About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

jejak tapak yang tampak

Rabu, 25 Februari 2009

.solo.

Sejumput sesal tiba-tiba datang
tak bisa ditarik mundur berbalik pergi
Aku sesak,sebab didesak
Aku lelah,ingin menghela

Tak perlu dua jika satu sudah lengkap
Tak perlu berlaga jika hanya berhenti pada itikad semata

Sia sia!!

Bolehkah aku meminta kesendirian saja?
Krena waktuku hampir habis
Sabarku makin terkikis
Melihatmu cuma terpaku,bergaya putri malu
Menungguku rontok satu per satu

Kamu pikir aku apamu?!

Benahi dulu sajalah otakmu yg beku
Baru cari aku
Tapi aku tak yakin punya waktu selama itu
Karena kini aku ingin berlari,
Bnkan duduk-duduk di tepi.

Minggu, 08 Februari 2009

MATI APA?


Mati itu ada berapa macam?
Satu? Dua? Tiga?
Seribu?
Sejuta?
Tak hingga?

Mati itu sebenarnya akhir dari hidupkah? Atau justru awal dari hidup? Atau keduanya?

Mati-Hidup-Mati

Hmmm…
Tergantung kita melihat titik permulaannya. Kalau mau dirunut, mati dan hidup itu siklik. Tak terpisah, tak terbelah.
Sesuatu yg hidup mungkin awalnya mati.
Sesuatu yg mati mungkin awalnya pernah hidup.



Soal kamu?



Kurasa awalnya kamu mati.
Awalnya tidak ada yang hidup dari kamu. Sampai entah kenapa, kapan dan bagaimana kamu melakukannya, kamu jadi hidup. Kamu yang di mataku dulu mati, bisa tiba-tiba hidup.
Dan jujur saja, aku senang dengan ke-hidup-an mu.
Ada rasa yang berbeda.
Animo yang berlompatan dan gelisah belingsatan yang—ternyata—menyenangkan
.

Sayang,
Tapi coba kamu lihat siklus itu : MATI-HIDUP-MATI.
Mau tak mau setelah kamu sempat hidup, artinya kamu mendekati fase yang satu lagi, Satu kali lagi : MATI.

Itu akan terjadi.
Mungkin cepat, mungkin lambat.
Tapi pasti.
Karena tak ada lagi animo berlompatan.
Sudah hilang gelisah belingsatan.
Auramu memudar.
Desir itu menyingkir.

Aku butuh goncangan.
Aku butuh getaran.
Pepatah bilang : ‘air beriak tanda tak dalam’
Apa berarti ketiadaan riak itu melukiskan kedalaman yang sangat dalam
Yang sanggup menenggelamkan?

Sepertinya iya.

Pun terjadi padamu.
Kamu membawa ini terlalu dalam, sampai tak ada sedikitpun riak bergolak.

Kamu pikir, kenapa orang lebih suka lautan?
Karena di sana ada ombak.
Ombak itu menggulung, berontak, berbahaya tapi sekaligus menyenangkan, menghibur, dan melenakan.
Kamu tau, kata orang diam itu memang menghanyutkan.
Tapi sayang, aku tak mau hanyut begitu saja.
Aku butuh menggeliat, bergerak, jika perlu menerjang ombak.

Hmmm…
Kamu tau?
Kurasa yang akan mati bukan kamu.
Aku rasa aku yang akan mati sebentar lagi.
Dan rasanya aku tau mati macam apa ini.

Rasa-rasanya aku mati rasa.

Rabu, 04 Februari 2009

Don't care.no more.

Bosen ah jadi stalker.
Mantau-mantau ky dtektif.Mending dtektif sh dbayar.Lah ini?GRATISAN!

Cukup deh,tararengkyu..
Udah g peduli deh
Mo di mana kek..
Mo ngapain kek..
That's not my business,man!

Bodo amat!
Peduli setan!

Makasi loh untuk kesenangan(sesaat)nya..

Ayo lah..
Ini sudah pagi,nak!
Bangun yuk! Masa mo sembunyi d balik selimut terus?


*maaf y, ini aga2 sarkastik.kasar.
Malas bermetafora..hehe..

