal 10, udah berangkat ke ukraina tanggal 13 nya buat program yang sama sama aeju.

Waktu dateng wisudaan itu, kok rasanya udah beda ya? dalam arti, saya ngerasa ada yang lain dari sikap-sikap kami selama ini. Nggak seliar dulu. Ini apa sayanya yang berubah apa memang semua orang udah berlaku agak dewasa?
nggak ngerti.

Saya nggak pernah lupa bahwa dulu kami sering nginep bareng di rumah rafi, niatnya belajar walaupun berakhir dengan main UNO, waktu kami ke batu karas, dengan cuma modal duit beberapa ratus rebu perak dan nyetir gantian bagaikan sopir truk karena berangkat jam 12 malam, waktu kami semua pernah dapet kortingan nilai mata kuliah umum gara-gara diduga nyontek rame-rame. Padahal sumpah, nggak nyontek (tapi nyoba sih iya, hahahhaa)

Dan sekian banyak yang nggak perlu saya tulis satu-satu karena bisa bikin jari saya kriting.

Beberapa hari lalu, tiba-tiba fuady menghubungi saya. Katanya keingetan saya tiba-tiba. Kita ngebahas kerjaan saya, terus ngebahas juga proses jobseeking si fuady (yang kalau lancar mungkin bakal caw ke Lampung). Dan di akhir pembicaraan itu, kami menyimpulkan bahwa kami ini sudah benar-benar berpencar, berpisah, sayonara. Kami amin-amini semua doa supaya sukses semua and the bla bla bla. Jadi kangen-kangenan. Dan eamng aslinya kangen banget banget.

GUE JUGA KANGEN LO SEMUAAAA, NGKOOONG!!!!

Yah, gimanapun, setiap orang punya porsi masing-masing dalam hidup kita. Saya mungkin hanya pernah mengisi sekian scene dari adegan-adegan hidup sahabat saya. Begitu pula sebaliknya. Pada akhirnya semua orang harus berjalan dan nggak mungkin jalan di tempat kalo mau berkembang.
Yang bisa kita lakukan mungkin hanya tetap memupuk kasih sayang sebagai sahabat yang baik, meskipun hidup tak lagi seindah dulu (tsaahhhh). Bener sih tapi,,,huksss...

I'm officially missing you, guys!

Selasa, 20 April 2010

ketika kartono sirik

saya tau, mungkin ini bakal jadi postingan ke-sejuta-sekian tentang hari kartini yang ditulis para blogger Indonesia(atau mungkin bahkan mancanegara, tsaaahhh) pagi-pagi begini. Oke, jam setengah sebelas gini sebenernya udah nggak cocok disebut pagi, tapi berhubung ini masih terlalu 'pagi' buat makan siang, maka terima saja saya sebut ini pagi.

jadi, sekarang ini hari kartini. Jujur ya, selama ini saya ngerasa sih belom bisa menghargai hari ini sebagai hari yang wow ato gimana gitu(selain pake kebaya). NGgak tau kenapa, apa nasionalisme saya mulai luntur apa gimana?
Abisan kalo dipikir-pikir perubahan yang didengung-dengungkan selama ini soal emansipasi juga ga sepenuhnya menyenangkan bagi kaum wanita (tsaaahhh,,,bahasanya)

Tapi serius deh, beberapa sampel saya alami sendiri sebagai perempuan. Beberapa cerita dari teman juga membuktikan bahwa kadang justru term 'emansipasi' ini justru dipake para pria untuk menjadikannya tameng mengesampingkan aspek kemanusiaan. Nggak ngerti? Begini...

cerita kawan (emh, disebut senior mungkin lebih cocok) saya di kantor misalnya.
di suatu busway. Jelas-jelas dia itu ibu HAMIL (take note ya : h-a-m-i-l).Emang nggak 9 bulan sih, mungkin masih sekitar 5 bulan-an.
Itu perutnya udah melendung, masuk dan kondisi tempat duduk buswaynya penuh. cuma ada space buat berdiri. Dan bapak-bapak, mas-mas, akang-akang yang sedang duduk manis seperti kuda nil di kebon binatang itu nggak ada satupun yang merelakan tempat duduknya dan mempersilahkan sang wanita hamil untuk duduk. Beberapa dari mereka memalingkan muka dan bahkan ada yang obviously pura-pura tidur.

Mennnn!!!
gentle banget jadi cowo fiuhh :/

Saya yakin beberapa dari mereka akan bilang hal-hal berbau 'loh kan emansipasi, jadi sama dong kesempatan buat duduknya?' atau 'katanya emansipasiii, giliran nggak enaknya nggak mau.' atau hal hal semacam itu.
Kalo menurut saya sih itu cuma excuse untuk melegalkan urusan persamaan wanita dan pria dalam hal kekuatan fisik. Ya nggak bisa dong! Helloooo belajar anatomi ga sih bapak-bapak sekalian?

well, oke, tarohlah emang si pria-pria itu beneran nggak pernah belajar anatomi (which is agak nggak mungkin ya kalo emang tuh orang sempet lulus SMA. apakabar pelajaran biologi?), seenggaknya dia punya ibu. Nggak mungkin dong nggak punya ibu. Liat dong, bisa disejajarkankah kekuatan laki-laki dengan wanita? Emang kalo perempuan itu SANGGUP manggul beras, MESTI manggul beras? lah nggak kan...


Itu cuma satu dari sekian contoh lain yang mungkin pernah dialami perempuan-perempuan di luar sana. Kartini ya kartiniiii, emansipasi ya emansipasi. implementasinya mah nggak melulu enak.