Lalalalala
Dududududu
Pamparampampam,syalala

Minggu, 01 Februari 2009

merah-biru


Sore itu aku sedang duduk di sofa, di pojokan ruangan bernuansa minimalis berjudul kedai kopi di tengah kota. Di sini aku membuat janji bertemu dengan seseorang.
Jam di tanganku menunjuk waktu pukul 3 sore. Terlalu cepat setengah jam memang dari waktu janjian kami : setengah empat. Tak apalah di tempat ngopi seperti ini setengah jam tak akan terasa lama.

Sambil menunggu, aku memesan roti bakar coklat kacang dan cappuccino punch. Beruntung aku sedang bawa laptop, jadi kumanfaatkan saja wi-fi gratis di sini dengan tujuan mengusir bosan. Ternyata tujuan itu tak tercapai. Bari 5 menit aku mengotak-atik jaringan internet, aku sudah bosan. Bahkan salah satu site social networking online pun sudah terasa membosankan buatku. Tidak terlalu menarik lagi melihat orang-orang berganti status tiap menitnya.

Kusingkirkan laptop itu dari hadapanku, tapi kubiarkan ia tetap menyala dengan messenger yang juga online. Aku pasang ikon busy di status messengerku. Biarlah, daripada wi-fi nya nganggur kan mubazir. Lalu, kukeluarkan sebuah sketchbook dari tasku; Sebuah buku kecil berisi coretan gambar tanganku. Jujur, aku tak bisa menggambar, pun merasa tak berbakat menjadi artist, tapi bukan dosa kan seorang yang tak bisa dan tak berbakat menggambar menyukai aktivitas menggambar?! Jadi, inilah aku, di pojokan kedai kopi bertema café futuristik, dengan laptop yang menyala, dan tangan yang sibuk dengan pensil dan sketchbook. Kali ini, aku menggambar jembatan. Entah kenapa, tapi satu-satunya yang muncul di imajiku saat pensil ini bertengger di jari-jari tangan kananku adalah jembatan tua berbentuk hampir setengah lingkaran yang bolong di sana-sini. Warnanya merah dan biru.

Merah dan biru?

Sedikit tersentak, tiba-tiba kuingat sesuatu tentang merah dan biru. Sebuah memori yang pernah jadi serangkaian hari mendayu-dayu di masa lalu. Percaya atau tidak, masa lalu itu masih aku bawa sampai kini. Masa lalu itu ada di dalam organizer buluk, dalam tas yang ada di pangkuanku. Perhatianku yang awalnya pada laptop, lalu bergulir ke pensil dan sketchbook, sekarang beralih ke organizer buluk di tanganku. Perlahan kubuka organizer itu, kuselipkan jari-jariku di lipatan kulit organizer halaman paling belakang. Jari-jariku menggapai-gapai, mencari si merah dan biru. Di ruang yang sempit itu jari-jari ini merasakan merah-biru masih di sana. Ditariknya perlahan, sampai ia keluar, seperti bayi baru lahir. Sampai akhirnya tergeletaklah si merah-biru tepat di depan mataku. Sehelai foto berwarna, sebagian merah, sebagian biru. Foto aku dan kamu, dulu. Sebuah foto biasa, hasil editan kamu, sisi aku berwarna merah, sisi kamu berwarna biru. Padahal di foto itu kita bersebelahan, dalam satu tempat, begitu rapat, tapi terpisah oleh warna. Aku merah, kamu biru. Sesuai warna kesukaan kita masing-masing.

Tak sadar, sebelah bibirku naik, mengukir senyum kecil. Aku teringat waktu dulu kamu dengan bangganya memberikan foto ini padaku. Kamu begitu bersemangat dan menggebu-gebu. Bahkan aku ingat, kamu sempat bilang,
“Lihat! Bagus ya? Kamu kan suka merah, aku suka biru. Nih digabungin juga lucu, tetep nyambung. Padahal merah sama biru beda banget kan?”
Waktu itu aku bilang iya-iya saja. Waktu itu aku terlalu bisu untuk bilang jujur bahwa foto itu tak sebagus apa yang diekspresikannya. Waktu itu yang terpenting buatku adalah bahwa kamu sangat memperhatikan kesukaanku, sampai ke warna favoritku. Kamu dan aku sama-sama tak sadar bahwa diantara biru dan merah ada perpaduan keduanya yang berwarna ungu, terbentang antara kamu dan aku, antara merah dan biru. Walau tipis dan tak kentara, ungu itu tetap ada dan menjadi pembatas, antara merahku dan birumu di foto itu. Sangat analogis dengan cerita perpisahan kita, sangat representatif.

Mataku tiba-tiba beralih lagi ke laptop, seperti mulanya saat aku sampai di café ini. Sehelai merah-biru masih tergeletak jelas di meja itu. Sekarang tangan kananku dengan lincah berlarian di touchpad , membuka folder demi folder dalam harddisk laptop, sampai pada satu folder yang entah kenapa masih membuatku tegang saat membaca namanya : MERAH-BIRU.

Akhirnya setelah menarik oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-paru, kubuka folder itu. Folder berisi memori Si Merah dan Si Biru. Ada foto, ada tulisanku, tulisanmu, dan dokumentasi yang kalau dipikir-pikir sungguh tidak penting.
Dasar kurang kerjaan! Gerutuku dalam hati, yang berarti mengutuki diriku sendiri karena folder itu Aku dan Kamu yang menciptakan, dan bahkan masih kusimpan sampai kini.
Dulu kamu pernah bilang, walaupun merah dan biru terkesan berseberangan, itu justru bisa saling melengkapi. Merah yang mirip dengan api, biru yang mirip dengan air, bisa menjadi penyeimbang. Air bisa memadamkan api yang berkobar, dan api juga bisa menghangatkan air yang dingin.

Itu analogi kita.
Dulu.

Lagi-lagi tak sadar, aku tersenyum melihat foto-foto kita, membaca tulisanku dan tulisanmu. Ekspresi orang yang sedang madly in love. Saat kita belum sadar bahwa air dan api bukan hanya berseberangan, tapi juga berpotensi saling mematikan.

Tiba-tiba messenger-ku berkedip dan bersuara. Ada yang mengajak ngobrol rupanya. Si folder merah-biru kuminimize. Dan entah ini pertanda surga atau neraka, ternyata Kamu, Si Biru dari masa lalu lah yang mengajakku ngobrol lewat messenger itu. Di sana kamu cuma menuliskan tiga huruf :
feromon_yetganteng : Hai
Buru-buru kusingkirkan pikiran tentang ‘pertanda’ atau apalah itu.
Tenang, Saski…ini cuma kebetulan.
Kubalas sapaanmu itu tak kalah santai,
saskiashafrina : Hai juga
Dan obrolan kita berlanjut ke: apa kabar-lagi di mana-kerja di mana-bla bla bla. Lima tahun tak berkomunikasi membuat Aku dan Kamu agak canggung. Berusaha mencairkan kebekuan aneh ini, kita sempat membahas nickname messengger-mu yang tak cocok untuk lelaki seumurmu. Sampai akhirnya kamu bertanya alamatku sekarang di mana.
saskiashafrina : Masih di Bandung. masih yg dulu,heuheu..lupa alamatnya?
feromon_yetganteng : Nggak. Siapa tau udah pindah. Mmm…diboyong suami
gitu mungkin…
Sejenak aku terhenti, tapi cepat-cepat kujawab
saskiashafrina : Aku belum nikah, Fer.
feromon_yetganteng : Oh…Mmm…sebenernya aku tanya alamat kamu mau
ngirim undangan.

Lama aku diam. Sampai kamu tulis lagi,
feromon_yetganteng : Aku nikah bulan depan, Sas..
Buru-buru kukuasai diriku lagi. Untung ini di messenger, bukan telepon. Lebih mudah bagiku untuk pura-pura berekspresi.
saskiashafrina : Waah..slamet yaaa!! Sip sip aku pasti dateng :)

Dan setelah kamu selesai dengan tujuanmu ber-messenger denganku, kamu pamit. Sign-out. Tak sampai 3 detik kamu sign-out, aku pun melakukan hal yang sama.
Folder Merah-Biru di toolbar desktop aku restore lagi. Aku suntik kesadaranku dengan mereguk cappuccino punch banyak-banyak. Berharap sedikit kafein bisa menggedor-gedor kesadaranku kembali.
Tangan kananku mengklik kanan folder itu. Kursornya sudah menyorot ke arah ‘delete’. Akhirnya, sejurus kemudian kolom delete itu aku klik. Muncul pop-up bar :

Are you sure you want to delete this folder?

Ada dua pilihan : ‘Yes’ dan ‘No’.
Yang satu akan menghapus Si merah-biru dari laptop ini, yang satu akan membiarkannya tinggal bersemayam di sudut kecl terpencil di laptop ini.
Bimbang.
Sampai sepasang tangan mendekap mataku sesaat, lalu melepasnya lagi.
“Dor!! Serius amat?”
Gelagapan, aku memilih ‘No’ untuk pop-up bar tadi.
“Gak kok…gak pa-pa.” Aku senyum selebar-lebarnya.
“Lama nunggunya?”
“Nggak juga.”
“Bagi dong! Haussss…” si pemilik tangan yang tadi mendekap mataku dari belakang itu menyedot cappuccinoku sampai hampir bersisa hanya seperempatnya.

Kupandangi pria di sampingku ini lekat-lekat. Dia memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
“Kamu mau tambah lagi nggak?” tanyanya padaku saat pelayan sedang mencatat pesanannya.
“Nggak.” Jawabku tanpa mengalihkan titik pandang dari wajahnya.
Setelah pelayan itu pergi, dia balik memandangku tepat ke arah mata.
“Kenapa sih ngeliatin terus? Ganteng ya?”
“PEDEEEE BANGET SIH, KAAANGGGGG!!!!”
Lalu kami tertawa. Puas. Mataku tak lepas dari titik tadi.

Dia memang tidak seperti kamu, Fer. Dia tidak setipe denganmu. Berbeda di banyak aspek dan kualifikasi. Dan dia tidak suka biru.

Dia yang aku panggil kakang ini yang kupilih untuk mewarnai sisa hidupku kelak. Kusebut kelak, karena belum terjadi. Baru minggu depan dia akan melamarku secara resmi, pada ayah dan ibuku, ke keluarga besarku.

Karena Kakang, aku sadar, di dunia ini warna tidaklah hanya merah dan biru. Rasa tidaklah hanya manis dan pahit. Semesta bukan hanya langit dan bumi. Dia membuka cakrawalaku lebih luas, membiarkan aku terbang melihat segalanya dari atas tanpa harus selalu dia di sampingku, lebih bebas, tapi mengikatku dengan simpul yang tak kasat mata : CINTA.

Bulan depan, aku akan datang ke pernikahanmu dengan Kakang. Supaya Aku dan Kamu sama-sama sadar, bahwa kamu telah menemukan seseorang yang akan hidup dengan ke-biru-an-mu dan aku telah menemukan seseorang yang akan hidup dengan ke-merah-an-ku.

Tenang saja, memori itu masih di situ. Tak pernah kemana-mana. Karena pelangiku tak akan pernah lengkap tanpa ada birumu.



=for everybody who’s trying to move on=

Sabtu, 17 Januari 2009

script of mine

slamat malam hadirin hadirot
dari yg kurus sampai yg gembrot

kembali lagi bersama saya fenny putih-putih melati alibaba
dalam acara INSERT MALAM, mmmuuuahhh...

pada kesempatan ini saya akan mengupas tuntas, setajam SILET, semua kejadian dalam rangkaian acara kuliah kerja MIkrobiologi 2005 yang dlaksanakan pada tanggal 14 Januari hingga 23 Januari 2008 silam.

Kejadian-kejadian unik, penuh intrik, tapi sekaligus juga menggelitik akan kami hadirkan agar tidak menjadi KASAK KUSUK semata.


Kehidupan mahasiswa mikrobiologi yang berwarna-warni memang menarik untuk diperbincangkan.
Melalui serangkaian INVESTIGASI kami mendapatkan berbagai berita yang layak kami KABAR-KABARI karena kami KABAR-KABARI.

dan anda patut WAS-WAS jika belum menyaksikan video hasil rangkaian tim redaksi HOT SHOT bukan sembarang infotainment, karena video-video ini akan sangat terasa nyata dan menggugah memori anda.

Jangan khawatir mengenai keaslian video-video ini, karena sebelum kami mempublikasikannya ke hadapan anda, kami telah melakukan CEK N RICEK bersama pakar telematika Indonesia yang terkenal dan sedang naik daun seperti ulat....siapa lagi kalau bukan Roy Suryo.


Anda Penasaran?
Mari kita saksikan cuplikan video hari pertama kulker mikrobiologi 2005.

*sebuah script yang saya bacain pas acara reuni kulker..hoaaaaa*

Kamis, 01 Januari 2009

dua ribu sembilan (tengah malem rasis)

udah tanggal 2 aja. 2 januari 2009.
tapi masih brasa tanggal 1 sih, soalnya ini baru jam 1 pagi, itungannya udah masuk tgl 2.


wew..
Lama juga ya gw ga nulis-nulis di sini. Bukan kenapa-knapa sih, tp emang sibuk aja. Ini-itu, mikanal (mikrobiologi analitik plis, bukan mik-anal = anus kecil), udah mulai TA (coal coal merajalelasari) blah blah blah.. bikin ga sempet ngupdate blog ini. Yaaa...paling banter cuma nulis nulis notes di facebook doang. Itu juga updatenya pake hp.
Sok sibuk bgt ya gw?

Ih tapi beneran loh, aku ga boong.

sumpah, mas, aku ga boong!

samber geledek kalo perlu !

mas...
mas...
kamu percaya aku kan mas?

Ih kok jadi adegan sinetron indosiar gitu.
Pfueeehhhh
najis.

Anyway, di sini gw bukan mau ngebahas kesibukan gw yg maha membosankan bikin pengen mati aja itu. Mengingat tanggal 5 ntar ITB udah mulai masuk kuliah lagi dan langsung lanjutin UAS UAS yang belom (baca : sisa utang ujian), jadi gw memutuskan bahwa liburan akhir taun yang dikasi kampus slama 2 minggu harus gw manfaatkan sebaik-baiknya dalam suka dan duka, sehat dan sakit, kaya dan miskin,,,*skip. lebay mode ON harus direduksi*


Jadi intinya gw mau cerita apa sih?
Gini loh...sisa seminggu terakhir libur gw manfaatin salah satunya dengan main ke dufan. Sama siapa? Lengkap cuy, ibu-ayah-ade. eh ga lengkap deng, ade nya cuma satu : Nurul. kan ade gw ada dua, Nurul sama Ryan. Tapi berhubung si bungsu yg masi SD (Ryan) mesti ikut karyawisata ke museum Geologi plus kmanaaaa gitu lupa, jadi ya kita ke dufan berempat (ayah-ibu-gw-nurul).

Begini kronologis ceritanya, sodara sodara...

Pada awalnya kami tiba dengan bahagia. Keberangkatan dari bandung pukul 7 pagi adalah pilihan yang tepat sehingga sampai di dufan, kami tak menunggu lama dufan buka, karena memang sudah buka sebelum kami tiba (info yang tidak penting memang).
Lalu dengan semangat '45 nya kami ngantre minta cap ke mba-mba penjaga gate masuk. Hasrat hati ingin minta dicap di pantat, tapi karena repot akhirnya daku memutuskan supaya cap dufan itu berada pada punggung tanganku saja, seperti orang-orang biasa.
Lalu...


btw cape ah nulis kaya gitu. lamaaaa....brasa pidato bpak rektor yang terhormat.
lanjut pake bahasa normal aja yaa...


trus yah...
sebagai penggemar dufan, gw udah cukup hapal lokasi-lokasi wahana-wahananya.
Jadi, abis masuk gerbang tuh gw langsung ajak nurul cepet-cepet jalan ke arah halilintar (roller coaster). Sementara ibu sama ayah ngikutin kita di belakang. gw pikir ni wahana walo garing cuma bentar tapi ga afdol kalo ga dijajal. Ga sah ke dufannya gitu. Teu kaci kalo kata orang sunda. Pertimbngannya gw pilih ini untuk dinaiki pertama adalah karena waktu itu masih tergolong pagi (jam 11an) jadi antrian pasti ga terlalu dasyat dibanding kalo kita pending ampe nanti abis dzuhuran. Terbukti, ternyata antrian belom terlalu panjang. Malah kita sempet ngiterin besi-besi yg polanya kaya uler-uleran itu lebih dari setengah jalan.
Gara-gara ibu+ayah terlalu lelet (apa gw+nurul yg kecepetan kali), jadinya pas ngantri rollercoaster tuh gw+nurul kepisah sama ibu+ayah. Yaaa...cuma kepisah 5 orangan sih...

Nah, 5 orang ini tuh kan di belakang gw+nurul. Berhubung antrian kosong, salah satu diantara mreka tuh nyalip gw+nurul dgn cara loncatin palang besi uler-uleran itu loh...Ih, ga sopan amat ya!
Gw sama nurul awalnya sempet lirik-lirikan yang mungkin kalo ada mind-translator bisa disimpulin : 'ih, ga malu ya nyalip orang pake loncat palang'
Tapi kita berdua ga terlalu mempermasalahkan sih, toh ntar dia sendiri yang nggak nyaman, kepisah sama temen2nya di belakang kita. Terbukti, ga lama si cowo batak (iye, batak) itu mempersilakan gw+nurul duluan dan mundur ke kumpulan temen-temennya lagi.
'masi punya malu toh'

Ternyata eh ternyata,,ke-annoying-an si batak blom slese sodara-sodara. Stelah gabung sama temen2nya itu, buset dehhhh...itu ngobrolnya KENCEEEEEEEENGGG banget. Beberapa orang depan gw aja sempet nengok ke arah mereka. Mungkin dikira ada alarm pemadam kebakaran nyasar. Dan tau ga, apa yang diomongin? roller coaster.
sungguh sangat.....(aduh apa ya gw ga tau kata apa yang lebih tepat selain norak).
Masalahnya gini loh, yg diomongin sama si batak itu tuh gini :

Batak 1 : wooow...ini ni sistem semua ini! (nunjuk-nunjuk ke arah roller coaster dgn excited)
Batak 2 : iyaa, ini rumit ini sistemnya bergabung ini! (ngangguk-angguk)
Batak 3 : betul itu! betul! (nepuk-nepuk si batak 2)
Batak 4 : hmmm...(nerawang ke roller coaster. gatau mikir, gatau ngelamun jorok.)
Batak 5 : (ee di clana)
Ya nggak lah...mana gw tau si batak 5 ngapain. kan paling jauh di belakang mreka. Ini juga gw liat batak 1-4 sekilas lintas doang.


Rasanya pengen bilang 'aduh mas, nenek nenek jambrongan juga tau kalo roller coaster tuh PAKE SISTEM. alam smesta aja punya SISTEM, apalagi perangkat macem roller coaster! Ga perlu tereak-tereak gitu kaleeee...kita juga udah tau.'
Dan di roller coaster itu, grombolan mereka duduk di belakang seat gw+nurul. Tau ga? pas awal si kreta ini jalan, salah satu dari mreka (entah btak no brapa, yg jelas yg duduk tepat di belakang gw) sempet bilang : 'santai aja, santai..ga usah teriak-teriak berlebihan laahh' dengan logat khas batako (Batak). dan kenyataannya : ni orang di belakang gw teriak KENCEEEEEEEEEENGGGG BANGET naudubilah pas manuver kretanya ngejungkir.
O mai goat!



Seakan belom cukup interaksi gw dengan ras yang satu itu, ternyata pas ngantri wahana laen (extreme log--itu loh wahana 3D yg kursinya goyang juga), gw mesti berhadapan lagi dengan ras ini (batak). Malah dilengkapi ras satu lagi : tionghoa.
Jadi critanya gw ngantri wahana yang satu ini terpisah--lagi-lagi--sama ibu+ayah. Bedanya, sekarang si nurul juga kepisah dari gw. Jadi gw di depan, trus keselang beberapa orang (lumayan banyak deh, 10 orangan ada), baru tuh nurul+ibu+ayah. Mungkin karena napsu gw yg menggelora ya kalo liat mo ngantri, jadi ayah+ibu suka ketinggalan (maapin anakmu ini yaaa...hehehe).
Antrian di depan gw udah lumayan panjang waktu itu. Yaaa...200 orangan sih ada. Soalnya tempat ngantrinya aja udah di extend pake tambang (kaya ngantri TORNADO). Ya pokoknya gitu lah...estimasi gw bakal ngantri lebih dari 1 jam. Tapi gapapa abisan gw pengen aja masuk wahana ini.
Nah, depan gw kan si cina itu ya. Deskripsinya gini deh.. 1 bapak, 1 ibu, 2 ank (1 cewe-1 cowo),,, trus si ibu dan si anak cewe keluar dari antrian, beli popmie. Makan deh tuh orang berdua. Dari cara mereka ngomong, gw bisa tau bahwa mereka cina jawa. abisan...bledag-bledug gitu logatnya.
Sementara itu di belakang gw adalah keluarga batak (LAGI). kali ini ibu-ibu beserta anak-anaknya. Mungkin yaaa sepupuan ato gimana gw juga gatau (gmau ngurusin juga sih, hehehe). Interaksi pertama gw dengan mereka adalah karena salah satu ibu-ibu diantaranya nyolek gw. Bukan, bukan pelecehan seksual. Ini nyolek lengan gw biasa.

Si ibu batak (SIB) : Mbak, mbak beli karcis berapa lah ni harganya?
Gw : Waduh, gatau bu, yang beli ayah saya soalnya.
SIB : Bagaimana pula ini! Katanya yang karcis 120rb tak pakai antri. Heuuuhhh!!
Gw : Oh gitu ya bu? (berniat tidak memperpanjang pembicaraan)
SIB : Lah iya ini mbak,,ini lebih mahal ini kita!
Gw : yaelah, tapi kalo smua orang beliny yang itu ya antre juga kaleee tanteeee *dalam hati*
(ekspresi yg keluar cuma senyum)
SIB : Tak benar lah ini!

Gw mengerti kedongkolan si tante batak yang satu ini. Mungkin dia salah baca informasi. Atau mungkin salah menafsirkan promo yang memang kadang bias. Tapi gw cuma berspekulasi, toh gw juga gatau yang sebenernya gimana. Yang pengen gw protes sama tante ini adalah :
GA USAH MARAH SAMA GUE JUGA SIIIIHHHH...EMANGNYA GW YG NGATUR TIKET PLUS PROMO DUFAN?!

hadooohhh...


setelah 2 tahun 3 bulan mengantri...

ga deng, cuma 1 jam 10 menit..tiba-tiba si om-om cina di depan gw nilpun. Nilpun istrinya yang tadi makan popmie sama anaknya yg cewe.
Bapak cina (BC) : sini, Mih! Kita udah mau masuk ini!

berhubung gw ga bisa denger kan si ibu cina (IC) bilang apa di sebrang telpon sana, gw cuma bisa menghadirkan cuplikan dialog dari sisi Bapak cina (BC)

BC : gak pa pa, terobos aja!
BC : iya, aku udah deket-deket tadi itu loh yang mau akhir akhir.
BC : cepet yooo, Mih!

Dan gak lama, si IC datang dengan anak perempuannya.
Yg bikin gw amaze adalah, seingat gw tadi si IC ini pake baju kuning plus jeans sama spatu keds. Sekarang udah pake baju pink, legging, plus sandal bling bling. (khas cicih cicih abis).
Si IC ngolong-ngolong di antara palang-palang besi uler-uleran itu dan menghampiri suaminya.
Kebayang adegan pay su cen ketemu siluman uler putih ? yah...gitu lah..mirip-mirip.

Keluarga batak di belakang gw tampak agak irritated. iya juga sih..ya maksudnya gimanapun yang dari tadi ngantri depan mereka kan cuma si BC sama anaknya yg cowo. Skarang jadi tiba-tiba nmbah squad beserta istri dan anaknya yg cewe, yang jelas-jelas dari tadi gak ngantri.
Kalo gw mau tebel muka juga bisa gitu aja sih, suruh ibu+ayah+nurul yang berselang 10-orangan di belakang gw buat pindah ke posisi gw. Toh itu sama aja kan sama yg dilakuin si BC(bapk cina)+IC(ibu cina)+AC (anak cina). Tapi nggak layah..nehi.kluarga gw cukup beradab dan tau aturan.

Pas udah depan antrian banget (udah depan gerbang wahananya, tapi masih ngantri), kan ada bagian yang agak luas tuh (bukan lorong-lorong antrian). Nah, si AC (yang cewe dan yg cowo) tiba-tiba kluar dari antrian, lewat sela-sela palang antrian. Feel free, mreka atraksi. Apa coba? Kungfu dong di tengah situ. Sarap!

Dan belum cukup kelakuan AC bikin gw setres, eeehhh,,,AB (anak Batak) di belakang gw ikut bikin atraksi.
Bedanya, si AB-AB (2 cewe 2 cowo) ini ga kungfu (mungkin karena ga bisa), tapi mreka loncat-loncat nyanyi-nyanyi lagu RADJA plus KANGEN BAND.
astaganaga bonar jadi duaaaa!!!!!
tengkyuuuu euy bikin kuping gw ga sehat.
Bukan mau mengecilkan band yg lagi melejit itu sih...cuma ya gimana ya, ga suka.

Mungkin tuhan mendengar keluh kesah gw dalam hati, karena tiba-tiba aja si AC cowo kejeduk palang dan berhenti kungfu.
AC (anak cina) : papiiiiiiihhhhhhhh!!!!! (sambil megangin jidat)
BC (bapak cina): kamu sih, ga liat-liat!

Yaelah pak, kaya gatau aja,,,mata anaknya kurang lebar.

dan, lebih lengkap lagi krena si AB (anak batak) ditertibkan (kalo ga mau dibilang dimarahin) petugas yg jaga.


SUKUR.


gw memandang nanar ke arah ibu+ayah+nurul di belakang sana.
Eh, si nurul mah malah ngetawain. Dia ngerti penderitaan gw ngantri diantara dua jenis kelompok manusia yang agak-agak itu.

Tau gini gw ngantri di belakang aja deh sama kalian...



Anyway, extreme log nya bagus...
hohoho...
gak nyesel-nyesel amat ngantri ampir satu stengah jam..

Minggu, 02 November 2008

power of a song..

Lagu itu punya kekuatan tersendiri.
Percaya nggak?

Gw salah satu orang yang percaya.
Kenapa? Soalnya kadang satu lagu itu bisa nyimpen memori tersendiri tentang satu masa, satu waktu. Dan pas kita puter lagi lagu itu, nggak jarang kita jadi kepikiran zaman-zaman lagu itu booming, beserta kenangan-kenangan di dalamnya. Mungkin lebih ke kenangan ya yang bikin suatu lagu jadi spesial. Dengan siapa kita pernah punya memori sama lagu itu, apa yang pernah kita lakuin pas lagu itu diputer…bisa bikin seneng,,,bahagia..

Tapi posisi lagu itu di hati kita bisa aja bergeser. Maksudnya gini…mungkin satu saat kita seneeeenggggg banget sama lagu itu. Seneng karena udah mah lagunya enak, kenangannya juga indah. Super indah malah mungkin kalo mau berlebihan ngedeskripsiinnya. Tapi tapi tapi ketika yang indah-indah itu berubah sekedar jadi kenangan kosong-gak berarti apa apa lagi saat ini, maka bukan gak mungkin lagu itu jadi lagu yang kita benci. Yaaa…mungkin bukan benci gimana gimana sih, tapi feel yang keluar pas dengerinnya jadi laen aja. Dulu, denger lagu itu tuh bisa bikin nyengir 3 hari gak brenti brenti. Sekarang, denger intro-nya aja udah bikin lemes-boro boro bergairah. Mungkin karena sekarang lagu itu Cuma ngingetin yang DULU DULU PERNAH indah, dan udah NGGAK LAGI sekarang. Dan kita jadi sedih karena ternyata memori yang disimpen dibalik lagu itu sekarang hanya sekedar memori aja. Titik. Nggak lebih. Itu kali ya yang bikin si lagu jadi laen rasanya.



Bisa tebak gak gw lg denger lagu apa sampe nulis ginian?

Hahaha…
Ada deeehhhh…

Sabtu, 09 Agustus 2008

happy for you all guys

hari ini 9 Agustus 2008

yap yap yap
means kemaren adalah 8 agustus 2008 yang kalo ditulis dlam bentuk angka bagus banget : 080808..

dan pada tanggal itulah salah satu sahabat gw, thesa anggi aprilia pratiwi jadian sama hafiz. ya...semalam...
bahkan gw sempat bersmsan dan berYMan sama thesa.


DAN, gak berselang sampai sehari,,,sahabat gw yang satu lagi, Raden roro putri pramitasari jadian sama edo. Tanggal 9 agustus, jam 4 pgi.
lagi lagi gw menjadi 'saksi jauh' untuk kejadian itu.


I'm happy to see you happy, sist.,..

smoga gw cepat menyusul ya..

penunggang kuya gw dodol nih,,,leletnya amit amit..

hffiiuuuuihhhhhh